BERITAACEH, Banda Aceh | Alee tunjang merupakan salah satu alat musik tradisional khas pesisir Aceh jarang dimainkan dan dikhawatirkan akan punah karena tidak ada adalah regenerasi yang akan menerus. Namun seni ini akan ditampilkan pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke 8.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Almuniza Kamal, S.STP, M.Si melalui Kepala Bidang Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah menjelaskan, Alee Tunjang salah seni yang berasal dari Aceh Utara, sayangnya seni terancam punah, sebab banyak generasi Aceh Utara sedikit yang menggeluti seni tersebut. Namun pada PKA ke 8, Alee Tunjang salah satu seni daerah akan tampil.
“Pahal Alee Tunjang seni yang pernah tersohor di Aceh. Apalagi seni itu, berasal dari Aceh Utara,” tegas Nurlaila Hamjah, Kamis, 12 April 2023.
Menurut Nurlaila, Alee Tunjang salah merupakan kesenian tradisional kabupaten Aceh Utara. Alee Tunjang adalah permainan yang dilakukan secara kelompok setelah panen padi tiba.
“Alee Tunjang memiliki fungsi sebagai sarana hiburan, komunikasi, perlambangan, dan sosial,” unkapmya.
Persepsi masyarakat terhadap Alee Tunjang adalah bermacam ragam, karena penampilan Alee Tunjang pada syair menceritakan nasehat, sejarah, dan petuah-petuah.
“Syair dinyanyikan oleh pemain Alee Tunjang. Persepsi penonton terhadap penampilan Alee Tunjang terkait syair yang dibawakan, bahwa penonton menikmati sekali penampilan Alee Tunjang yang disajikan,”.
Bentuk dari Alee Tunjang, Alee adalah menunjang tinggi seperti galah, sedangkan lesungnya gelondongan batang kayu masing-masing memiliki kedalaman lubang berbeda-beda, sehingga apabila dimainkan menghasilkan suara yang berbeda-beda pula pada tiap lesungnya, ukuran lesung lebih kurang setinggi lutut orang dewasa.
“Cara bermain diletakkan di depan masing-masing pemain seperti menumbuk padi,” ungkapnya.
Dia menyebut, tidak banyak alee tunjang yang masih terawat di Aceh Utara, kesenian tradisi alee tunjang terancam punah karena hampir tidak ada lagi generasi penerusnya. Biasanya, mereka memainkan alee tunjang setelah masa panen di sawah.
“Kini sudah tidak pernah lagi. kesenian itu bisa dirawat oleh pemerintah dengan membentuk kelompok yang rutin memainkannya. “Jika tidak, kesenian ini akan punah,” Pungkasnya.
Nama Alee Tunjang.
Alee Tunjang adalah sekumpulan alu dan lesung yang dimainkan secara bersama-sama dengan cara menumbukkan alu di dalam sebuah ritmis yang sudah diatur sedemikian rupa untuk mengiring tarian yang berjudul sama.
Alee tunjang atau alu tunjang popular dan berasal dari pesisir Aceh, mempunyai sejarah panjang dan sudah lama dimainkan terutama di daerah-daerah pedesaaan.
Terdiri dari empat atau enam lesung yang mempunyai bentuk dan panjang alu yang berbeda, demikian juga dengan bahan pembuatannya yang berbeda untuk menghasilkan karakter suara yang berbeda pula.
Bentuk dari alee tunjang adalah alunya menunjang seperti galah, sedangkan lesungnya seperti gelondongan batangan kayu yang diletakkan vertikal, lebih kurang setinggi paha. Biasanya dimainkan oleh kaum wanita dan bisa juga campur antara laki laki dan wanita.
Komposisi atau letak susunan pemain alee tunjang terdiri dari 4 atau 5 perempuan masing-masing berdiri horizontal, lengkap dengan alun yang panjangnya sekitar 2,5 meter. Di belakang mereka diletakkan lesung dengan ketinggian dari batas kaki hingga sampai batas paha sekitar 70 cm.
Kepala ditundukkan sehingga mata dapat melihat sasaran lubang lesung, yang kemudian ditumbuk secara ritmik sesuai irama yang dikehendaki atau interlocking figuration. Gaya musiknya (degree of prominence) yang mempesona. Bila dibantu dengan alat musik lain, maka posisi alee tunjang berada di muka atau di depan.
Sejarah Alee Tunjang
Saifuddin, tokoh Budaya Aceh mengisahkan, Alee Tunjang itu memiliki sejarah histori, seperti yang dicerita orang-orang, ada seorang raja di daerah Buloh Blang Ara, Aceh Utara memperoleh seorang putra. Raja memanggil seorang ahli nujum untuk melihat bagaimana nasib sang pangeran nanti.
“Ahli nujum mengatakan bahwa kelahiran tersebut akan membawa mala petaka bagi negeri atau kerajaan tersebut,” cerita Saifuddin. Rabu, 12 April 2023.
Mendengar cerita itu Sambung Saifuddin, penuturan ahli nujum, raja memutuskan untuk membuang putranya jauh ke dalam sebuah rimba yang penuh dengan pepohonan rindang yang mempunyai akar tunjang, ada yang berpendapat di situ banyak batang yang rebah dengan akar tunjang di sana-sini.
Beberapa tahun kemudian, beberapa pencari rotan di hutan melihat ada seorang anak putra raja tersebut sedang bermain-main menumbuk batang kayu yang rebah dengan menggunakan akar tunjang. Ada juga yang mengatakan bahwa anak tersebut sedang asyik bermain dari akar tunjang yang satu ke akar tunjang lainnya, sambil memukul-mukul, dan menimbulkan suara atau ritmik yang berirama dengan tingkahan yang indah.
“Karena besar akar tunjang tersebut tidak sama, maka suaranya pun berbeda-beda dan sangat menarik,” ungkapnya.
Kemudian pencari rotan tersebut mendekati anak tersebut dan dibawa pulang ke rumahnya serta diasuh sebagai anaknya sendiri. Oleh anak itu permainan akar tunjang tersebut diteruskan di desa tempat tinggalnya yang baru itu bersama dengan anak-anak lain di sekitarnya.
“Dari kisah ini pula, lahirlah nama suatu alat musik tradisional yang disebut “Alee Tunjang” atau dalam bahasa Indonesianya adalah “Alu Tunjang”,”.
Bahan dan Bentuk
Alee Tunjang terdiri dari empat atau enam buah lesung yang masing-masing mempunyai alu atau galahnya sebagai penumbuk. Untuk satu set alu tunjang, memerlukan batangan gelondongan bak panah (batang nangka) dan bak mane.
“Agar tahan lama, batangan tersebut dipotong-potong sepanjang sekitar 70 cm dapat dan diawetkan dengan direndam di dalam lumpur,” jelanyas.
Setelah beberapa bulan direndam, batangan kayu kemudian diangkat, dibersihkan bagian luarnya dengan mengulitinya.
“Kemudian dihaluskan dan dibentuk bulatan pada bagian atas, seperti topi dan pada bagian badannya memanjang dibentuk sedikit bersegi dan diberi lubang seperti lubang lesung, tapi tak seberapa lebar dan dalam,” urainya.
Untuk membedakan karakter suara, ukuran kedalaman dan lebar lesung disesuaikan sesuai kebutuhan. Terakhir pembuatan ragam hias ukiran-ukiran yang indah pada bagian atas dan pada bagian badannya.
“Bentuk alee adalah menunjang tinggi seperti galah, sedangkan lesungnya gelondongan batang kayu masing-masing memiliki kedalaman lubang berbeda-beda, sehingga apabila dimainkan menghasilkan suara yang berbeda-beda pula pada tiap lesungnya, ukuran lesung lebih kurang setinggi lutut orang dewasa,” papar Saifuddin.
Cara Bermain Diletakkan di Depan Masing-Masing.
Permainan kesenlan alee tunjang ini, banyak unsur-unsur budaya yang terdapat didalamnya, tentunya unsur budaya tersebut mencerminkan kekhasan masyarakat Aceh yang syarat dengan nilai-nllai islam, apakah dalam formasi pemain, gerakan, syair dan kostum pemain.
“Sehingga lewat kesenian ini terbentuknya budaya kerjasama, gotong royong dan saling menghargai sesama pemain,” ungkap Saifuddin.
Alee tunjang menggunakan bahan baku dari kayu nangka dan batang mane untuk lesungnya (bahasa Aceh: leusong). Sedangkan untuk alu dibuat dari pelepah daun nira (bak jok) yang masih muda dan panjang alee mencapai 2-4 meter.
“Terdapat enam lesung pada musik alee tunjang, masing-masing lesung memiliki ukuran yang berbeda-beda,” Tambah Saifuddn.
Alee Berukir
Alee penuh dengan ukiran ukiran spesifik semacam hiasan urat-urat yang melingkar, dan ornamen-ornamen lain yang menarik dan mempesona. Lesung biasanya dibuatkan ukiran yang cantik dan spesifik Aceh berupa dimensi-dimensi lengkung dan motif seperti bunga-bungaan.
“Alee tunjang biasanya tidak dicat atau diwarnai, tetapi dipelitur dengan warna coklat tua ataupun dipernis, karena bahan kayu yang terpilih dari batang nangka atau bak mane biasanya lambat laun akan berwarna coklat dan kalau sering-sering dimainkan atau dipegang-pegang otomatis akan menjadi licin dan berkilat,” paparnya.

Adapun lesungnya terdiri dari, Lesung aneuk sempom satu buah dibuat dari bahan batang nangka. Lesung syup syup satu buah dari batang nangka atau bak mane. Lesung rempah bisa berjumlah dua buah atau tiga buah. Alu dibuat dari pelepah enau sebanyak dua tangkai dan dari jenis kayu yang lembut sebanyak dua tangkai.
“Perbedaan jenis bahan baku yang digunakan baik untuk lesung dan alunya, maka akan memberikan efek timbre suara yang berbeda-beda seperti Lesung dari batang nangka agak berbeda suaranya bila dibandingkan dengan lesung dari batang mane, begitu juga alu dari pelepah enau yang setengah kering berbeda pula dengan alu dari kayu lembut lainnya,” Urai Saifuddin.
Lesung rempah lebih rendah dan dangkal lubangnya bila dibandingkan dengan lesung aneuk seumpom dan lesung syup-syup.
Berbagai Fungsi
Alee tunjang memiliki fungsi sebagai sarana hiburan, komunikasi, perlambangan atau simbol, dan sosial. Alee tunjang dimainkan dengan menghepas/memukul alu ke dalam lubang lesung dan digunakan sebagai alat untuk alee tunjang dan mengatur ritmik para penyair wanita.
“Jumlah pemain alee tunjang terdiri dari 4 atau 5 orang wanita, dan bisa juga campuran antara laki laki dan perempuan. Ini tidak termasuk pemain/penyairnya yang juga wanita,” ungkapnya.
Disisi lain Tambah Saifuudin, biasanya ditampilkan sebagai hiburan sehabis panen di sawah, digelar di halaman terbuka atau di halaman rumah pada bila sedang purnama, atau dapat juga ditampilkan pada upacara-upacara tertentu apabila diperlukan.
Kisah atau syair-syair disesuaikan menurut tujuan pergelarannya. Ada yang berisi sejarah, nasihat turun-temurun, sampai ajaran agama. Ketika memainkan alee tunjang dalam pertunjukan biasa, para pemainnya hanya menggunakan pakaian sehari-hari.
“Tapi bila dalam pertunjukan khusus, haruslah dengan memakai pakaian adat Aceh,” ujarnya.
Pakaian Yang Digunakan
Tata busana untuk permainan kesenian alee tunjang ini menggunakan busana khas Aceh, baik bagi pemain laki-laki maupun pemain perempuan. Baju atau yang dikenakan pemain disesuaikan dengan acara dan tempat kesenian tersebut akan tampil.
Apabila kesenian ini ditampilkan di atas pentas maka busana yang digunakan berupa baju kemeja licin berwarna kuning, baju ini biasanya akan diberikan hiasan berupa sulaman motif Aceh berwarna kuning keemasan pada kerah dan pada ujung lengan baju dan baju yang dikenakan sama antara pemain laki-laki dengan pemain perempuan.
Namun apabila kesenian ini ditampilkan pada halaman terbuka atau untuk hiburan sesama masyarakat sekitar maka para pemainnya tidak memakai baju seragam tapi mereka hanya mengenakan pakaian sehari-hari.
Kain Songket
Kain Songket adalah salah satu kain yang digunakan pada saat permainan kesenian alee tunjang, kain songket dikenakan oleh pemain iaki-laki dan pemain perempuan. Kain songket Aceh ini merupakan kain adat tradisional masyarakat Aceh, kain ini biasanya dihiasi dengan sulaman benang-benang perak, sementara panjang kain songket ketika dikenakan yaitu sepaha pemain yang dipakaikan di luar celana dengan memasukan ujung baju bagian bawah ke dalam songket.
Tali Pinggang
Tali pinggang digunakan oleh pemain Iaki-laki dan pemain perempuan, tali pinggang berbahan dasar beludru warna hitam dan dihiasi oleh manik-manik yang berwarna kuning keemasan. Namun untuk tali pinggang perempuan disamping memakai manik-manik juga ditambah dengan sulaman.
Tali pinggang berfungsi untuk menguatkan kain songket dan juga untuk mempercantik busana yang dikenakan.
Hiasan Kepala
Hiasan kepala yang dikenakan oleh para pemain terbuat dari kain berwarna kuning keemasan, kain kepala ini Juga dihiasi dengan manik-manik di atasnya. Hiasan kepala ini diikat atau direkatkan pada peel untuk pemain laki-laki dan pada jilbab untuk penari perempuan. [ADV]
