News

Fidayani, Siswi SMAN 1 Krueng Barona Jaya yang Meraih Medali Perunggu Olimpiade CBP Rupiah 2026

IMG-20261018-WA0008
Ukuran Font
A A 100%

ACEH BESAR — Kebanggaan terhadap mata uang negara tidak selalu tumbuh dari ruang kelas ekonomi atau perbincangan para ahli keuangan. Bagi Fidayani, siswi SMAN 1 Krueng Barona Jaya, pemahaman tentang Rupiah menjadi bagian dari prestasi yang mengantarkannya meraih medali perunggu dalam Olimpiade Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah 2026.

Prestasi itu diraihnya dalam ajang yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh pada 17 Oktober 2026. Bagi Fidayani, pencapaian tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan pendidikannya sebagai pelajar di Aceh Besar.

Fidayani lahir di Aceh Besar pada 3 Oktober 2009. Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara, putri pasangan Khaidir Anwar dan Ellyta, yang tinggal di Desa Meunasah Manyang, Aceh Besar.

Di usianya yang masih 17 tahun, Fidayani telah menunjukkan bahwa pelajar daerah memiliki kesempatan untuk berprestasi melalui penguasaan pengetahuan dan kemauan untuk mengembangkan diri. Medali perunggu yang diraihnya bukan sekadar penghargaan dalam sebuah kompetisi, melainkan pengakuan atas pencapaiannya dalam ajang yang membawa pesan tentang pentingnya Rupiah bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Memahami Rupiah, Menumbuhkan Kebanggaan

Olimpiade CBP Rupiah mengangkat tiga nilai utama: cinta, bangga, dan paham terhadap Rupiah. Ketiganya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengenali uang kertas dan uang logam yang digunakan dalam transaksi sehari-hari.

Cinta Rupiah berkaitan dengan perilaku merawat dan menjaga uang agar tetap layak edar. Bangga Rupiah menumbuhkan penghargaan terhadap mata uang nasional sebagai salah satu simbol kedaulatan Indonesia. Adapun paham Rupiah berkaitan dengan kemampuan memahami fungsi dan peran uang dalam kegiatan ekonomi.

Ketiga nilai tersebut penting diperkenalkan kepada generasi muda. Di tengah kehidupan yang semakin digital, pelajar tidak hanya perlu memahami cara menggunakan uang, tetapi juga mengenali perannya dalam perekonomian dan tanggung jawab masyarakat dalam menjaga Rupiah.

Dalam konteks itulah, prestasi Fidayani memperoleh makna tersendiri. Ia tampil sebagai salah satu pelajar yang berhasil meraih penghargaan dalam kompetisi yang mengangkat literasi Rupiah.

Namun, capaian medali bukanlah satu-satunya hal yang patut diperhatikan. Kesadaran untuk mempelajari Rupiah juga menjadi bagian dari pendidikan karakter, terutama dalam membangun rasa tanggung jawab dan penghargaan terhadap simbol negara.

Kebanggaan Bagi Sekolah

Kepala SMAN 1 Krueng Barona Jaya, Ulfa Aini, S.Pd., M.Pd., menyampaikan kebanggaan atas pencapaian anak didiknya tersebut.

Menurut dia, keberhasilan Fidayani merupakan kabar menggembirakan bagi seluruh keluarga besar sekolah. Prestasi itu sekaligus menjadi dorongan agar para siswa terus mengembangkan kemampuan dan berani mengikuti berbagai kompetisi.

“Kami keluarga besar sekolah sangat bangga dan bersyukur atas prestasi gemilang yang diraih oleh siswi kami, Fidayani, di ajang Olimpiade Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah 2026 yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh,” kata Ulfa Aini.

Bagi Ulfa, pencapaian tersebut tidak semata-mata diukur dari medali yang dibawa pulang. Ada nilai yang lebih penting, yakni tumbuhnya pengetahuan dan kesadaran generasi muda terhadap Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara.

“Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian medali, melainkan bukti nyata bahwa generasi muda kita tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi serta kecintaan yang mendalam terhadap kedaulatan Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa sekolah memandang prestasi siswa tidak hanya dari hasil pembelajaran di kelas. Partisipasi dalam kompetisi juga dapat menjadi ruang bagi pelajar untuk memperluas wawasan, menguji kemampuan, dan memahami persoalan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.

Memantik Semangat Pelajar Lain

Ulfa berharap keberhasilan Fidayani dapat menjadi inspirasi bagi siswa lainnya untuk terus berusaha meraih prestasi.

Menurut dia, capaian tersebut diharapkan mendorong sekolah semakin konsisten melahirkan siswa berprestasi dalam berbagai bidang dan cabang perlombaan.

“Lebih jauh, kita semua berharap keberhasilan Fidayani menjadi pemantik semangat bagi siswa lainnya agar sekolah kita semakin konsisten melahirkan juara-juara baru di berbagai cabang lomba lainnya,” kata Ulfa.

Harapan itu menempatkan prestasi Fidayani bukan hanya sebagai pencapaian pribadi. Keberhasilannya juga menjadi momentum bagi sekolah untuk menumbuhkan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan potensi siswa.

Bagi seorang pelajar, mengikuti kompetisi dapat menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan sekaligus memperluas pengalaman. Penghargaan yang diperoleh pun dapat menjadi dorongan untuk terus belajar, tanpa berhenti pada satu keberhasilan.

Meski demikian, perjalanan prestasi seorang siswa tidak semestinya hanya dilihat dari medali yang diraih. Proses belajar, ketekunan, serta kemampuan mengambil pelajaran dari pengalaman juga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter generasi muda.

Lebih dari Sekadar Medali

Kisah Fidayani memperlihatkan bagaimana prestasi seorang pelajar dapat membawa pesan yang lebih luas. Dalam Olimpiade CBP Rupiah 2026, penghargaan yang diraihnya berkaitan dengan upaya menumbuhkan pemahaman tentang mata uang nasional di kalangan generasi muda.

Rupiah bukan sekadar alat pembayaran. Mata uang ini juga menjadi simbol kedaulatan negara dan bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia. Karena itu, pemahaman terhadap Rupiah penting dibangun sejak bangku sekolah.

Bagi Fidayani, medali perunggu tersebut menjadi catatan prestasi dalam perjalanan pendidikannya. Bagi SMAN 1 Krueng Barona Jaya, keberhasilannya menjadi sumber kebanggaan sekaligus dorongan untuk melahirkan prestasi berikutnya.

Sementara itu, harapan yang disampaikan kepala sekolah menunjukkan bahwa penghargaan terhadap seorang siswa dapat berkembang menjadi semangat bersama. Prestasi satu pelajar diharapkan membuka jalan bagi pelajar lainnya untuk berani mencoba, belajar lebih giat, dan mengembangkan kemampuan masing-masing.

Dari Aceh Besar, Fidayani memberikan gambaran tentang pentingnya ruang bagi pelajar untuk tumbuh melalui pengetahuan dan kompetisi. Medali perunggu yang diraihnya menjadi penanda keberhasilan, sekaligus pengingat bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan siswa yang unggul secara akademis, tetapi juga generasi muda yang memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia.