News

FKG USK Bangun Ekosistem Bisnis Akademik, Dekan Baru Siapkan Empat Unit Usaha Berbasis Riset

IMG_20260714_134533_514
Ukuran Font
A A 100%

BANDA ACEH – Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Syiah Kuala (USK) mulai menyiapkan langkah besar menuju kemandirian institusi. Di bawah kepemimpinan dekan baru, fakultas itu tidak lagi hanya menempatkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian sebagai mandat utama perguruan tinggi, tetapi juga berupaya mengubah hasil riset menjadi produk, layanan, dan kerja sama yang memberi nilai tambah bagi masyarakat sekaligus menopang pembiayaan akademik.

Transformasi tersebut menjadi agenda utama Dr. drg. Zulfan M. Alibasyah, Sp.Perio, yang dilantik sebagai Dekan FKG USK periode 2026–2031 pada Senin, 13 Juli 2026. Pada 100 hari pertama kepemimpinannya, Zulfan meluncurkan Dentistry USK Enterprise Initiative (DEI), sebuah strategi pengembangan fakultas berbasis inovasi, hilirisasi riset, dan kemitraan dengan dunia usaha.

Melalui program itu, FKG USK akan membentuk empat unit bisnis akademik, yakni Dental Continuing Education Center, Disaster Dental Center, Research Contract Unit, dan Digital Dentistry Center. Keempatnya dirancang menjadi pusat kolaborasi yang menghubungkan kampus dengan pemerintah, industri, organisasi profesi, rumah sakit, hingga mitra internasional.

“Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Kampus juga harus mampu melahirkan inovasi yang dimanfaatkan masyarakat dan menciptakan sumber pendapatan yang sehat untuk mendukung pengembangan akademik,” kata Zulfan, Selasa, 14 Juli 2026.

Menurut dia, selama ini banyak hasil penelitian dosen yang berhenti pada publikasi ilmiah. Padahal, riset di bidang biomaterial, kesehatan gigi, teknologi kedokteran gigi, hingga pemanfaatan biodiversitas Aceh memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk, jasa, maupun teknologi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan sektor industri.

Karena itu, Research Contract Unit akan menjadi pintu masuk bagi kerja sama penelitian dengan pemerintah dan dunia usaha. Unit tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan perolehan hak kekayaan intelektual, paten, serta mendorong lahirnya inovasi yang siap dihilirisasikan.

Sementara Dental Continuing Education Center diproyeksikan sebagai pusat pendidikan profesi berkelanjutan bagi dokter gigi melalui pelatihan berbasis kompetensi, termasuk penguasaan teknologi digital dan implant dentistry.

FKG USK juga membentuk Disaster Dental Center, yang akan mengembangkan kapasitas di bidang kedokteran gigi forensik, identifikasi korban bencana, serta pendidikan dan pelatihan kebencanaan. Program ini dinilai relevan dengan pengalaman Aceh yang memiliki sejarah panjang menghadapi berbagai bencana besar.

Adapun Digital Dentistry Center akan menjadi motor transformasi digital fakultas, mulai dari pengembangan layanan kesehatan gigi berbasis teknologi, digitalisasi proses pembelajaran, hingga inkubasi inovasi mahasiswa dan alumni.

Zulfan mengatakan seluruh program tersebut diawali dengan pembenahan tata kelola. Dalam 100 hari pertama, fakultas akan melakukan audit akademik dan organisasi, memperkuat sistem digital, memetakan kapasitas sumber daya manusia, serta menyusun model bisnis bagi setiap unit agar berjalan sesuai prinsip Good University Governance.

“Kami ingin membangun sistem yang kuat terlebih dahulu. Ketika fondasinya kokoh, unit-unit ini akan berkembang secara profesional, berkelanjutan, dan tetap menjaga integritas sebagai institusi pendidikan,” ujarnya.

Untuk mempercepat transformasi, FKG USK akan belajar dari sejumlah perguruan tinggi yang telah berhasil mengembangkan unit usaha akademik, di antaranya Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, serta Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Di saat yang sama, Zulfan membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya dengan pemerintah daerah, rumah sakit, industri farmasi, perusahaan alat kesehatan, BUMN, sektor migas, organisasi profesi, alumni, hingga lembaga pendidikan di kawasan ASEAN. Kerja sama tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk riset bersama, pengembangan teknologi, pelatihan, investasi fasilitas pendidikan, program magang, maupun penyerapan lulusan.

“Kampus harus menjadi mitra strategis pemerintah dan dunia usaha dalam melahirkan inovasi yang berdampak. Kami ingin membangun ekosistem yang mempertemukan ilmu pengetahuan, kebutuhan industri, dan kepentingan masyarakat,” kata Zulfan.

Melalui visi “Dentopreneur Unggul, Inovatif, Berdampak ASEAN”, FKG USK menargetkan lahirnya model pendidikan kedokteran gigi yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga menciptakan inovasi, memperkuat kemandirian institusi, serta memberi kontribusi terhadap pembangunan kesehatan dan ekonomi berbasis pengetahuan di Aceh maupun kawasan Asia Tenggara.