BERITAACEH, Banda Aceh | Rapai Pasee merupakan alat musik seni tradisional yang dimiliki oleh masyarakat pesisir Aceh dan sekitarnya, Nama Rapa’i, pada awalnya diambil dari nama belakang salah seorang ahli tasauf Ahmad Rifa’i yaitu orang yang di yakini sebagai pencipta alat music tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Almuniza Kamal, S.STP, M.Si melalui Kepala Bidang Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah, mengajak masyarakat secara bersama-sama untuk menjaga, merawat dan melestarikan Rapai Pase. ‘
“’Rapai (alat musik tabuh tradisional) Pase adalah salah satu warisan nenek moyang yang harus dilestarikan,” Rabu, 12 April 2023.
Nurlaila juga berharap pegiat seni rapai untuk memperkenal dan mengedukasikan warisan ini kepada generasi baru, sehingga rapai ini tidak hilang ditelan waktu. Apalagi, bahwa Rapai Pase sudah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Kemendikbud) RI di Jakarta.
Sertifikat tersebut diserahkan kepada atau diwakili grup Rapai Pase Raja Buwah beberapa waktu lalu. Dengan demikian, Kemukiman Buwah diusulkan menjadi tempat pusat pengembangan dan pusat kajian Rapai Pase.
Sementara pada awal nya, oleh Ahmad Rifa’i gendang rapa’i ini diberi nama dufun, kemudian oleh Syeikh Abdul Kadir Djailani sebagai orang pertama yang memperkenalkan gendang dufun pada masyarakat Aceh ini memberinya nama rapa’i sebagai upaya untuk mengenang penciptanya yaitu Ahmad Rifa’i.
Istilah Pasee adalah sebutan terhadap daerah Pasai, salah satu desa di Kecamatan Bayu Kabupaten Aceh Utara yang diberikan oleh masyarakat Desa Awe, yaitu tempat di mana gendang ini pertama sekali diperkenalkan. Pada saat sekarang ini gendang dufun lebih dikenal sebagai Rapa’i Pasee.
Pakar seni budaya wilayah Aceh utara Hasbullah menyebutkan, alat musik Rapa‟i Pase ini telah ada sekitar abad XIII seiring masuknya agama Islam di Aceh yang kemudian menjadi media dakwah dalam penyebaran Agama Islam dimasa kerajaan Islam pertama di nusantara yaitu Samudera Pasai yang dipimpin Raja Islam pertama yaitu Sultan Malikul Saleh di daerah Pasai (Pase, Aceh Utara) dan sekitarnya.
“Alat musik Rapa‟i ini merupakan hasil akulturasi budaya Islam yang masuk ke daerah Aceh sekitar abad XIII, yang dibawa oleh para ulama dan saudagar Islam dari Timur Tengah melalui jalur perdagangan dunia yang melintasi asia tengah dan selatan seperti Pakistan, India, dan sebagainya. Kemudian menjadi alat penyebaran Agama Islam diseluruh Aceh dan Nusantara,” Jelas Hasbullah, Rabu, 12 April 2023.
Pada awalnya terang Habullah, budaya alat musik Rapa‟I sebutnya lagi, dibawa oleh seorang ulama besar Islam Syekh Abdul Qadir Zailani. Beliau meneruskan ajaran Islam dari seorang ulama ahli tasawuf yang berasal dari Baghdad, Irak bernama Syekh Ahmad Rifa‟i yang kemudian ulama ini terkenal dengan aliran tasawuf„‟rifaiyyah‟‟.
Nama Rapa‟I sendiri diambil dari seorang ulama besar di Arab yang mensyiarkan Islam melalui dakwah. Hal ini dapat terlihat pada penyebaran Islam di kerajaan Islam pertama di Nusantara yaitu Samudera pasai yang berada di daerah Lhokseumawe Aceh bagian Utara, dengan rajanya yang bernama Sultan Malik Al- Saleh.
“Maka sebagai bentuk kebudayaan penyebaran Islam tersebut dinamailah Rapa‟i tersebut dengan nama Rapa‟i Pasee karena berada disekitar daerah pasee,dahulu terkenal dengan nama Samudera Pasai, sebuah kerajaan Islam pertama di Nusantara), sebagai media dakwah,” terang Hasbullah.
Rapa‟I juga dituliskan dalam beberapa karya Sastra Aceh yang dituliskan oleh beberapa ulama yang datang dan menetap di Aceh pada sekitar abad 16 dan Abad 17, salah satunya adalah ulama dan sastrawan besar melayu yaitu Hamzah Fansuri.
“Dalam syair teks ini mengandung makna bahwa Rapa‟i mempunyai peran yang sangat penting sebagai kesenian yang saat itu popular di masyarakat sebagai media dakwah syiar Islam yang menerangi masyarakat Aceh. pada saat itu berada pada masa kebodohan menjadi masyarakat yang cerdas dan menjadikan sebuah bangsa yang gemilang dengan sinar Islam,” urainya.


Pada abad 17 para ulama memilih cara berdakwah dengan bentuk kesenian dan menerapkan budaya Islam yang egaliter dan demokratis, hal ini menjadikan Agama Islam lebih mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat Islam di Aceh pada masa itu.
Bentuk Rapa’I Pasee
Rapa’i Pasee dibuat dari kayu yang keras biasanya dari batang Tualang, yang setelah dibulatkan lalu diberi lobang di tengahnya. Kayu yang telah diberi lubang ini disebut Baloh. Baloh ini lebih besar bagian atas dari pada bagian bawah. Bagian atas ditutup dengan kulit lembu sedangkan bawahnya dibiarkan terbuka.
Penjepit kulit atau pengatur tegangan kulit dibuat dari rotan yang dibalut dengan kulit (penjepit ini dalam bahasa Aceh disebut sidak.
Pola Main dan Notasi
Rapa‟i Pasee alat musik yang dimainkan secara berdiri dan masyarakat menampilkan Rapa‟i Pasee secara tunang atau Uroeh, yaitu lawan antara satu grup desa dan satu grup desa lainnya. Setiap satu grup atau lawan harus dapat bermain Rapa‟i Pasee ini dengan menghasilkan suara yang besar, membuat variasi pukulan dan dapat bertahan selama waktu yang ditentukan.
“Bentuk penampilan Rapa‟i Pasee pada sebuah pertunjukan terdiri dari jenis pukulan yang berurutan. Pemain Rapa‟i,” ungkap Hasbullah.
Rapa,I Pasee memainkannya sambil berdiri. Penampilannya dalam sebuah ansambel (grup) biasanya satu grup terdiri dari jumlah pemain terkecil 15 0rang dan terbesar sampai 60 orang. Pertunjukan Rapa‟i Pasee dalam sebuah grup mempunyai pembagian tugas dalam memainkan alat musik tersebut.
“ Rapa’I Pasee memainkannya sambil berdiri. Penampilannya dalam sebuah ansambel (grup) biasanya satu grup terdiri dari jumlah pemain terkecil 15 0rang dan terbesar sampai 60 orang. Pertunjukan Rapa‟i Pasee dalam sebuah grup mempunyai pembagian tugas dalam memainkan alat musik,” jelanya lagi.
Syeh
Sebutan untuk pemimpin grup Rapa‟i Pasee dan bertugas sebagai pemberi isyarat saat awal permulann lagu dan peralihan lagu satu ke lagu selanjutnya.
“Posisi berdiri syeh dibarisan paling depan,” paparnya.
Rando
Sebutan untuk pemain Rapa‟i Pasee yang bertugas memainkan pukulan dasar tanpa motif variasi. “Posisi berdiri rando ada disetiap baris,” jelasnya.
Canang
Sebutan untuk pemain Rapa‟i Pasee yang bertugas memainkan pukulan variasi atau motif berbeda dari pukulan dasar.
“Posisi berdiri canang dibaris kedua ditengah-tengah. Dari penjelasan diatas maka dapat dipahami bahwa syeh, rando dan canang untuk pemain Rapa‟i Pasee mempunyai peran,” cerita Hasbullah
Aturan-Aturan pada Pertunjukan Uroeh Rapa’i Pasee
Penyajian Rapa’i Pasee pada pertunjukan Uroeh memiliki ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan mengenai tata cara pada saat pertunjukan Uroeh Rapa’i Pasee berlangsung yang telah ditetapkan dan disepakati bersama diantara kedua kelompok, yang dilakukan sebelum pertunjukan Uroeh dimulai.
“Seperti dalam pertunjukan Uroeh Rapa’i Pasee, pada dasarnya terdiri dari dua kelompok, masing-masing kelompok yang terdiri dari paling sedikit 8 -12 awak rapa’i. Akan tetapi penyebutan Uroeh baru bisa dikatakan sebuah pertunjukan apabila masing-masing kuru terdiri dari 25-50 awak rapa’i. Jumlah awak rapa’i pada pertunjukan Uroeh juga sangat berpengaruh pada sebuah pertunjukan,” Urai Hasbullah.
Dalam pertunjukan Uroeh kata Dia, penempatan Rapa’i Pasee harus dalam posisi digantung dikarenakan ukuran Rapa’i Pasee yang besar sehingga tidak memungkinkan dimainkan dalam posisi duduk. Posisi Rapa’i Pasee yang digantung membuat suara yang dihasilkan menggema sehingga terdengar sampai ke desa-desa sekitarnya.
“Pada penyajian pertunjukan Rapa’i Pasee, pola permainan hanya dipimpin oleh seorang syeh yang diikuti oleh awak rapa’i pada masing-masing kelompok,” paparnya lagi.


Pola permainan Rapa’i Pasee sangat ditentukan oleh syeh yang memimpin jalannya sebuah pertunjukan Uroeh Rapa’i Pasee oleh karena itu seorang syeh harus peka terhadap setiap motif yang dibawakan oleh kelompok lawan Sehingga syeh mampu untuk terus mempertahankan pola permainan kelompoknya sendiri.
“Dalam pertunjukan Uroeh Rapa’i Pasee, penempatan irama pada umumnya dilakukan pada setiap perubahan dari motif lagu satu ke motif lagu yang lainnya. Akan tetapi juga dapat ditempatkan diantara bunyi Dum pada setiap motif atau lagu sebagai variasi pukulan karena dibawakan dalam jangka waktu yang lama,” jelanya.
Sambungnya lagi, pada saat pertunjukan Uroeh Rapa’i Pasee, penggunakan pukulan ditempatkan di bagian pertama pertunjukan Uroeh Rapa’i Pasee untuk membangkitkan semangat di awal pertunjukan. Biasanya kedua kelompok memukul rapa’i secara bersama-sama untuk membangkitkan semangat sepanjang pertunjukan Uroeh berlangsung.
“Selama pertunjukan Uroeh Rapa’i Pasee berlangsung setiap kelompok hanya menggunakan motif diantaranya: lagu sa, lagu dua, lagu lhee, lagu limong, lagu tujoh, lagu sikureung dan lagu duablah yang diulang-ulang dan divariasikan berdasarkan kesepakatan bersama diantara syeh dan awak rapa’i,” ulas Hasbullah.
Pada pertunjukan Uroeh, lagu-lagu yang dibawakan bisa saja tidak beraturan tergantung kesepakatan diantara dua kelompok sebelum pertunjukan Uroeh atau pada saat proses latihan. Penyajian lagu-lagu lain dapat juga dibawakan dan dibunyikan secara tidak beraturan, hal ini biasanya diciptakan oleh Syeh itu sendiri yang konteksnya lebih bersifat hiburan atau untuk menambah variasi lagu-lagu karena dibawakan dalam jangka waktu yang lama seperti pukulan ekstra.
“Penyajian pertunjukan Uroeh dibawakan dalam konsep tunang dengan kumpulan rapa’i yang dimainkan oleh dua kelompok oleh masing-masing awak rapa’i,” urainya.
Konsep tunang yang diterapkan di penyajian Rapa’i Pasee pada hakikatnya bukan mencari siapa pemenang dan siapa yang kalah diantara kedua kelompok (kuru) Rapa’i Pasee melainkan keahlian syeh dalam meminpin awak rapa’i dengan mempertahankan pola permainan dengan kemahiran menyesuaikan lagu-lagu yang di bawakan oleh masing-masing kelompok dalam penyajian pertunjukan Rapa’i Pasee, pungkasnya. (ADV)




