BERITAACEH, Banda Aceh | Seni Bakeutok adalah salah satu sejenis kesenian tradisional Aceh dalam bentuk cerita (sastra tutur) yang kini sudah punah dalam masyarakat Aceh, seiring hilangnya beberapa tukang cerita yang tidak meninggalkan generasi penerus.
Pada zaman dulu Seni Bakutok sangat digemari masyarakat, terutama di Aceh Utara dan Pidie. Seni cerita tutur ini berkembang di desa-desa, sarana atau panggung yang digunakan hanya Meunasah. Nazam yang diceritakan itu mengenai khazanah Islam, hingga sejarah dunia Arab dan timur Tengah.
Tokoh kebudayaan Aceh Tarmizi A Hamid, menceritakan, Seni Bakeutok dulunya pernah berkembang dalam masyarakat Aceh Pidie dan Aceh Utara. Di tahun-tahun 1970-an, seni Bakeutok ini termasuk seni tradisional Aceh yang sangat digemari masyarakat.
“Dan ketika itu tukang cerita Bakeutok ini pun tidak banyak, hanya satu dua orang yang pandai melakoni seni yang tergolong dalam sastra tutur ini,” paparnya, Rabu, 12 April 2023.
Sehingga tukang cerita Bakeutok dulu sering diundang dari satu kempung ke kampung lainnya, khusus menceritakan kisah-kisah zaman dulu (zaman agama tauhid masa Nabi Ibrahim) yang terjadi di Jazirah Arab jauh sebelum Islam diturunkan
“Sampai saat ini saya tidak menemukan makna yang jelas dari pengertian Bakeutok,” jelasnya.
Istilah Bakeutok ini berasal dari bahasa Arab, Sangskerta, atau dari bahasa Melayu yang di Acehkan. Juga tidak jelas mengapa jenis kesenian sastra tutur di Aceh ini dinamakan Bakeutok.
Bahkan nama orang yang pandai melakoni cerita dalam bentuk sastra tutur ini di kampung-kampung dulu juga dipanggil dengan nama Bakeutok.
“Kalau misalnya ia bernama Ibrahim, karena ia pandai menceritakan Bakeutok, maka semua orang mengenalnya Ibrahim Bakeutok, atau Bakeutok Brahim,” ungkapnya.
Sama halnya dengan Tgk. Adnan PMTOH, karena Tgk. Adnan lebih suka naik bus PMTOH kalau bepergian, maka nama bus itu dilekatkan orang pada nama Tgk. Adnan, sehingga orang memanggilnya Tgk. Adnan PMTOH. Dan karena Tgk. Adnan sendiri berprofesi sebagai seorang tukang cerita hikayat Aceh dalam bentuk gaya dan lakonnya tersendiri, maka seni cerita hikayat yang dilakoni Tgk. Adnan sebagai salah satu bentuk seni sastra tutur di Aceh kemudian dikenal dengan nama seni PMTOH.
“Jadi sejarah munculnya seni PMTOH dalam masyarakat Aceh bermula dari dari Tgk. Adnan yang suka naik bus PMTOH, yang kemudian kata PMTOH ini selain melekat pada nama Tgk. Adnan sendiri, juga menjadi nama salah satu seni tradisional Aceh yang dilakoni oleh Tgk. Adnan,” paparnya.


Ini adalah salah satu Meunasah yang berbentuk Rumah Adat Aceh. Meunasah ini dijadikan sebagai sarana kesenian Bakeutok di Aceh.
Sedangkan sejarah seni Bakeutok yang juga termasuk dalam jenis sastra tutur yang pernah berkembang dalam masyarakat Aceh belum ada yang mengetahui mengapa kesenian itu dinamakan Bakeutok.
Namun bila ditilik dari isi cerita yang dikisahkan dalam Bakeutok ini hampir sepenuhnya cerita sejarah kepahlawanan perjuangan penyebaran agama Nabi Ibrahim (sebelum Islam).
“Tokoh utama dalam cerita Bakeutok diperankan oleh dua tokoh, yaitu Saidina Hamzah (paman Nabi Muhammad) dan Umar Ruminyah sebagai sahabat dekat Saidina Hamzah,” paparnya.
Meski cerita Bakeutok ini di dalamnya banyak yang tidak masuk akal. Namun tak sedikit mengadung unsur mendidik, terurama dari segi pemahaman sejarah Islam.
“Karena semua seting cerita Bakeutok ini sepenuhnya cerita sejarah di Jazirah Arab dan sekitarnya pada masa-masa sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW,” ungkap Tarmizi.
Malah nama tempat dan lokasi kejadian dalam cerita Bakeutok ini oleh tukang cerita masih menggunakan sebutan nama-nama negeri lama di Jazirah Arab, seperti negeri Syam, Yaman, Rom, Meuse (mesir), dan lain-lain.
“Menariknya lagi, sang tukang cerita juga sangat pandai membuat alur cerita yang berliku-liku, sehingga para audien (pendengarnya) sepeti dibuai untuk tidak sabar mengetahui kejadian-kejadian selajutnya yang akan dikisahkan,” papar Tarmizi.
Namun yang membuat kita kesal, ketika alur cerita yang dikisahkan sudah pada adegan-adegan yang menengankan yang diperankan oleh tokoh-tokoh dalam cerita.
Bakeutok, yang membuat audien tak sabar untuk mengetahui kejadian apa yang bakal terjadi selanjutnya dari cerita itu, saat itu pula sang tukang cerita memotong ceritanya karena sudah laut malam, yang sambungannya akan diteruskan esok malamnya.
“Cerita Bakeutok ini kalau diceritakan dari awal sampai tamat, biasanya memakan waktu antara 7-10 malam berturut-turut, yang setiap malamnya dimulai dari habis Salat Isya sampai jam 2.00 Wib dini hari,” jelas Tarmizi.
Dalam sepanjang malam itu, para audien hampir tak henti-henti dibuat tertawa oleh tukang cerita, karena kerakter tokoh yang diceritakan itu sangat aneh-aneh, unik dan lucu-lucu.
Tingkat kelucuan tidak-tanduk dan tingkah-laku para tokoh yang berperan dalam cerita Bakeutok yang dicerikatan oleh tukang cerita dapat dibayangkan, cerita lucu yang satu belum habis kita tertawa, cerita lucu lain sudah menyusul setelah itu.
Sehingga bila kita mendengar cerita Bakeutok ini, kita hampir tak henti-henti dibuat tertawa semalam suntuk. Apalagi sang tukan cerita itu menggunakan bahasa Aceh yang sangat kental dan sarat makna, sehingga makna-makna kelucuan yang tersirat dalam bahasa itu terkadang kalau diingat-ingat kembali kita bisa tertawa sendiri.
Sayangnya, cerita Bakeutok ini sekarang tak ada lagi yang bisa menceritakan di Aceh, terutama di daerah perkembangannya di Pidie dan Aceh Utara.
Padahal Bakeutok ini termasuk salah satu seni sastra tutur yang harus digali dan dikembangkan kembali untuk kepentingan pendidikan sejarah Islam, sekaligus sebagai upaya pelestarian seni tradisional Aceh.
Meunasah di Aceh
Meunasah di satu sisi berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat masyarakat menegakkan syi’ar; Shalat berjama’ah, shalat tarawih atau bahkan shalat jenazah.
Namun lebih jauh daripada itu, Meunasah juga berfungsi sebagai tempat musyawarah, penyelesaian masalah, tempat pengajian baik anak-anak maupun orang dewasa, belajar seni seperti zikir, dala-il, muhadharah dan seni lainnya yang ada hubungan dengan ke-Islaman.
Dan kali ini saya juga menemukan fungsi Meunasah seperti yang terlihat dalam gambar di bawah; Meunasah menjadi tempat singgahan sementara (berkum
pul) rombongan Lintó Baró sebelum menuju ke rumah mempelai. (ADV)




