Daerah

Bicara Masa Depan Aceh Bersama Nezar Patria Wamen Komdigi di Halaman Jeda

IMG-20260907-WA0070
Ukuran Font
A A 100%

Banda Aceh — Halaman sebuah rumah pada Minggu malam (6/9/2026) berubah menjadi ruang perjumpaan pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan generasi muda untuk membicarakan masa depan Aceh.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi), Nezar Patria, hadir dalam forum Halaman Jeda dan berdialog dalam suasana sederhana tanpa sekat formal.

Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pimpinan dan akademisi perguruan tinggi. Dari Universitas Syiah Kuala (USK) hadir Wakil Rektor Dr. Ramzi Andriman, Dekan Fakultas Teknik Prof. Dr. Ir. Iskandar, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Dr. A. Sakir, Wakil Dekan Dr. Muhammad Abrar, Wakil Dekan Fakultas Teknik Prof. Dr. Ir. Sugiarto, serta Dr. Ir. Karam, ST, Mt, Ketua Departemen Teknik Mesin dan Industri.

Turut hadir dari Universitas Muhammadiyah, Dekan Fakultas Ekonomi Dr. Marlizar SE, MM; Ketua Harian Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi IKAFENSY Ir. Zubir Husen; Ketua ORGANDA Banda Aceh Fadli bersama sejumlah pelaku usaha; Ketua HMI Fakultas Ekonomi Teuku Ariel Hidayat; serta Ketua Umum PW PII Aceh Mohd Rendy Febriansyah.

Salah satu pembahasan utama adalah kesiapan Aceh menghadapi perubahan dunia melalui teknologi digital, kecerdasan buatan, kreativitas, dan talenta manusia.

Dialog juga menyoroti posisi geografis Aceh di Selat Malaka, yang secara historis pernah menjadi salah satu jalur perdagangan dunia dan menempatkan Aceh sebagai simpul penting jaringan perdagangan tersebut. Perubahan zaman kemudian menghadirkan pertanyaan baru: apakah posisi strategis Selat Malaka masih dapat digunakan sebagai kekuatan pengaruh Indonesia, khususnya Aceh, untuk menciptakan manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat.

Kapal dan pelabuhan tetap penting, tetapi perdagangan dunia semakin ditentukan oleh data, teknologi, inovasi, dan kemampuan manusia menciptakan nilai tambah.

Karena itu, pertanyaan bagi Aceh bukan hanya apa yang kita miliki, tetapi apa yang mampu kita ciptakan?

Kampus membawa ilmu, pemerintah membawa kebijakan, dunia usaha membawa pasar, sementara generasi muda membawa kreativitas dan keberanian. Jika kekuatan tersebut dipertemukan dalam sebuah ekosistem, Aceh memiliki peluang membangun kekuatan baru, bukan hanya melalui sumber daya alam, tetapi juga pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan produk bernilai tambah.

Nezar Patria selaku pembicara utama menyampaikan gagasan agar Selat Malaka kembali dipandang sebagai network dunia yang tidak dapat diabaikan, terutama untuk mendapatkan profit dan menciptakan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat Aceh.

Sejumlah saran peserta dalam dialog tersebut menjadi suplemen bagi Komdigi, khususnya melalui Nezar sebagai Wakil Aceh di kementerian ini.

Harapan yang mengemuka adalah adanya kebersamaan dan support system dari pemilik kebijakan untuk menatap Selat Malaka sebagai misi elektoral.

Keseriusan terhadap amanat perbincangan ini nantinya akan diuji melalui tindak lanjut nyata.

Halaman Jeda bukan sekadar ruang pertemuan, tetapi ruang untuk memulai percakapan lebih besar tentang bagaimana Aceh menggunakan sejarah, posisi geografis, sumber daya manusia, dan teknologi digital untuk membangun masa depannya.

Dari sebuah halaman rumah, percakapan itu dimulai. Berhenti sejenak. Berpikir bersama. Lalu bergerak untuk masa depan Aceh.