BERITAACEH, Banda Aceh | Cucu Sultan Aceh, Cut Putri, mengunjungi keluarga Kerajaan Patani di Thailand. Kunjungan Pemimpin Darud Donya Aceh Darussalam itu berlangsung beberapa hari, diawali pertemuan di Bangkok, dilanjutkan muhibbah langsung ke Patani, sampai Narathiwat.
Kunjungan Cut Putri untuk menjalin kembali silaturahim antara keluarga Kesultanan Aceh Darussalam dengan keluarga Kesultanan Patani Darussalam, dan juga untuk meneliti kembali sejarah besar Aceh di luar Aceh yang harus disatukan kembali.
Cut Putri turut berziarah ke kawasan-kawasan bersejarah antara Aceh Darussalam dengan Patani Darussalam.
Keluarga Kerajaan Patani sangat bahagia, mengapresiasi, dan menyambut baik kunjungan keluarga Kerajaan Aceh Darussalam.
“Ini adalah kunjungan resmi pertama sejak perang Aceh melawan Belanda 1873-1942 M. Setelah ratusan tahun terputus, silaturahim ini adalah awal era baru, dalam langkah untuk melindungi sejarah dan adat istiadat antardua kerajaan yang bersahabat selama ratusan tahun,” kata Cut Putri, Senin, 7 Agustus 2023.
Cut Putri merasa bersyukur dan berbahagia dapat menyambungkan kembali hubungan silaturahim antardua kesultanan besar. Selama perjalanannya, Tuan Putri Aceh Darussalam ini selalu dikawal dan didampingi langsung keluarga besar Kesultanan Patani.
Dalam kunjungan ke setiap tempat di Patani, Cut Putri mengaku disambut penuh hormat dan menyenangkan. “Ini membuktikan bahwa bangsa Patani adalah bangsa mulia yang religius, dan mempertahankan adat istiadat sejak era Kesultanan Patani di masa lalu,” ucapnya.
Beberapa tokoh besar Patani meninggalkan acara pentingnya, khusus untuk menyambut kedatangan keluarga Kerajaan Aceh Darussalam. “Ini adalah hal yang sangat membahagiakan dan bukti dekatnya hubungan antarkedua kerajaan,” ujar Cut Putri.
Cut Putri juga mengunjungi makam para ulama penyebar Islam di Patani. Penyebaran Islam dimulai sejak masa Syekh Said Basesa yang berasal dari Samudra Pasai. Setelah Kesultanan Samudra Pasai melebur menjadi Kesultanan Aceh Darussalam, dakwah Islam di Patani dilanjutkan Kesultanan Aceh Darussalam.
Selain berziarah ke situs-situs makam bersejarah para tokoh Aceh, para keluarga dua kerajaan itu juga mengunjungi bangunan-bangunan masa lampau di Patani, dan menemukan banyak bukti kedekatan hubungan Aceh dengan Patani.
Dalam pertemuan di Masjid Kerisik Patani, masjid tertua di Patani, Cut Putri bersilaturahim dengan Haji Abdul Aziz, yang telah menjadi imam di masjid itu selama hampir 34 tahun. Sebelumnya dia belajar di Makkah selama 17 tahun.
Haji Abdul Aziz menceritakan awal masuknya Islam di Patani. Sesuai Hikayat Patani, diceritakan bahwa Raja Paya Tu Naqpa adalah Raja yang pertama mendirikan Kerajaan Patani. “Paya Tu Naqpa awalnya adalah Raja yang menyembah berhala. Pada suatu ketika Paya Tu Naqpa sakit keras. Walaupun tabib terbaik seluruh negeri dipanggil, Raja tidak sembuh, malah sakitnya bertambah parah. Akhirnya Raja mengeluarkan sayembara, barangsiapa dapat menyembuhkan Raja, maka akan diangkat menjadi menantu”.
“Lalu datang lah seorang ulama asal Samudra Pasai yang mengajar di Patani, bernama Syekh Said. Syekh Said mengatakan siap menyembuhkan Raja namun menolak menjadi menantu Raja. Syekh Said hanya bersedia menyembuhkan Raja dengan syarat jika Raja sembuh maka Raja Paya Tu Naqpa masuk Islam. Raja Paya Tu Naqpa lalu bersedia,” tuturnya.
“Syekh Said menyembuhkan Raja Paya Tu Naqpa. Namun setelah sembuh Raja Paya Tu Naqpa ingkar janji. Dua tahun kemudian Raja Paya Tu Naqpa sakit kembali dengan sakit yang sama. Dipanggil kembali Syekh Said, dan Raja berjanji bersedia masuk Islam jika sembuh. Namun setelah sembuh, Raja kembali ingkar janji”.
“Setahun kemudian Raja Paya Tu Naqpa sakit lagi dan lebih parah dari sebelumnya. Raja kemudian mengirimkan utusan meminta Syekh Said untuk datang lagi mengobati Raja. Namun Syekh Said menolak datang. Karena Raja Paya Tu Naqpa sudah bersungguh-sungguh akan menepati janji, barulah Syekh Said bersedia datang. Setelah diobati Raja pun sembuh”.
Raja itu kemudian masuk Islam, beserta seluruh keluarganya. Para pembesar dan semua hulubalang dan seluruh rakyat juga mengikuti Raja, memeluk Islam.
Setelah Raja Paya Tu Naqpa masuk Islam, Syekh Said memberikan nama baru kepada Paya Tu Naqpa, yaitu Sultan Ismail Syah Zhilullah Fil Alam.
Sultan Ismail kemudian meminta agar ketiga anaknya juga diberikan nama. Syekh Said memberi nama anak pertama Raja dengan gelar Sultan Muzaffar Syah, anak kedua diberi gelar Raja Siti Aisyah, dan anak ketiga diberi nama Sultan Mansyur.
Syekh Said juga yang memberi gelar nama Patani menjadi Patani Darussalam. Artinya, negeri yang aman selamat sejahtera.
“Nama Syekh Said Pasai melegenda dan terkenal sebagai pahlawan besar Patani sampai sekarang, dengan nama Tok Pasai dari Aceh,” kata Cut Putri.
Pada masa pemerintahan Sultan Muzaffar Syah juga datang lagi seorang ulama dari Pasai yang bernama Syekh Safi’uddin, yang atas perintah Raja ia mendirikan masjid untuk orang-orang Muslim di Patani. Masjid itu bernama Masjid Kerisik, yang masih berdiri kokoh sampai hari ini.
Kedekatan Aceh dan Patani juga terlihat pada jenis nisan makam yang disebut Batu Aceh, yang menjadi nisan kubur Raja-Raja dan pembesar kerajaan di Patani. “Pada umumnya nisan kubur tersebut berbentuk menyerupai nisan kubur Sultan Malik as-Shaleh Pasai dan nisan-nisan batu Aceh dari sebelum abad ke-17,” ujar Cut Putri.
Sebelum tahun 1801 M, wilayah selatan Thailand merupakan wilayah Kesultanan Patani Darussalam (Patani Raya) meliputi Patani (Thailand bagian Selatan), Trengganu, Kedah dan Kelantan (Malaysia). Tahun 1909 M, wilayah tersebut dianeksasi Kerajaan Thailand. Penaklukan pertama Kerajaan Islam Patani oleh Kerajaan Thailand terjadi pada masa pemerintahan Rama III, yaitu tahun 1785 M di bawah pimpinan Wang Na Surasi. Sejak saat itu Patani dipaksa untuk tunduk di bawah Kerajaan Thailand.
Sebelumnya, selama ratusan tahun wilayah Kesultanan Patani Darussalam berada di bawah naungan Kesultanan Aceh Darussalam.
“Kesultanan Aceh yang saat itu menjadi Kesultanan terbesar dan terkuat di Asia Tenggara bahkan beberapa kali mengirimkan bala bantuan khusus untuk menjaga kedaulatan wilayah Aceh, yaitu Patani Darussalam, dari serangan pihak-pihak yang ingin memusnahkan Islam di sana”.
Sultan Aceh juga mengirimkan banyak ulamanya ke Patani. Begitu juga Patani banyak mengirimkan murid belajar ke Aceh. Mereka kemudian menjadi para ulama besar yang melanjutkan dakwah Islam di Patani Darussalam. Seperti Syekh Daud Bin Abdullah Al Fatani yang merupakan murid ulama Aceh Syekh Muhammad Zain Bin Syekh Faqih Jalaluddin Al Asyi. “Hingga kini, banyak keturunan Aceh yang beranak pinak membaur menjadi warga Patani,” kata Cut Putri.
“Keluarga Kesultanan Patani menyampaikan bahwa Patani sangat berterima kasih kepada Aceh yang telah membawa rahmat Islam masuk ke Patani, sehingga Islam menjadi agama mayoritas di Patani sampai seterusnya”.
Cut Putri berharap kunjungan silaturahim ini adalah tonggak awal terbinanya kembali hubungan persaudaraan antara Aceh Darussalam dengan Patani Darussalam.
Kunjungan tersebut juga telah melahirkan kesepakatan dan rencana-rencana kerja sama yang akan dilakukan bersama, dalam rangka membangkitkan sejarah besar hubungan antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kesultanan Patani Darussalam.
“Ke depan, insya Allah, banyak hal yang dapat kita kerjasamakan antara Aceh dan Patani, dalam rangka menemukan dan menyatukan kembali kepingan-kepingan sejarah antara Aceh dan Patani, dan semakin menguatkan lagi hubungan persaudaraan antarkerajaan Melayu. Semoga menjadi tonggak bangkitnya kekuatan Islam di alam Melayu Raya,” ujar Cut Putri.[](rilis)




