BERITAACEH, Banda Aceh | Bulan Rajab juga merupakan bulan ketujuh dalam penanggalan qamariyah. Kata “Rajab” diambil dari bahasa Arab yang artinya memuliakan dan mengagungkan.
Pada zaman ini, orang Jahiliyyah sangat mengagungkan bulan Rajab, mereka tidak membolehkan perang pada bulan tersebut. Penamaan bulan Rajab karena pada bulan tersebut mereka menahan diri untuk tidak melakukan permusuhan.
Menurut al-Syaikh Sayyid Bahruddin bin Abdurrazzaq Azmat Khan al-Hafizh, Rajab terdiri dari tiga huruf akronim yaitu: Ra’ dari kalimat rahmatullah (rahmat Allah), Jim dari kalimat jinayatul-‘abd (kesalahan hamba Allah), dan Ba’ dari kalimah birrullah (kebajikan Allah).
Bulan Rajab disebut juga dengan nama al-Summun artinya tuli. Tuli di sini bermakna tidak dapat mendengar bunyi senjata karena peperangan diharamkan sepanjang bulan Rajab.
Menurut Ibn Rajab al-Hambali yaitu seorang ulama Sunni, dinamakan bulan Rajab karena dia diagungkan atau dihormati. Jika dikatakan rajaba fulanun maulaahu (si fulan menghormati tuannya). Kaum jahiliyah sejak dahulu telah mengagungkan dan menghormati bulan ini.
Sebagian ulama berpendapat menurut Ibn Rajab al-Hambali bahwa bulan Rajab memiliki sekitar 14 nama dan sebagian lagi menyebut hingga 17 nama. Di antaranya adalah Rajab (mulia, terhormat, agung), Rajab Mudhar (sangat, lebih kemuliaan dan keharamannya), Munshil Asnah (melepas anak penah), al-Ashamm (tuli), al-Ashabb (mengena, mendapatkan),
Munfis (yang indah dan bagus), Muthahhir (mensucikan, membersihkan), Ma’la (tempat tinggi), Muqim (berdiam diri), Haram (lemah tua), Muqasyqisy (terpelihara), Mubri’ (bebas,
lepas), Fard (menyendiri), sebagaimana sebagian yang lain menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah).
Sejak dahulu, bangsa Jahiliyah telah mengagungkan bulan Rajab ini, khususnya kabilah Mudharr. Ibn al-Atsir dalam Al- Nihayah, berkata: “Di – idhafah – kannya Rajab kepada Mudharr, karena mereka sangat-sangat mengagungkannya (bulan Rajab) yang berbeda dengan lainnya. Seolah-olah mereka semata yang mengistimewakannya.”
Sejak dahulu pula, masyarakat Jahiliyah telah mengharamkan perang pada bulan itu sehingga mereka menamakan perang yang terjadi pada bulan-bulan tersebut dengan Harbul Fujjar (perangnya orang-orang jahat), mereka bersama-sama melakukan doa pada hari kesepuluh dari bulan itu untuk mendoakan keburukan bagi orang zalim, dan doa mereka dikabulkan.
“Sesungguhnya Allah membuat hal itu bagi mereka untuk mengekang sebagian mereka dari yang lain. Dan sungguh Allah menjadikan hari kiamat sebagai hari yang dijanjikan bagi mereka, sedangkan hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit,” kata Umar bin Khathab.
Mereka dahulu juga biasa menyembelih binatang sembelihan yang dinamakan al-Athirah, yaitu kambing yang disembelih sebagai persembahan bagi berhala-berhala mereka, sedangkan
darahnya dituangkan di atas kepala berhala itu. Lalu Islam membatalkan perbuatan itu berdasarkan riwayat Shahihain,“Tidak ada Fara’ (anak pertama dari unta atau kambing yang disembelih sebagai persembahan bagi berhala) dan ‘Athirah (hewan yang disembelih pada sepuluh hari pertama dari bulan Rajab sebagai persembahan bagi berhala, juga dikenal dengan Rajabiyah)”.
Sejarah Diutamakannya Bulan Rajab Terhitung ada delapan peristiwa sejarah Islam yang penting dalam bulan Rajab di antaranya adalah Isra Mi‟raj.
Sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dari Masjid al-Haram di Makkah menuju
Masjid al-Aqsha di Palestina, kemudian naik ke langit ketujuh dan menghadap Allah SWT sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. al-Isra‟/6: 1. Artinya: Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 27 Rajab pada masa kenabian Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itu, setiap tanggal 27 rajab, umat islam selalu memperingati Isra‟ Mi‟raj. \
Peristiwa Besar di Bulan Rajab
Pada tahun 9 Hijriah pada bulan Rajab terjadi peristiwa kemenangan militer Rasulullah dalam pertempuran Tabuk, dan menandai selesainya otoritas Islam atas seluruh semenanjung Arab. Meskipun menempuh perjalanan yang berat dari Madinah menuju Syam, 30.000 pasukan Muslim tetap memulainya.
Tentara Romawi yang telah berada di Tabuk siap untuk menyerang umat Islam. Tetapi ketika mereka mendengar jumlah dan kekuatan tentara Muslim yang dipimpin oleh Rasulullah mereka terkejut dan bergegas kembali ke Syam untuk menyelamatkan benteng-benteng mereka.
Hal ini menyebabkan penakhlukan Tabuk menjadi sangat mudah dan dilakukan tanpa perlawanan. Rasulullah menetap di tempat ini selama sebulan. Beliau mengirimkan surat kepada para pemimpin dan gubernur bawah kendali Romawi untuk membuat perdamaian. Pemimpin daerah Romawi menyetujuinya dan membayar Jizyah.
Perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis (Masjid al-Aqsha) ke Ka‟bah di Makkah, peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Rajab, setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Adapun hikmah dari perpindahan arah kiblat adalah untuk menguji keimanan umat islam dalam beribadah kepada Allah SWT
Peristiwa lainnya yaitu terjadinya perang pembebasan Yarussalem dari cengkraman tentara Salib Eropa yang telah memerintah selama hampir satu abad. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab tahun 1187 M yang di pimpin oleh
Salahuddin al Ayyubi. Penakhlukan ini bukan hanya karena pentingnya asasi Yarusalem dalam Islam, tetapi juga karena peran tentara salib dalam upaya untuk menaklukkan negeri- negeri Muslim.
Kekalahan bangsa Romawi di perang Tabuk. Perang yang terjadi pada 9 Hijriyah/630 M, merupakan perang yang menandai kemenangan dan dominasi islam atas seluruh semenanjung arab waktu itu. Walaupun menempuh perjalanan yang jauh dari Madinah ke Syam.
Pertempuran kecil antara utusan Rasulullah SAW “Abdullah bin Jahsy” dengan kelompok dagang kaum Quraisy. Pada bulan rajab juga terjadi peperangan kecil antara utusan Rosulullah SAW yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy, melawan kelompok dagang kaum Quraisy, yang kemudian menjadi sebuah perang yang disebut dengan perang badar.
Berabad-abad kemudian, tepatnya pada 1924 M, bulan rajab kembali menuliskan sejarah bagi umat Islam. Namun kali ini, tidak seperti peristiwa sebelumnya.
Sejarah yang terjadi pada 28 Rajab ini merupakan runtuhnya Khalifah Ottoman di Turki yang dihapus oleh Mustafa Kemal Pasha. Khalifah Ottoman merupakan khalifah terakhir umat Islam. Sejak saat itu, Mustafa Kemal mengubah Turki menjadi negara sekuler




