Headline

Gemuruh Takbir Menggema di Langit Banda Aceh, Ribuan Warga Sambut Idul Adha dengan Khidmat

IMG-20260526-WA0115
Ukuran Font
A A 100%

BANDA ACEH | Malam di Kota Banda Aceh terasa berbeda, Selasa (26/5/2026). Dari sudut-sudut jalan hingga pusat kota, gema takbir berkumandang bersahut-sahutan, mengalun syahdu menembus langit malam. Cahaya lampu kendaraan hias berpendar di tengah keramaian warga yang memadati tepian jalan, menyambut Pawai Takbir Keliling sebagai penanda datangnya Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Di tengah suasana penuh kekhidmatan itu, Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf, secara resmi melepas peserta pawai takbir keliling. Ribuan masyarakat turut menyaksikan iring-iringan kendaraan dan peserta yang membawa nuansa syiar Islam begitu kental di jantung ibu kota Serambi Mekkah.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, unsur Forkopimda Aceh, para kepala SKPA, alim ulama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, hingga berbagai elemen masyarakat yang larut dalam semangat malam takbiran.

Lantunan “Allahu Akbar, Allahu Akbar” menggema sepanjang rute pawai. Bukan sekadar tradisi tahunan, malam takbiran bagi masyarakat Aceh menjadi ruang spiritual yang menghadirkan rasa haru, syukur, sekaligus pengingat akan makna pengorbanan dalam ajaran Islam.

Dalam sambutan Gubernur Aceh yang dibacakan Sekda Aceh, disampaikan bahwa malam takbiran merupakan momentum syiar Islam yang sarat nilai spiritual dan pengagungan kepada Allah SWT melalui lantunan takbir, tahmid, serta tahlil.

Idul Adha, lanjutnya, bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, melainkan refleksi tentang keikhlasan dan kepatuhan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Semangat berkurban juga dimaknai lebih luas, yakni pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, serta kepedulian demi kemajuan umat dan daerah.

“Malam takbiran ini harus menjadi momentum syiar Islam yang berlangsung tertib, aman, damai dan penuh kekhidmatan,” demikian pesan Gubernur Aceh dalam sambutan tersebut.

Di Aceh, takbir keliling bukan sekadar arak-arakan kendaraan atau kemeriahan malam menjelang lebaran. Ia telah menjadi denyut budaya religius yang diwariskan turun-temurun. Anak-anak tampak antusias melambaikan tangan di pinggir jalan, sementara para orang tua larut dalam gema takbir yang membangkitkan kenangan masa lalu tentang suasana Idul Adha di kampung halaman.

Bagi banyak warga, malam takbiran juga menjadi momen berkumpul bersama keluarga sebelum pagi hari dipenuhi kesibukan penyembelihan hewan kurban dan silaturahmi. Aroma makanan dari rumah-rumah warga, suara beduk, dan gema takbir yang terus berkumandang menjadikan suasana Banda Aceh malam itu terasa hangat dan penuh makna.

Pemerintah Aceh juga mengajak masyarakat untuk terus memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah, serta menjaga persatuan dan kebersamaan dalam kehidupan sosial.

Di akhir sambutan, Pemerintah Aceh menyampaikan ucapan selamat menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Aceh. Harapannya, momentum hari raya kurban ini membawa keberkahan, mempererat silaturahmi, dan semakin menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai keislaman yang telah lama menjadi nafas kehidupan Tanah Rencong.