PIDIE JAYA – Hamparan sawah di Desa Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua Ulee Glee, Kabupaten Pidie Jaya, pernah menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana hidrometeorologi. Sekitar 30 hektare lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat tertimbun lumpur dengan ketebalan hampir satu meter.
Sawah yang dahulu menghijau dan menghasilkan padi berubah menjadi hamparan tanah mati, menyisakan kegelisahan bagi para petani yang kehilangan mata pencaharian. Namun, harapan ternyata tidak ikut terkubur bersama lumpur.
Perlahan, kehidupan kembali tumbuh. Di atas lahan yang sempat dianggap tidak lagi produktif, tanaman jagung kini menghijau membentang. Di beberapa petak lahan, kacang tanah ikut berkembang subur, menjadi bukti bahwa alam masih memberi ruang bagi masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan.
Perkembangan tersebut ditinjau langsung oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie Jaya, Muhammad Nur, saat mengunjungi lokasi pengembangan hortikultura pada Minggu (5/7/2026).
Pemandangan itu bukan sekadar keberhasilan menanam komoditas pengganti padi. Lebih dari itu, upaya tersebut menjadi simbol kebangkitan ekonomi masyarakat yang sempat terpukul akibat bencana. Di tengah keterbatasan, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya memilih bergerak cepat agar lahan yang rusak tidak dibiarkan terbengkalai.
Melalui Dinas Pertanian dan Pangan, berbagai komoditas hortikultura dikembangkan sebagai solusi sementara hingga sawah dapat kembali ditanami padi. Langkah ini diharapkan mampu menjaga produktivitas lahan sekaligus mempertahankan sumber pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.
Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, melalui Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Muhammad Nur, mengatakan proses pemulihan lahan pascabencana bukan pekerjaan yang mudah.
Kerusakan lahan yang cukup parah, ketebalan endapan lumpur, keterbatasan dukungan program, hingga panjangnya proses rehabilitasi menjadi tantangan yang harus dihadapi. Meski demikian, pemerintah daerah memastikan upaya pemulihan tidak akan berhenti.
“Selama sawah belum bisa kembali ditanami padi, kami akan terus mencari alternatif agar lahan tetap menghasilkan. Yang kami perjuangkan bukan hanya tanaman yang tumbuh, tetapi juga dapur petani agar tetap mengepul,” ujar Muhammad Nur.
Selain melakukan pendampingan di lapangan, Dinas Pertanian dan Pangan juga telah mengusulkan berbagai program rehabilitasi pertanian dan pemulihan ekonomi kepada Pemerintah Aceh maupun pemerintah pusat. Dukungan tersebut diharapkan dapat mempercepat normalisasi lahan sehingga sawah-sawah yang tertimbun lumpur dapat kembali menjadi sentra produksi pangan.
Sambil menunggu realisasi program tersebut, pemerintah daerah terus mengoptimalkan potensi yang ada melalui kolaborasi dengan penyuluh pertanian, kelompok tani, dan berbagai pihak terkait agar roda ekonomi masyarakat tetap berputar.
Kini, hamparan jagung yang tumbuh subur di Desa Babah Krueng bukan hanya menghadirkan warna hijau di atas bekas lumpur. Ia menjadi simbol ketangguhan masyarakat yang menolak menyerah pada keadaan. Dari lahan yang pernah dianggap kehilangan masa depan, harapan perlahan tumbuh kembali.
Pidie Jaya sedang membuktikan bahwa bencana memang dapat menghancurkan sawah, tetapi tidak pernah mampu mematahkan semangat petani untuk bangkit. Selama masih ada tekad, kerja sama, dan ikhtiar, tanah yang pernah terkubur lumpur pun dapat kembali menjadi sumber kehidupan dan harapan bagi ribuan keluarga petani.

