Kelompok Bilie Droe Pamerkan Karya di PKA ke-8

BERITAACEH, Banda Aceh – Kelompok Bilie Droe mampu menampilkan alat dapur, rumah tangga faision wanita, dengan hasil karya tangan. Bahan yang digunakan hanyalah hasil alam Aceh yang mudah didapat diseputaran rumah.

Kelompok Bille Droe ini berasal Desa Lampanah Teunong, Kecamatan Indrapuri Aceh Besar karya-karya bermacam corak ragam, yang paling di idam-idamkan oleh ibu-ibu rumah tangga, seperti Tampi, Tudung, dan tempat Tisu, dan berbagai model Tas yang dianyam dengan bahan Bemban (Bilie) dan rotan. Kini menghasilkan rupiah.

Usaha ini dilakoni sejak 1983. Kemudian tumbeh besar, mampu memasarkan diberbagai martket. Adapun bahan yang yang dirajut dari kulit tumbuhan Bemban dan Rotan, kemudian diolah menjadi berbagai aneka kerajinan tangan. Diantaranya seperti tas, tampi, tutup saji, tempat tisu, tempat air mineral hingga berbagai peralatan rumah tangga lainnya, hingga tampil di Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 di Pasar Tradisional dan Produk Budaya.

Usaha yang dirajut tangan itu mampu menakjubkan sejumlah pengunjung di arena Pasar Tradisional dan Produk Budaya. Bahkan para pengunjung kagum melihat kerajinan yang dirajut dengan tangan begitu indah.?

Ulfa Fitri selaku owner kerajinan Bili Droe yang juga anak Sri Mawarni mengatakan, kerajinan anyaman bili sudah ada sejak lama. Namun baru mendapat binaan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) pada tahun 1983.

Kelompok Bili Droe kemudian memasarkan kerajinan tangan tersebut secara offline maupun online. Pemasaran offline biasanya dilakukan dengan mengikuti pameran hingga bazar-bazar yang ada, sedangkan secara online, Ulfa mengaku mempromosikan barangnya melalui WhatsApp dan Instagram.

“Kalau melalui offline, ya kami mengikuti festival bazar, pameran gitu,” ujar Ulfa, Rabu, 8 November 2023.

Selain itu produksi Bili Droe juga kerap dipasok untuk Dekranasda Aceh Besar untuk kemudian diolah lagi dan dipasarkan ke luar Aceh.

“Pihak Dekranasda melakukan pengemasan beserta logo untuk dipasarkan,” katanya.

Ulfa mengatakan penjualan secara daring bahkan meningkat selama pandemi. Ulfa menyebutkan kerajinan dari bahan bemban ini menjadi daya tarik bagi mereka yang menghindari pemakaian sampah plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Selain bernilai seni, kerajinan bemban juga disebut tahan lama. Ulfa bahkan mengaku hasil kerajinan Bili Droe akan bertahan hingga dua tahun.

Sementara harga yang dibanderol beragam mulai dari 30 ribu rupiah hingga 700 ribu rupiah.

“Harga berdasarkan kerumitan dari produk itu sendiri, kalau yang kecil dan pembuatannya mudah, itu kami jual seharga 30 ribuan,” ujar Ulfa.

Riwayat PKA dari Masa ke Masa

PEKAN Kebudayaan Aceh (PKA) merupakan ajang perhelatan kebudayaan terbesar masyarakat Aceh untuk melestarikan nilai-nilai budaya, sejarah, dan adat istiadat Aceh yang telah diadakan sejak tahun 1958, 1972, 1988, 2004, 2009, 2013, 2018, 2023.

PKA I Tahun 1958

Satu tahun sebelum digelar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) untuk pertama kalinya pada 1957 terbentuk Lembaga Kebudayaan Aceh yang diketuai Mayor T Hamzah. Lembaga ini kemudian mempersiapkan pelaksanaan PKA I pada 1958.

Helatan yang digelar di Gedung Balai Teuku Umar Kutaraja pada 12-23 Agustus 1958 ini mengambil tema “Adat bak Poteumeuruhom, Hukom bak Syiah Kuala”. Nilai-nilai kebudayaan Aceh yang mengalami degradasi dari masa ke masa, digali dan diangkat kembali dalam pengelaran PKA pertama.

Satu hasil penting dari hajatan PKA I lahirnya “Piagam Blangpadang”. Isinya antara lain menghidupkan kembali adat istiadat dan kebudayaan Aceh dalam setiap gerak pembangunan Aceh dan masyarakatnya. Implementasi “Piagam Blangpadang” terus ditindaklanjuti hingga 14 tahun kemudian yang ditandai dengan penyelenggaraan PKA II.

PKA II Tahun 1972

PKA II berlangsung pada 20 Agustus- 2 September 1972. PKA II digelar sebagai upaya memelihara dan meningkatkan ketahanan nasional yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, bu-daya, militer, hankam, dan agama. Selain itu, PKA II juga membuka isolasi dan ketertinggalan daerah Aceh di segala bidang, terutama prasarana fisik, ekonomi, dan sosial budaya. Rangkaian acara PKA II diantaranya: pameran kebudayaan, pawai kebudayaan, seminar kebudayaan, pertunjukan adat, pementasan kesenian, perlombaan rakyat dan kunjungan wisata.

PKA III Tahun 1988

PKA-3 dilaksanakan pada tahun 1988, di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. Helatan periode ini menguatkan kembali nilai-nilai agama, tradisi, ideologi, ekonomi, pertahanan keamanan, dan sosial budaya masyarakat Aceh. Sederet topik terkait nilai-nilai tersebut di-diskusikan dalam seminar budaya dengan tema “Wajah Rakyat Aceh dalam Lintasan Sejarah”, “Hari Depan Kebudayaan Aceh”, “Identitas Kesenian Aceh di Tengah Pengembangan Budaya Modern” dan “Peranan Sastra Aceh dalam Sastra Indonesia”, dan lainnya.

PKA IV Tahun 2004

PKA IV dilaksanakan pada 19 – 28 Agustus 2004. Hajatan periode ini juga menandakan penetapan Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, sebagai venue utama pelaksanaan PKA. Sejumlah anjungan Kabupaten/Kota dibangun di Taman Sulthanan Safiatuddin. Rangkaian acara PKA IV antara lain: atraksi budaya, pasar seni, pameran buku, pawai budaya, dan kenduri massal. Helatan tahun ini berlangsung meriah dan cukup menarik antusiasme masyarakat Aceh untuk menyaksikannya.

PKA V Tahun 2009

Pelaksanaan PKA V menjadi titik kebangkitan kembali masyarakat Aceh setelah dilanda gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. Terlebih Aceh sudah menandatangani perjanjian damai RI dan GAM pada 2005.

PKA V digelar pada 2 – 11 Agustus 2009 di Taman Sulthanah Safiatuddin. Mengangkat tema “Satukan Langkah, Bangun Aceh dengan Tamaddun”. Kegiatannya antara lain parade budaya, gebyar seni, seminar budaya, aneka lomba permainan rakyat, dan expo.

Perhelatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta dan apresiasi masyarakat dalam mengaktualisasikan nilai-nilai budaya Aceh yang islami, melestarikan keragaman budaya dalam memperkokoh kedamaian yang abadi di Aceh, meningkatkan peran serta masyarakat sekaligus mempromosikan adat dan produk budaya maupun pariwisata Aceh.

PKA VI Tahun 2013

PKA VI diselenggarakan pada 20-29 September 2013 di Taman Sulthanah Syafiatuddin. Mengangkat tema “Aceh Satu Bersama”, perhelatan kali ini ingin membentuk kepribadian masyarakat Aceh yang lebih berbudaya, juga untuk menumbuhkan pemahaman, pengamatan, dan pelestarian nilai budaya daerah yang lebih luhur dan beradab untuk mengangkat harkat dan martabat manusia yang dijiwai oleh nilai-nilai agama.

Rangkaian kegiatan antara lain; pawai budaya, pameran, anugerah budaya, gebyar seni, temu budaya, lomba permainan rakyat, Aceh satu dalam sejarah, dan atraksi budaya.

PKA VII Tahun 2018

PKA-VII digelar pada 5-15 Agustus 2018, di Banda Aceh, dengan tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat”, karena kebudayaan Aceh sangat identik dengan nilai-nilai syariat.

Religi telah menjadi fokus kebudayaan Aceh sejak Islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui daerah Aceh. PKA-VII diisi dengan berbagai kegiatan antaranya pawai budaya, pameran dan eksibisi, lomba atraksi budaya, festival seni dan budaya, seminar kebudayaan dan kemaritiman, serta anugerah budaya.

PKA VIII Tahun 2023

PKA VIII akan dilaksanakan pada tanggal 04 – 12 November 2023, lokasi pelaksanaannya di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh. Mengangkat tema “Jalur Rempah” dengan tagline “Rempahkan Bumi Pulihkan Dunia”.

Dengan berbagai rangkaian kegiatan antara lain: pawai budaya, pameran sejarah jalur rempah, festival busana, festival kuliner, pertunjukan dan lomba seni budaya, pertunjukan dan lomba adat budaya, aneka lomba permainan rakyat, seminar internasional, dan business matching. (ADV)