News

Ketua DPRK Banda Aceh Minta PLN Siapkan Pembangkit Khusus untuk Hadapi Kondisi Darurat

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh Irwannyah ST menerima kunjungan silaturahmi dari manajer PLN UP3 Banda Aceh, Sabang, dan Aceh Besar
Ukuran Font
A A 100%

BANDA ACEH – Pemadaman listrik berkepanjangan yang terjadi setelah bencana di Aceh menjadi catatan bagi Kota Banda Aceh. Meski ibu kota provinsi itu tidak mengalami banjir bandang seperti sejumlah daerah lain, terganggunya pasokan listrik ikut melumpuhkan berbagai aktivitas warga.

Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah ST, meminta PT PLN menyiapkan langkah mitigasi agar kondisi serupa tidak kembali terjadi. Salah satu usulan yang disampaikannya adalah mengoptimalkan PLTD Lueng Bata sebagai pembangkit penyangga bagi Banda Aceh ketika terjadi kondisi darurat atau bencana.

Hal tersebut disampaikan Irwansyah saat menerima kunjungan silaturahmi Manajer PLN UP3 Banda Aceh, Sabang, dan Aceh Besar yang baru, Husni, beserta jajaran di ruang kerjanya, Jum’at 4 September 2026.

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi DPRK Banda Aceh dan PLN untuk mengevaluasi kondisi kelistrikan, khususnya pengalaman saat pemulihan pasokan listrik setelah bencana.

Irwansyah mengatakan pembicaraan dengan jajaran PLN tidak hanya menyangkut kondisi kelistrikan saat ini, tetapi juga langkah antisipasi agar gangguan sistem kelistrikan tidak kembali memberikan dampak besar terhadap kehidupan warga.

Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada PLN apabila selama masa bencana sempat menyampaikan kritik secara terbuka. Menurut dia, sikap tersebut muncul dari kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang terdampak gangguan listrik.

“Di sisi lain saya juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja seluruh tim PLN Aceh dalam menormalisasi pasokan listrik pascabencana,” kata Irwansyah, Jumat, 4 September 2026.

Listrik Padam, Aktivitas Kota Terganggu

Menurut Irwansyah, bencana tersebut memberikan pelajaran penting bagi semua pihak, termasuk PLN, mengenai pentingnya sistem kelistrikan yang memiliki cadangan ketika jaringan utama mengalami gangguan.

Ia menyoroti dampak robohnya tower interkoneksi di wilayah lain yang menyebabkan pasokan listrik ke Banda Aceh terganggu dalam durasi cukup lama. Kondisi itu menunjukkan bahwa gangguan pada infrastruktur kelistrikan di luar kota dapat berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat di ibu kota provinsi.

“Meskipun Banda Aceh tidak mengalami banjir bandang, tapi kelumpuhan listrik cukup membuat susah warga kota,” ujarnya.

Gangguan listrik, kata dia, kemudian beririsan dengan persoalan lain yang muncul dalam situasi bencana. Kelangkaan LPG, operasional sejumlah SPBU yang terganggu hingga menimbulkan antrean panjang, serta gangguan pasokan air bersih membuat dampak yang dirasakan masyarakat menjadi lebih luas.

Karena itu, Irwansyah menilai ketahanan energi perlu menjadi bagian dari mitigasi bencana perkotaan.

“Oleh karena itu, kami berharap fungsi PLTD Lueng Bata dapat dioptimalkan sebagai penyangga utama energi kota masa darurat atau bencana,” ujar dia.

Menurut Irwansyah, keberadaan sumber pembangkit yang dapat diandalkan ketika sistem interkoneksi terganggu penting untuk menjaga layanan dasar kota tetap berjalan, terutama pada kondisi darurat.

Dorong Bantuan Meteran Listrik

Dalam pertemuan itu, Irwansyah juga menyampaikan peluang kolaborasi PLN dengan masyarakat melalui program bantuan sambungan atau meteran listrik bagi warga kurang mampu.

Ia mengatakan PLN memiliki potensi menjalankan program sosial dengan memanfaatkan dana atau zakat karyawan untuk membantu rumah tangga yang memenuhi kriteria tetapi belum memiliki meteran listrik.

“Jadi warga Banda Aceh jika memang ada rumah tinggal yang memang layak dibantu yang saat ini masih belum ada meteran listriknya bisa lapor ke saya. Insyaallah kita advokasi untuk bisa dibantu oleh pihak PLN,” ujarnya.

Menurut dia, bantuan tersebut dapat menjadi salah satu bentuk kehadiran PLN di tengah masyarakat, khususnya bagi keluarga yang masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses layanan kelistrikan.

Sementara itu, Manajer PLN UP3 Banda Aceh Husni menyampaikan apresiasi atas sambutan Ketua DPRK Banda Aceh. Ia mengatakan dirinya siap menjalankan tugas sebagai pimpinan PLN UP3 Banda Aceh sekaligus membangun komunikasi dan kolaborasi dengan DPRK.

Husni berharap kerja sama antara PLN dan DPRK dapat terus diperkuat untuk menghadirkan pelayanan kelistrikan yang memberikan rasa nyaman dan tenang bagi masyarakat.

Ia menilai kelistrikan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan aktivitas ekonomi dan rumah tangga, tetapi juga menunjang berbagai aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat.

Pertemuan tersebut menjadi awal komunikasi antara pimpinan baru PLN UP3 Banda Aceh dengan DPRK Banda Aceh. Kedua pihak berharap koordinasi dapat terus dilakukan, terutama dalam menghadapi kondisi darurat, meningkatkan pelayanan kelistrikan, serta memperluas manfaat program sosial bagi masyarakat Kota Banda Aceh. [adv]