News

Santri Merawat Jejak Islam 800 Tahun Samudera Pasai

whatsapp_image_2026_09_10_at_16_43_07_11
Ukuran Font
A A 100%

ACEH UTARA — Di kawasan Landing, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, sejarah Samudera Pasai tidak hanya hadir melalui cerita tentang masa lalu. Di antara hiruk-pikuk peringatan Milad Samudera Pasai ke-800, para santri tampil membawa pesan bahwa warisan Islam dan budaya itu masih hidup dan terus diwariskan.

Kehadiran mereka terlihat dalam berbagai kegiatan bernuansa religi dan edukatif. Pameran kreativitas santri, pembacaan Dalail Khairat, pentas seni Islami, hingga penyajian informasi mengenai pendidikan dayah menjadi bagian dari rangkaian kegiatan di kawasan pameran.

Para santri tidak sekadar ikut memeriahkan peringatan delapan abad Samudera Pasai. Mereka memperlihatkan bagaimana pendidikan dayah tetap menjadi salah satu ruang penting dalam menjaga tradisi keilmuan Islam, adat, dan nilai-nilai budaya di Aceh.

Istri Bupati Aceh Utara, Ny. Musliana Ismail, melihat langsung aktivitas tersebut saat meninjau stan Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Utara di kawasan pameran Milad Samudera Pasai ke-800, Kamis, 10 September 2026.

Musliana mengapresiasi partisipasi aktif para santri dalam menyukseskan peringatan tersebut. Menurut dia, santri memiliki peran strategis sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam yang selama ini menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh, khususnya di wilayah Pase.

“Para santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga dan meneruskan nilai-nilai yang diwariskan para ulama terdahulu. Kehadiran mereka dalam Milad Samudera Pasai menunjukkan bahwa warisan tersebut masih hidup, terpelihara, dan terus berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.

Bagi Musliana, keterlibatan santri juga memiliki makna yang lebih luas. Milad Samudera Pasai ke-800 menjadi ruang untuk mempertemukan generasi muda dengan sejarah daerahnya.

Semangat itu sejalan dengan tema peringatan, “Tajaga Adat Peukong Syariat.” Tema tersebut menggambarkan hubungan erat antara adat dan syariat yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Musliana berharap generasi muda dapat mengambil pelajaran dari semangat belajar, kedisiplinan, dan pengabdian para santri. Pembangunan daerah, kata dia, tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga pada kualitas karakter serta moral generasi penerus.

“Pendidikan dayah telah melahirkan banyak generasi yang berkontribusi bagi daerah. Karena itu, keberadaan santri harus terus mendapat dukungan agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi jati diri masyarakat Aceh,” katanya.

Menghubungkan Generasi dengan Sejarah

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Utara, Tgk. Muhammad Yunus, S.Hi., mengatakan keterlibatan santri dalam Milad Samudera Pasai ke-800 merupakan bentuk nyata komitmen generasi muda untuk menjaga warisan Islam dan budaya yang ditinggalkan para pendahulu.

“Keterlibatan para santri dalam Milad Samudera Pasai ke-800 menjadi bukti bahwa generasi muda Aceh Utara memiliki komitmen kuat dalam menjaga warisan Islam dan budaya. Melalui berbagai kegiatan yang ditampilkan, para santri tidak hanya memperlihatkan kemampuan keagamaan, tetapi juga menunjukkan kreativitas, kedisiplinan, serta semangat melestarikan nilai-nilai budaya daerah,” ujar Muhammad Yunus.

Menurutnya, Milad Samudera Pasai tidak semestinya dipahami hanya sebagai perayaan sejarah. Peringatan delapan abad tersebut juga dapat menjadi ruang edukasi agar masyarakat kembali memahami posisi Samudera Pasai dalam perjalanan sejarah Islam di kawasan Nusantara.

“Melalui momentum ini, kami ingin menghadirkan kegiatan yang mampu menghubungkan generasi muda dengan sejarah daerahnya. Santri menjadi bagian penting dalam upaya tersebut karena mereka merupakan penerus yang akan menjaga kesinambungan adat, budaya, dan syariat Islam di Aceh,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, kata dia, akan terus mendukung berbagai program yang melibatkan dayah dan santri. Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang religius, berkarakter, dan berdaya saing.

“Kami berharap semangat yang ditunjukkan para santri selama Milad Samudera Pasai dapat menginspirasi generasi muda lainnya untuk mencintai sejarah, memperkuat nilai-nilai keislaman, serta berkontribusi bagi kemajuan Aceh Utara di masa depan,” pungkasnya.

Milad Samudera Pasai ke-800 berlangsung pada 6–13 September 2026 dengan rangkaian kegiatan budaya, religi, pendidikan, olahraga tradisional, dan ekonomi kreatif. Kawasan Landing menjadi salah satu ruang perjumpaan masyarakat dengan berbagai ekspresi sejarah dan kebudayaan tersebut.

Delapan abad Samudera Pasai pun tidak hanya dirayakan melalui kemeriahan acara. Di tengah pameran, pentas seni, lantunan Dalail Khairat, dan aktivitas para santri, terselip pesan tentang pentingnya menjaga kesinambungan sebuah warisan.

Sebab sejarah tidak akan hidup hanya karena nama dan peninggalannya terus disebut. Ia membutuhkan generasi yang mengenal, memahami, dan bersedia merawatnya.

Para santri menjadi salah satu bagian dari mata rantai itu. Dari pendidikan dayah, nilai agama dan tradisi diwariskan; dari kegiatan Milad Samudera Pasai, generasi muda kembali dipertemukan dengan akar sejarahnya.

Di Bumi Pase, 800 tahun Samudera Pasai akhirnya bukan hanya tentang kejayaan yang pernah berlalu. Ia menjadi pengingat bahwa adat, syariat, ilmu, dan karakter generasi muda merupakan bagian dari warisan yang harus terus dijaga untuk menghadapi masa depan. []