News

Tgk Habibi Menggugah Ingatan Puluhan Ribu Jamaah tentang Kejayaan Samudera Pasai

file_00000000797082309b17b4f9569aea73
Ukuran Font
A A 100%

ACEH UTARA — Lapangan Landing, Lhoksukon, Aceh Utara, malam itu tak ubahnya lautan manusia. Puluhan ribu jamaah memenuhi Arena Piasan Pase, Rabu malam, 9 September 2026. Mereka datang bukan hanya untuk mengikuti tabligh akbar, tetapi juga mendengarkan kembali kisah kejayaan Samudera Pasai yang pernah menjadi salah satu pusat penting perdagangan, keilmuan, dan penyebaran Islam di Nusantara.

Di tengah kerumunan itu, suara Tgk Habibi An-Nawawi mengajak jamaah menengok delapan abad ke belakang. Ia tidak sekadar mengisahkan nama-nama raja dan kebesaran sebuah kesultanan. Ia membawa jamaah pada nilai yang menurutnya masih relevan hingga hari ini: ilmu, adab, keteladanan pemimpin, kedekatan dengan ulama, dan kehidupan keislaman.

Tabligh akbar tersebut menjadi bagian dari rangkaian Milad Samudera Pasai ke-800.

Kegiatan diawali dengan zikir awaliyah yang dipimpin Tgk Jamaluddin Rasyid. Setelah suasana arena dipenuhi lantunan zikir, Tgk Habibi naik ke panggung utama dan mulai membuka kembali lembaran sejarah Samudera Pasai.

Ia mengawali tausiah dengan mengenang Sultan Al-Malik as-Saleh, pendiri Kesultanan Samudera Pasai. Dari sosok tersebut, cerita kemudian bergerak menuju masa ketika Pasai berkembang sebagai salah satu pusat peradaban Islam di kawasan Asia Tenggara.

Namun, bagian yang paling menyedot perhatian jamaah adalah ketika Tgk Habibi mengisahkan perjalanan Ibnu Batutah, pengembara asal Maroko yang singgah di Samudera Pasai pada 1345 Masehi dalam perjalanannya menuju Tiongkok.

Kisah itu bersumber dari catatan perjalanan Ibnu Batutah yang dikenal sebagai Rihlah Ibnu Batutah, atau Tuhfat an-Nuzzhar fi Ghara’ib al-Amsar wa ‘Aja’ib al-Asfar.

Tgk Habibi mengajak jamaah melihat Samudera Pasai bukan hanya dari kemegahan sejarahnya, tetapi dari kehidupan masyarakat dan perilaku pemimpinnya yang dicatat oleh seorang pengembara dari negeri jauh.

“Ibnu Batutah baru bertemu dengan Sultan pada hari ketiga, di masjid, pada hari Jumat,” kata Tgk Habibi.

Menurut dia, sebelum bertemu Sultan Al-Malik az-Zahir, Ibnu Batutah terlebih dahulu diberi waktu untuk beristirahat selama tiga hari setelah menempuh perjalanan panjang.

Bagi Tgk Habibi, kisah tersebut memperlihatkan pentingnya adab dalam memperlakukan seorang tamu.

“Ini adalah adab. Tamu diberikan waktu beristirahat terlebih dahulu sampai hilang rasa capek dari perjalanan,” ujarnya.

Cerita kemudian berlanjut pada sosok Sultan Al-Malik az-Zahir yang ditemui Ibnu Batutah. Dalam catatan perjalanan tersebut, sang sultan digambarkan sebagai sosok yang rendah hati, memiliki pengetahuan agama yang luas, dan dekat dengan para ulama.

Tgk Habibi menekankan satu gambaran yang menurutnya penting untuk direnungkan. Sultan, kata dia, tidak datang ke masjid dengan memperlihatkan kemegahan seorang penguasa.

“Ibnu Batutah menyaksikan Sultan datang ke masjid pada hari Jumat bukan dengan kuda atau kendaraan lainnya. Ia berjalan kaki tanpa pengawal dan tanpa baju kebesarannya,” ujar Tgk Habibi.

Pertemuan itu pun tidak berlangsung di tengah kemewahan istana.

“Ibnu Batutah bertemu Sultan di ruang takmir masjid, bukan di istana,” katanya.

Bagi jamaah yang memadati Lapangan Landing, kisah tersebut seakan membawa mereka keluar sejenak dari hiruk-pikuk masa kini. Samudera Pasai hadir kembali melalui cerita tentang seorang sultan yang berjalan menuju masjid, bertemu ulama, dan menerima seorang tamu dalam suasana sederhana.

Tgk Habibi kemudian membawa kisah itu pada kehidupan keagamaan masyarakat Samudera Pasai.

“Di dalam kitab tersebut digambarkan masyarakat dan Sultan Samudera Pasai konsisten mengamalkan ajaran Islam bermazhab Syafii, serta aktif menyiarkan dan menegakkan nilai-nilai Islam di wilayah sekitarnya,” katanya.

Cerita tentang Ibnu Batutah menjadi salah satu bagian yang membuat suasana tabligh akbar semakin hidup. Sejarah yang selama ini tersimpan dalam buku dan catatan perjalanan kembali didengar oleh puluhan ribu jamaah dalam sebuah perayaan yang menandai 800 tahun Milad Samudera Pasai.

Bagi Tgk Habibi, kejayaan Samudera Pasai tidak seharusnya berhenti sebagai nostalgia.

Delapan abad sejarah itu, menurut dia, semestinya menjadi ruang untuk mengambil pelajaran. Kebesaran sebuah negeri tidak hanya dibangun oleh kekuasaan, tetapi juga oleh ilmu, adab, agama dan keteladanan pemimpinnya.

Dari Lapangan Landing malam itu, pesan tersebut menemukan pendengarnya. Puluhan ribu jamaah bukan hanya diajak mengenang sebuah kesultanan yang pernah berjaya, tetapi juga diajak melihat kembali nilai-nilai yang membuat Samudera Pasai dikenang dalam perjalanan sejarah Islam di Nusantara.

Kejayaan masa lalu akhirnya bukan sekadar cerita tentang apa yang pernah dimiliki Aceh Utara. Ia menjadi cermin untuk membangun kembali semangat masyarakat hari ini agar ilmu, adab, agama dan keteladanan tetap menjadi bagian dari perjalanan Aceh Utara menuju kebangkitan.