Aceh Besar | Tujuh bulan sebelum PILKADA, teman saya Heri Saputra sempat bertanya, “siapa kontestan yang harus dia dukung?”. Saya menjawab, “kalau sekarang, saya sarankan PA (Partai Aceh) karena dari segi dukungan partaindan pendanaan kampanye cukup,”
Heri Diam. Ada rasa enggan di wajahnya sebelum dia menerangkan, kalau bisa saja dia bekerja memenangkan PA, karena menginggat partai yang dihasilkan dari perjuangan yang pernah sebentar dia ikuti itu sebelum dikirim ke Dayah oleh orangtuanya karena ketahuan menjadi informan dan mengirim senjata ke pada GAM pada masa itu.
Lelaki 37 tahun yang akrap dipanggil Pak Dek itu, menjelaskan pada saya, kalau PA adalah partai yang megah tapi sendi-sendi bangunannya disokong oleh material yang sudah rapuh. Maksudnya, orang yang dipakai PA untuk berkampanye rata-rata orang yang dikenal hebat dikampung, namun kurang dipercaya omongannya.
Sehingga dia menilai, ajakan yang pernah dilontarkan oleh tim kampanye di Kecamatannya Lhoong, Aceh, Besar, menjadi tidak menarik. Terlepas dari keinginannya diajak langsung Calon Bupati Muklis Basyah sebagai ketua tim pemenangan di Lhoong. Namun itu tidak terjadi.
Pak Dek adalah seorang tokoh muda Lhoong yang mulai matang mengelola tim pemenangan pemilu di kecamatan. Dalam pemilihan Calon Legeslatif (PILEG) tahun ini, berkat kerja keras timnya, dia berhasil mengantar Abdurrahman dari Partai Gerindra yang naik sebagai Anggota DPRA (Dewan perwakilan Rakyat).
Nama bapak tiga anak itu semakin dikenal di wilayahnya karena komitmen dan kerja kerasnya dalam memenangkan kontestan yang dipegangnya. Hingga pada pemilihan ini, tim kerjanya tentu dihadapkan pada pilihan siapa yang harus mereka dukung menjadi Calon Bupati Aceh Besar?
Ada tiga kontestan yang paparkan pada saya saat itu sebagai kawan bertukar pikirannya. Muklis Basyah dari PA, Musanif dari PKB, atau Syeh Muharram? Sedangkan Mawardi tidak disebut karena dia anggap elektabilitasnya di Kecamatan Lhoong hampir tidak ada.
Selain Muklis Basyah yang dirasa dia hanya menjadi ekor dari ikan besar karena sulitnya akses berkomunikasi langsung terkait tindak tanduk dilapangan, dia juga mencoret Musanif dari daftarnya karena dianggap Musanif sudah punya tim solid yang bekerja berdasarkan mampu memperoleh 1 kursi DPRK dari Lhoong. Tentu kekuatan itu masih solid dan bertambah.
Pilihan yang paling masuk akal dianggapnya yang akan dipimpin petarungannya adalah Syeh Muharram! Saya tidak terlalu kenal Panglima GAM Syeh Muharram selain pernah melihat video dia menampar pasukannya. Tentu menurut saya sebagai bentuk hukuman agar selalu sigap dalam perperangan.
Sosok Panglima GAM yang naik dari jalur idependet tersebut, dikatakannya baru bertemu dikenalkan oleh seorang kawannya. Dia bertemu langsung dengan sosok yang dinilainya tenang, ramah dan santun.
Berkali-kali saya coba mengetest komitmennya untuk memimpin pasukan pemenangan Pilkada tahun ini untuk Mantan Panglima Aceh Besar yang sering dipanggilnya Syeh. Lagi-lagi lelaki yang mempunyai bisnis jual beli ikan di kampungnya itu menerangkan sosok Syeh yang berkarismatik meski baru sekali bertemu.
Saya coba mengali kesiapan Syeh darinya secara ekonomi menuju Bupati, dia mengatakan, Syeh tidak punya uang money politik, kata Pak Dek. Dia juga mengatakan, mungkin jalan ini berat, namun dia yakin berdiri bersama Syeh kali ini karena niat iklas untuk mempersatukan kembali Aceh Besar yang dirasa belakangan ini tidak jelas arah pembangunannya.
Saya ikut mendukung apa yang sudah dia pilih. Saya hanya berpesan jangan jadi pelacur politik. Memang berpolitik harus dinamis, namun saat kamu berjuang untuk Syeh, berjuanglah dengan kesetiaaan. Dan tentang bersebrangan dengan mentor politiknya pak Abdurrahman, saya menyuruhnya untuk tetap sharing agar bang Raman mengerti arah hati nuraninya. Dan tentu orang sekaliber bang Raman merestui dukungan-dukungan politik positif semacam itu.
Dia semakin sering bertemu Syeh di kediamannya Ajun. Saat berjumpa dengannya rasa lelah di wajahnya cukup sebagai cerita bagaimana dia sibuk siang malam mengkonsolidasi kekuatan agar tetap solid. Lagi-lagi saya menguji kepercayaan dirinya terhadap kemenangan Syeh. Namun saya tetap tidak menemukan kecacatan dlama semangat yang dia bangun.
Tentu saya menyemangatinya dalam gencarnnya kampanye diiringi konser Rafli Kande pada calon yang mendeklerasikan diri sebagai pasangan ADAP tersebut di wilayah.
“Tugasmu memenangkan Syeh di Lhoong, bukan di seluruh di Aceh besar. Tentang jadi atau tidak Syeh menjadi Bupati, itu urusan Allah, “kata saya yang di sambut anggukannya waktu itu.
Menjelang pemilihan, mobilisasinya mengecek kesiapan tim sangat tinggi, jam malam yang biasa digunakan untuk ngopi di kedai gampong sendiri, berpindah kemana tubuhnya dibutuhkan.
Saya membantunya lewat publikasi menulis di media untuk menyemangatinya. Setidaknya, itu yang bisa saya bantu memenanginya selain dukungan suara.
Hingga hasil pemilihan pada 27 November 2024, menunjukan buah hasil perjuangannya berhasil memperoleh suara tertinggi untuk Syeh Muharram di Kecamatam Lhoong dan hampir mengungguli peroleh suara tertinggi di 28 gampong.
Syeh berhasil mengumpulakan suara terbanyak berdasarkan hasil real count di halaman resmi KPU pada Kamis, 28 november 2024 yang menunjukan pasangan Syeh Muharram-Syukri berhasil meraih suara terbanyak dengan total 73.358 suara atau 33,79 persen dari total 217.069 suara sah.
Pada posisi kedua diraih oleh pasangan nomor urut 4 Musanif – Sanusi dengan perolehan suara 55.551. Untuk pasangan ADAP Muklis Basyah – Tgk Muhammada Jazuli (Abati) nomor urut 2 berada di posisi 3 dengan perolehan suara 33.296.
Sedangkan pasangan mantan Bupati Aceh Besar periode lalu Mawardi Ali – Irawan hanya memperoleh suara 33.296 suara
Perolehan itu tentu membuatnya bersujud syukur telah membawa sosok pemimpin yang dia hormati lewat kerendahan hati yang sering dia ceritakan pada saya.
Kini takdir Allah telah membawa Syeh menjadi bupati, Pak Dek masih sibuk mengawal perjuangan yang seperti Syeh katakan padanya “Perjuangan ini baru dimulai, kamu harus tetap berada di samping saya dalam menahkodai Aceh Besar menuju masyarakat yang makmur dan sejahtera.”
Kemarin, kamis 12 Desember 2024, Syeh Muharram mengadakan silahturahmi seluruh masyarakat Aceh Besar dalam rangka kenduri syukuran kemenangan menjadi bupati Aceh Besar.
Saya tidak bisa datang, tapi saya terharu ketika melihat di tiktok, bagaimana seorang bupati yang tidak ada uang untuk kampanye dan tidak ada satupun partai pendukung disayangi oleh ribuan masyarakat yang datang mendukungya.
Rasa haru semakin pecah saat melihat video yang ikut lewat di tiktok, dia memeluk seorang laki-laki yang menderita salah satu penyakit duduk di kursi roda. Sedangkan saat Syeh datang, dia senang, dan meronta-ronta kegirangan saat dipeluk Syeh Muharram yang berpakaian hitam, bermeketop dan terselip sebilah rencong di pinggang.
Gagahnya Syeh terlihat bak sang raja yang telah lama ditunggu pulang oleh masyarakat terkasihnya Syeh Muharram menyejukan keadaan politik dengan mengatakan ingin merangkul semua elemen kekuatan untuk membangun Aceh Besar dalam pidatonya.
Saya merasakan sosok pemimpin yang diidam idamkan ada pada Syeh Muharram. Dengan kesederhanan laku dan bicaranya, dia mampu menarik simpatik, bahkan dalam komentar video tersebut, banyak menyebutkan baru kali ini ada bupati yang serasa bupati semua kabupaten di Aceh, bahkan serasa Gubernur katanya.
Dalam hati saya mengiyakan, mungkin itu perasaan yang keluar saat melihat bagimana sosok Syeh Muharram yang terasa santun saat berbicara, sederhana dan bijaksana dalam memutuskan.
Tentu saya menulis pandangan saya terhadapa Syeh melalui perjuangan seorang Heri Saputra pemuda Gampong Saney yang saya kenal senang bersosialisasi. Namun, dibalik terpilihnya Syeh sebagai Bupati Aceh Besar, tentu banyak sosok seperti Heri lain yang berjuang demi hati nurani.
Selamat memimpin Syeh, Aceh Besar terlalu besar untuk di pimpin secara ugal-ugalan. Semoga di tangan dingin Syeh, dapat membawa kemakmuran di seluruh pelosok Aceh Besar yang dulu dirasa teranaktirikan.
Penulis: Rahmat Hidayat
Salah satu petani di Aceh Besar.
















