BERITAACEH, Banda Aceh | Provinsi Aceh selain dikenal dengan julukan Serambi Mekkah, juga dikenal sebagai ragam motif motif ukiran kerajinan tangan. Seperti ukiran Pinto Rumoh Aceh memiliki ciri khas, dikaitkan dengan imajinasi kekayaan alam flora dan fauna.
Adapun bentuk struktur Motif Pinto Aceh terbentuk dari susunan beberapa elemen pembentukan, seperti garis lurus, lengkung, bidang persegi. Seperti motif Pucok Paku, motif daun, motif Bungong Meulu dan motif Boh Eungkot.
“Semua unsur tersebut disusun dalam pola simetris sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh,” kata pelukis, Iswandi Basri, Kamis (19/10/2023).
Menurutnya, elemen pembentuk motif pintoaceh yang terdiri dari empat unsur flora dan satu unsur fauna yang bersumber dari kekayaan laut Aceh serta unsur motif geometris.
“Tiap-tiap motif tersebut memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai isian dan pelengkap dari ke-rangka dasar motif Pinto Aceh. Namun dari motif yang berbeda-beda antara semuanya itu saling melengkapi satu dengan lainnya, sehingga menjadi satu kesatuan,” jelasnya.
Menurutnya, motif Pinto Aceh terdiri dari beberapa unsur seperti kerangka dasar dan isian motif yang disusun sehingga menjadi satu kesatuan. Secara garis besar motif Pinto Aceh terbagi dalam empat bagian yaitu bagian tengah, bagian samping, bagian atas luar, dan bagian samping luar.
“Bagian tengah berbentuk persegi panjang yang kedua sisinya diapit oleh bagian samping berbentuk melengkung pada sisi luar serta runcing ke atas dan bawah. Bagian tersebut merupakan kerangka dasar motif Pinto Aceh yang terinspirasi dari bentuk bangunan pinto khop,” jelasnya
Elemen sebetnya, pembentuk motif Pinto Aceh yang terdiri dari empat unsur flora dan satu unsur fauna yang bersumber dari kekayaan laut Aceh serta unsur motif geometris.
“Tiap-tiap motif tersebut memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai isian dan dan pelengkap dari kerangka dasar motif Pinto Aceh. Namun dari motif yang berbeda-beda antara semuanya itu saling melengkapi satu dengan lainnya,” ungkapnya
Bagian atas luar dan bawah luar menggunakan motif Pucok paku, yang berbentuk spiral dan susunannya digabung dengan motif daun. Selain menggunakan motif tumbuh-tumbuhan pada bagian atas luar juga dikombinasikan dengan motif geometris, yaitu gabungan dari garis lurus dan garis lengkung yang terdapat pada bagian tengah bawah motif Pucok paku dan motif daun.
Bagian samping kiri luar dan kanan luar pada dasarnya menggunakan motif dan susunan yang sama dengan di bagian atas luar.
“Namun yang membedakannya adalah penempatan motif daun yang terlihat terpisah dengan motif pucok paku, karena mengikuti pola bagian samping yang melengkung ke dalam, sehingga pada bagian samping luar terlihat lebih lebar dari pada bagian atas luar serta penggabungan garis lurus dan lengkung lebih menyerupai segitiga sama sisi,” Urainya.
Perkembangan Motif Pinto Aceh
Penciptaan motif Pinto Aceh saat ini telah berkembang dengan sangat pesat, sehingga penerapannya tidak hanya pada dekorasi perhiasan, tekstil, kayu dan logam.
“Ini sudah digunakan secara desainer digital. Sehingga motifnya itu digunakan pada version pakaian,” ujarnya.
Motif Pinto Aceh kini mulai tumbuh pesat di Aceh. Bahkan karyanya ukiran Aceh telah digunakan diberbagai dekorasi, misalnya pada tas, peci dan bentuk lainnya.
“Rata-rata motif desainnya dirancang dengan desain teknologi yang canggih,” ungkapnya.
Disisi lain Desain Pinto Aceh, perkembangan yang terjadi pada motif pinto aceh terus digunakan, secara berkelanjutan dari masa ke masa, sehingga menempatkan motif pinto aceh menjadi salah motif yang banyak diterapkan pada berbagai benda kerajinan yang melahirkan kreasi-kreasi baru.
“Kreasi inilah yang dapat menunjukkan ke khas seni ukir Aceh,” tegas.
Teknologi
Teknologi memberikan andil yang besar terhadap perubahan-perubahan dalam berbagai aspek, semakin majunya teknologi bertujuan untuk kemudahan dalam pekerjaan telah memberikan pandangan baru dalam penciptaan suatu karya seni.
“Begitu pula dalam seni kriya, teknologi mempunyai pengaruh dan perubahan yang besar terhadap penciptaan yang diinginkan. Selain mempercepat pekerjaan juga memengaruhi bentuk, desain, kehalusan, dan sebagainya,” paparnya.
Canggihnya teknologi tentu memudahkan para kriyawan dan pengrajin. Salah satu contohnya adalah pembuatan motif Pinto aceh, kemajuan teknologi berdampak pada perubahan peralatan yang digunakan dan secara otomatis bahan yang digunakan pun telah bervariasi menyesuaikan dengan tingkat ekonomi.
Sejarah Pinto Aceh
Sejarah awal lahirnya perhiasan Pinto Aceh dimulai pada tahun 1926. Ketika itu Pemerintah Kolonial Belanda di Kutaraja (sekarang dikenal dengan Banda Aceh) menggelar satteling (pasar malam) terbesar yang diadakan di Esplanade (sekarang dikenal dengan Lapangan Blang Padang).
Di pasar malam itu Pemerintah Kolonial Belanda memberikan kesempatan kepada para pengrajin emas dan perak untuk membuka stand-nya untuk memamerkan hasil kerajinan tangan mereka. Oleh karena kemahiran dan keterampilannya dalam menempa emas, setelah gelaran pasar malam selesai, seorang perajin emas dan perak bernama Mahmud Ibrahim (Utoh Mud) dinilai pantas untuk memperoleh sertifikat dari panitia satteling.
Sebagai seorang perajin perhiasan emas, Utoh Mud yang mengantongi sertifikat bergengsi dari Pemerintah Kolonial Belanda, pada tahun 1935 menciptakan sebuah perhiasan baru yaitu Pinto Aceh yang motifnya diambil dari bangunan Pinto Khop. Para pejabat kolonial Belanda dan keluarga mereka sering memesan atau membeli berbagai jenis perhiasan tradisional Aceh pada Utoh Mud.
Kala itu, Utoh Mud dapat ditemui di pusat usaha kerajinan perhiasan, di Jalan Bakongan, Kutaraja. Bangunan tersebut sudah dibongkar sebagai perluasan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sekarang ini.
Perhiasan motif Pinto Aceh terinspirasi dari desain sebuah monumen peninggalan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yaitu Pinto Khop, pintu Taman Ghairah atau Bustanussalatin yang merupakan taman Istana Kesultanan Aceh Darussalam.
Menurut riwayat terdahulu, pada era Kesultanan Aceh Darussalam, Pinto Khop ini merupakan pintu belakang Keraton Aceh yang khusus digunakan sebagai pintu keluar masuknya permaisuri Sultan Iskandar Muda beserta dayang-dayangnya.
Apabila sang permaisuri hendak mendatangi tepian Krueng Daroy untuk bermandian senantiasa lewat Pinto Khop ini. Sekarang ini sebagian kecil Taman Ghairah tersebut sudah dipugar dan dikenal dengan Taman Putroe Phang, nama permaisuri Sultan Iskandar Muda yang berasal dari Pahang, Malaysia.
Seni Aceh Harus Beradaptasi Dengan Perkembangan Zaman
Kepala Disbudpar Aceh, Al Muniza Kamal, S.STP, M.SI, melalui Kepala Bidang (Kabid) Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah, S.SOS., M.M, mengatakan, seni ornamen Aceh telah lama menjadi bagian penting dari budaya Aceh.
Dengan pola ukiran tradisional yang rumit dan indah, seni ornamen telah menghiasi berbagai bangunan, termasuk rumah adat, masjid, dan tempat ibadah lainnya. Namun, dengan perkembangan teknologi dan tren modern, seni ini harus beradaptasi agar tetap relevan.


Kepala Bidang Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh, Nurlaila Hamjah, S.sos., MM.
Seni kontemporer adalah bentuk seni yang menggabungkan unsur-unsur tradisional dengan teknologi modern, seperti video, gambar, dan suara. Ini memungkinkan seniman untuk menyampaikan pesan-pesan budaya melalui medium yang lebih kontemporer dan dapat diakses oleh audiens yang lebih luas.
“Kami ingin mengajak para seniman ornamen Aceh untuk melihat potensi yang besar dalam seni kontemporer. Dengan memodernisasi seni ornamen, mereka dapat menciptakan karya-karya yang lebih relevan dengan zaman sekarang dan dapat
diterima oleh berbagai kalangan,” kata Nurlaila kepada media diruang kerjanya, Senin (16/10/2023).
Langkah ini juga sejalan dengan upaya mempromosikan budaya Aceh kepada dunia. Dengan seni kontemporer, pesan-pesan budaya Aceh dapat lebih mudah disebarkan melalui platform digital dan media sosial.
Ini akan membantu memperluas cakupan dan meningkatkan pemahaman tentang budaya Aceh di tingkat internasional.
“Kita ingin seniman ornamen Aceh menjadi agen perubahan dalam mengangkat
budaya Aceh ke tingkat global. Melalui seni kontemporer, mereka dapat menciptakan karya yang menginspirasi dan mempromosikan budaya Aceh,” kata Nurlaila.
“Layaknya seni lukis yang awalnya menggunakan kuas dan cat, kami mendorong penggunaan teknologi digital dalam seni lukis untuk menciptakan karya yang lebih modern dan dinamis,” jelasnya.
Disbudpar Aceh juga berencana mengadakan workshop dan pelatihan untuk para seniman ornamen yang tertarik untuk memasuki dunia seni kontemporer.
Ini akan memberikan mereka keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menggabungkan teknologi dalam seni mereka.
Selain itu, Disbudpar Aceh akan memberikan dukungan finansial untuk proyek-proyek seni kontemporer yang dihasilkan oleh seniman ornamen Aceh. Ini akan memberikan insentif bagi mereka untuk menciptakan karya-karya yang berkualitas tinggi.
Melalui langkah-langkah ini, Disbudpar Aceh berharap dapat menciptakan gelombang inovasi di dunia seni ornamen Aceh. Dengan memodernisasi seni tradisional ini, mereka dapat mempertahankan warisan budaya mereka sambil mengikuti perkembangan zaman.
Tampilkan di PKA ke 8
Nurlaila mengatakan, Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 merupakan platform yang paling ditunggu bagi seniman lokal di 23 kabupaten/kota di Aceh.
Menurutnya, Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 akan menjadi perayaan seni yang menggugah dan memadukan tradisi dengan kontemporer.
“Kami telah mengundang seniman-seniman terkemuka dari berbagai disiplin seni untuk berpartisipasi dalam acara ini, dan kami sangat bersemangat untuk melihat karya-karya mereka yang telah dimodernisasi,” kata Nurlaila.
Akan tetapi, lanjut Nurlaila, untuk seni kontemporer pada Pekan Kebudayaan Aceh ke 8 kemungkinan ruangannya tidak terlalu banyak. Pasalnya target di PKA itu lebih dominan mengangkat tradisi di Aceh.
“Karna pada latarnya PKA adalah melestarikan kebudayaan dan memperkenalkan kebudayaan Aceh kepada masyarakat lokal maupun luar,” ucapnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, selain pameran seni kontemporer, Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 akan menyelenggarakan berbagai acara lainnya, termasuk pertunjukan musik tradisional Aceh, tari-tarian khas, serta kuliner lokal yang menggugah selera.
“Ini adalah kesempatan sempurna bagi pengunjung untuk merasakan kekayaan budaya Aceh,” ujarnya.
Nurlaila juga menekankan pentingnya acara ini dalam mempromosikan Aceh sebagai destinasi wisata budaya yang menarik.
“Kami berharap Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 akan membawa lebih banyak perhatian pada warisan budaya Aceh dan memperkuat posisi Aceh sebagai tujuan wisata budaya yang menarik,” harapnya.
Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 diharapkan akan menarik ribuan pengunjung dari dalam dan luar negeri, menciptakan hubungan budaya yang kuat, dan mempererat ikatan antara seniman serta komunitas budaya di Aceh. (ADV)




