BANDA ACEH — Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh tidak hanya dipandang sebagai rangkaian kegiatan keagamaan. Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah ST mengajak masyarakat menjadikannya sebagai ruang memperkuat persatuan dan kepedulian sosial untuk menghadapi berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Seruan tersebut disampaikan Irwansyah saat menghadiri zikir menyambut bulan Maulid bersama Majelis Zikir Al Habib Abdul Haris bin Sholeh Alaydrus di Masjid Baiturrahim, Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Minggu, 23 Agustus 2026.
Di hadapan jamaah, Irwansyah mengatakan peringatan Maulid yang berlangsung dalam rentang waktu panjang di Aceh dapat dimanfaatkan untuk memperkuat syiar, dakwah, sekaligus membangun kepedulian bersama terhadap persoalan sosial.
Menurut dia, penanganan berbagai persoalan sosial di Banda Aceh tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, keluarga, serta berbagai unsur lainnya perlu mengambil bagian sesuai peran masing-masing.
“Bagaimana kita bisa memanfaatkan momentum perayaan Maulid di Aceh yang akan berlangsung sampai tiga bulan ke depan sebagai momentum untuk memperkuat syiar dan dakwah dalam menyosialisasikan kepada masyarakat tema-tema dakwah kita tentang bahaya penyakit-penyakit sosial yang mulai berkembang di Banda Aceh,” kata Irwansyah.
Ia menyebut sejumlah persoalan yang menjadi perhatiannya, termasuk isu LGBT dan HIV/AIDS. Irwansyah mengatakan upaya pencegahan dan penanganannya memerlukan keterlibatan berbagai unsur masyarakat.
“Persoalan LGBT, angka HIV/AIDS tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah semata. Butuh peran aktif masyarakat dalam ikhtiar mengatasinya,” ujarnya.
Maulid sebagai Ruang Konsolidasi
Irwansyah berharap tradisi Maulid di Aceh tidak berhenti pada seremoni dan kegiatan keagamaan. Menurut dia, momentum tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral yang berkaitan dengan kehidupan sosial.
Ia mengajak masyarakat menjadikan ajaran dan keteladanan Rasulullah SAW sebagai rujukan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Irwansyah, nilai keteladanan Rasulullah dapat diterapkan dalam berbagai posisi dan profesi, mulai dari kehidupan anak muda, keluarga, hingga kepemimpinan.
Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW dapat diteladani dalam membangun keluarga, mendidik anak, menjalankan tanggung jawab sebagai suami dan ayah, hingga menjalankan amanah kepemimpinan.
“Sebagai anak muda entrepreneur, sebagai suami, sebagai seorang ayah, kita juga bisa meneladani Rasulullah bagaimana mendidik anak dan membimbing keluarga. Kemudian sebagai seorang pemimpin, bagaimana keteladanan beliau dalam mensejahterakan rakyat dan menciptakan ketertiban dan keadilan,” kata Irwansyah.
Karena itu, ia berharap momentum Maulid dapat kembali menumbuhkan kecintaan masyarakat kepada Rasulullah SAW sekaligus mendorong penerapan nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan.
“Momentum Maulid harus dijadikan sebagai sarana untuk membangkitkan kembali gairah cinta dan fanatisme kepada Rasulullah SAW,” ujarnya.
Zikir dan Salawat
Kegiatan di Masjid Baiturrahim tersebut dipimpin langsung Habib Abdul Haris bin Sholeh Alaydrus. Setelah zikir, kegiatan dilanjutkan dengan tausiah kepada jamaah.
Dalam tausiah tersebut, Habib Abdul Haris menekankan pentingnya memperbanyak zikir dan salawat kepada Rasulullah SAW sebagai bagian dari upaya memperkuat kembali kecintaan dan keterikatan umat kepada ajaran Rasulullah.
Ia juga mengajak jamaah melakukan introspeksi terhadap kehidupan sehari-hari dan berusaha mendekatkan perilaku mereka dengan keteladanan Rasulullah SAW.
Dalam pandangannya, berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat dapat menjadi pengingat bagi umat untuk kembali memperkuat kehidupan keagamaan, termasuk memperbanyak zikir dan salawat serta memperbaiki perilaku.
Pesan tersebut memperkuat tema kegiatan yang tidak hanya berisi ibadah bersama, tetapi juga ajakan untuk membangun kehidupan sosial yang berlandaskan nilai keagamaan.
Kegiatan zikir tersebut turut dihadiri anggota DPRK Banda Aceh yang juga pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Baiturrahim, Tgk. Tarnuman, para imum mukim di Kecamatan Meuraxa, para geuchik, tokoh masyarakat, serta ratusan jamaah.
Bagi Irwansyah, keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam kegiatan keagamaan menjadi modal sosial yang dapat diperkuat untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan perkotaan.
Momentum Maulid, kata dia, pada akhirnya bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga kesempatan bagi masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai keteladanan, memperkuat kepedulian, dan membangun kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. [Adv]
