BANDA ACEH | Atlet Muaythai Kalimantan Selatan, Abdul Rozak dan Halim Perdana Kusuma, mampu menyelesaikan semua gerakan (50) dengan catatan waktu 4 menit 98 detik dinomor pertandingan seni muayboran di babak final cabor muaythai PON XXI Aceh-Sumut, Kamis (5/9/2024) di Bale Meuseraya, Banda Aceh.
Atlet Kalsel tampil di urutan ketujuh setelah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua Tengah, Sulawesi Utara dan Sumatera Utara, membuka aksinya dengan gerakan waikru dilanjut seni bertarung man muay.
Pelatih Muaythai Kalsel, Gunawan menyampaikan, penampilan kedua anak asuhnya itu ada 50 gerakan lebih yang ditampilkan selama kurun waktu lima menit.
“Cukup lega, mereka mampu menyelesaikan semua gerakan dengan baik. Baik dari postur gerakan, ritme gerakan bahkan realitasnya terlihat rapi,” kata Gunawan, Sabtu (7/9/2024).
Ia cukup yakin dengan penampilan atletnya tersebut, berpeluang untuk meraih medali.
“Doakan saja. Dari kacamata saya, mereka sudah mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya. Semoga saja berhasil meraih medali,” ujarnya.
Usai tampil, atlet muaythai Kalsel, Abdul Rozak mengaku cukup gugup karena mereka harus menunggu hasil yang akan keluar pekan depan, Selasa (10/92024).
“Mudah-mudahan saja bisa mendapatkan hasil terbaik. Jika melihat penampilan dari provinsi lain, saya optimistis bakal meraih medali,”tambahnya.
Muay Thai, seni bela diri yang kerap disebut “Seni Delapan Anggota Tubuh”, telah lama menjadi bagian integral dari budaya Thailand. Berakar dari teknik pertempuran kuno yang dikenal sebagai “Muay Boran”, Muay Thai memiliki sejarah panjang yang melibatkan aspek sejarah, budaya, dan militer.
Asal-usul Muay Thai dapat ditelusuri kembali ke abad ke-16, ketika teknik-teknik ini digunakan oleh para pejuang Thailand dalam pertempuran. Pada masa itu, Muay Thai bukan hanya sebuah seni bela diri, tetapi juga merupakan keterampilan penting yang diajarkan kepada tentara untuk melindungi negara mereka dari ancaman musuh.
Perkembangan Muay Thai berlanjut hingga masa kerajaan Ayutthaya (1350-1767). Dalam periode ini, teknik dan aturan Muay Thai mulai mengalami penataan lebih lanjut. Pada saat itu, Muay Thai sering dipraktikkan dalam turnamen yang diadakan di lapangan terbuka, di mana para petarung bersaing dalam pertarungan yang sangat fisikal dan penuh strategi.
Kemajuan signifikan terjadi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika Raja Chulalongkorn (Rama V) memperkenalkan peraturan dan format resmi untuk Muay Thai. Raja Chulalongkorn adalah seorang penggemar Muay Thai yang berdedikasi, dan ia memimpin upaya untuk menyusun aturan dan sistem pelatihan yang lebih terstruktur. Di bawah kepemimpinannya, Muay Thai mulai mendapatkan pengakuan internasional.
Selama beberapa dekade terakhir, Muay Thai telah berkembang menjadi salah satu seni bela diri yang paling terkenal di dunia, menarik perhatian dari berbagai belahan dunia. Dengan pertumbuhan popularitas ini, Muay Thai telah mengalami perubahan modernisasi, namun tetap mempertahankan esensi dan tradisi kunonya. Ini termasuk penambahan teknik-teknik baru dan adaptasi dalam format pertarungan, seperti yang terlihat dalam acara-acara tinju profesional.
Hari ini, Muay Thai tidak hanya diakui sebagai olahraga beladiri yang efektif dan menarik, tetapi juga sebagai bagian penting dari warisan budaya Thailand. Keberadaannya yang menonjol di panggung internasional dan popularitasnya yang terus berkembang membuktikan bahwa Muay Thai bukan hanya sekadar olahraga, tetapi juga simbol dari kekayaan sejarah dan budaya Thailand.
Muay Thai terus berkembang, dengan banyak atlet dan penggemar di seluruh dunia yang merayakan dan mempraktikannya. Dengan semangat yang tak pernah pudar, Muay Thai tetap berdiri sebagai contoh keberanian, disiplin, dan kebanggaan nasional Thailand.



















