BANDA ACEH — Bukan suara mesin dental unit atau aktivitas di ruang perawatan yang mewarnai kesibukan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala kali ini. Di tengah rangkaian perayaan Milad ke-65 USK, sejumlah sivitas akademika FKG justru sibuk mengolah bumbu dan menyiapkan kuah beulangong, Minggu, (20/9).
Di sebuah kuali besar, racikan bumbu khas Aceh diolah bersama bahan masakan hingga menghasilkan hidangan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Aceh. Mereka bukan sedang menjalani praktik kedokteran gigi, melainkan mengikuti Lomba Kuah Beulangong dalam rangka memeriahkan Milad ke-65 USK.
Tim FKG mengusung tema “Rasa Aceh, Warisan Leluhur, Semangat FKG USK.” Tema itu menjadi penanda bahwa keikutsertaan mereka tidak semata-mata untuk berkompetisi, tetapi juga membawa semangat menjaga tradisi kuliner Aceh di lingkungan kampus.
Kuah beulangong memiliki tempat tersendiri dalam tradisi masyarakat Aceh. Proses memasaknya identik dengan suasana kebersamaan. Orang-orang berkumpul, berbagi tugas dan bekerja bersama hingga masakan selesai. Nilai itulah yang tampak dalam keikutsertaan tim FKG USK.
Lomba berlangsung selama tiga jam, dari pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Waktu yang terbatas membuat setiap anggota tim harus bergerak cepat. Ketelitian dalam menyiapkan bumbu berjalan beriringan dengan kebutuhan untuk menjaga kekompakan agar hidangan dapat diselesaikan sesuai ketentuan perlombaan.
Tim FKG USK diperkuat Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan drh. Abdillah Imron Nasution, Ph.D, perwakilan Dharma Wanita FKG USK drh. Nurhafni, Kepala Bagian Administrasi Umum Ners Afdhal Siddiq, S.Kep, Kepala Subbagian Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan Saiful, SE, serta pengadministrasi akademik Wahyudi, A.Md.
Masing-masing mengambil bagian dalam proses memasak. Ada yang berkonsentrasi pada persiapan bahan, mengolah bumbu, memastikan proses pemasakan berjalan, hingga memantau kesiapan hidangan sebelum diserahkan kepada dewan juri.
Dalam suasana perlombaan, dapur menjadi ruang perjumpaan yang berbeda. Batas antara pimpinan, tenaga kependidikan dan unsur sivitas akademika lainnya menjadi lebih cair. Kesibukan memasak justru menghadirkan kesempatan untuk bekerja dalam satu ritme.
Kuah beulangong pun selesai tepat waktu dan diserahkan kepada dewan juri untuk dinilai. Tim FKG harus bersaing dengan peserta dari berbagai fakultas lain di lingkungan USK. Namun, kompetisi tidak menghilangkan suasana kekeluargaan yang sejak awal menjadi bagian dari kegiatan.
Bagi FKG USK, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perayaan Milad ke-65 yang tidak hanya merayakan perjalanan institusi, tetapi juga memberi ruang bagi budaya Aceh untuk hadir di tengah kehidupan kampus.
Dekan FKG USK Dr. drg. Zulfan M Alibasyah, Sp. Perio, mengatakan keikutsertaan Tim Chef FKG merupakan wujud semangat kebersamaan sivitas akademika dalam menyemarakkan Milad ke-65 USK.
Menurut Zulfan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk melestarikan warisan kuliner leluhur Aceh yang merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat.
“Partisipasi Tim Chef FKG dalam Lomba Kuah Beulangong ini menjadi salah satu wujud nyata semangat kebersamaan sivitas akademika FKG USK dalam menyemarakkan Milad ke-65 USK,” ujar Zulfan.
Ia menilai tradisi kuliner seperti kuah beulangong memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar makanan. Di dalamnya terdapat semangat kebersamaan yang dapat terus dirawat dan diwariskan.
Di lingkungan perguruan tinggi, pelestarian budaya juga menjadi bagian dari cara memperkenalkan identitas lokal kepada generasi muda. Kampus tidak hanya menjadi tempat bertemunya ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang bagi tradisi masyarakat untuk terus hidup dan berkembang.
Karena itu, kehadiran FKG USK dalam lomba kuah beulangong menjadi lebih dari sekadar aktivitas memasak. Kuali, bumbu dan rempah yang diracik bersama menjadi simbol sederhana tentang bagaimana kebersamaan dapat dirawat melalui tradisi.
Di tengah perkembangan USK sebagai institusi pendidikan tinggi, warisan seperti kuah beulangong tetap menemukan ruangnya. Pada perayaan Milad ke-65, tradisi itu kembali hadir—kali ini melalui tangan sivitas akademika FKG USK yang membawa satu pesan merawat budaya Aceh dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi kampus yang kerap disebut “Jantong Hate Rakyat Aceh”, cita rasa Aceh yang hadir dalam sebuah perlombaan kuliner menjadi bagian kecil dari upaya menjaga hubungan antara ilmu, kebersamaan dan identitas budaya.

