Ketua Satgas Penanganan dan Rehabilitasi Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal ZA, turun langsung meninjau kondisi infrastruktur yang terdampak bencana bersama unsur TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat.
BANDA ACEH – Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan (Dirjen Bina Adwil) Kemendagri sekaligus mantan Pj Gubernur Aceh, Dr. Safrizal ZA, dianugerahi penghargaan bergengsi Garda Kemanusiaan Pascabencana Hidrometeorologi Aceh oleh Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Aceh.
Apresiasi tersebut diserahkan dalam Malam Apresiasi JMSI Aceh yang dirangkai dengan pelantikan Pengurus Daerah JMSI Aceh periode 2025–2030 di Ayani Hotel, Banda Aceh, Jumat (11/6/2026) malam.
Ketua JMSI Aceh, Hendro Saky, menegaskan penghargaan ini diberikan melalui proses kurasi ketat. Safrizal dinilai memiliki kontribusi besar dalam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi dahsyat yang melanda Aceh pada akhir November 2025.

Kunjungan lapangan ini dilakukan untuk memastikan percepatan penanganan darurat serta langkah rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan efektif demi memulihkan akses dan aktivitas warga yang terdampak.
Safrizal menekankan bahwa penghargaan ini bukan pencapaian personal, melainkan buah dari dedikasi kolektif.
“Penghargaan ini tentu merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja keras dan dedikasi, bukan hanya saya pribadi, tetapi seluruh pihak yang tanpa lelah bekerja,” ujar Safrizal
Ia menegaskan penanggulangan bencana di era modern tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan dengan pendekatan pentahelix: kolaborasi pemerintah, media, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha.
Secara filosofis, Safrizal juga mengingatkan agar penghargaan ini tidak dimaknai sebagai ajang pamer kesuksesan individu. Ia menolak istilah “monos-arete” – keunggulan individual – dalam konteks penanggulangan bencana.

Menembus keterbatasan demi memastikan bantuan sampai kepada yang membutuhkan. Ketua Satgas Penanganan dan Rehabilitasi Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal ZA, berdialog langsung dengan warga di posko pengungsian untuk mendengar kebutuhan serta memastikan distribusi bantuan berjalan tepat sasaran.
“Semoga penghargaan ini dimaknai sebagai representasi kolaboratif dan bukan ‘monos-arete’. Penanganan bencana adalah kerja kolaboratif,” tegasnya.
Malam apresiasi turut dihadiri jajaran Korem, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), tokoh publik, serta dunia usaha. Kehadiran lintas sektor ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi kemanusiaan di Tanah Rencong pascabencana hidrometeorologi berjalan solid dan berkelanjutan. []
