Advertorial

‎Sarjana Menganggur di Banda Aceh Kian Bertambah, Lapangan Kerja Dinilai Belum Mampu Menampung

images (1)
Ukuran Font
A A 100%

‎BANDA ACEH – Gelar sarjana yang selama ini dianggap sebagai jalan menuju pekerjaan layak, kini belum lagi menjadi jaminan bagi banyak anak muda di Banda Aceh. Tingginya jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahun tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja yang ada.

‎Fenomena pengangguran di kalangan sarjana kini mulai menjadi persoalan serius di Kota Banda Aceh. Banyak lulusan perguruan tinggi harus menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikan mereka.

‎Sekretaris Fraksi NasDem DPRK Banda Aceh, Hj. Efiaty Z, mengatakan tidak sedikit lulusan sarjana yang akhirnya memilih bekerja di luar bidang keahlian demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

‎“Sebagian dari mereka terpaksa bekerja sebagai pengemudi ojek online, berjualan kecil-kecilan, hingga mengambil pekerjaan paruh waktu karena belum mendapatkan pekerjaan tetap,” ujarnya, Kamis, (16/4), di Banda Aceh.

‎Menurut Efiaty, kondisi ini dipicu oleh terbatasnya lowongan kerja formal di Banda Aceh. Jumlah perusahaan yang mampu menyerap tenaga kerja lokal masih sangat sedikit, sementara jumlah pencari kerja terus meningkat setiap tahun.

‎“Di Kota Banda Aceh jumlah perusahaan yang tersedia masih terbatas, sedangkan peminat kerja jauh lebih banyak,” katanya.

‎Selain minimnya lapangan kerja, ketidaksesuaian antara jurusan kuliah dengan kebutuhan pasar juga menjadi persoalan. Banyak lulusan berasal dari bidang yang peluang kerjanya terbatas, sementara dunia kerja saat ini lebih membutuhkan keterampilan baru seperti teknologi digital, desain kreatif, pemasaran daring, hingga kemampuan berbahasa asing.

‎Efiaty menilai persoalan ini harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Kampus dinilai perlu memperkuat program magang, pelatihan keterampilan, serta memperluas kerja sama dengan perusahaan agar mahasiswa memiliki pengalaman kerja sebelum lulus.

‎Selain itu, pemerintah juga diharapkan mampu membuka lebih banyak peluang usaha dan lapangan kerja baru, terutama bagi generasi muda. Dukungan terhadap sektor UMKM, ekonomi kreatif, serta pelatihan kewirausahaan dinilai dapat menjadi solusi agar lulusan sarjana tidak hanya bergantung pada pekerjaan formal.

Jika tidak segera ditangani, angka pengangguran terdidik di Banda Aceh dikhawatirkan akan terus meningkat dan berpotensi menjadi persoalan sosial baru di masa mendatang.

‎“Bagi banyak lulusan muda di Banda Aceh, tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar menyelesaikan kuliah, tetapi bagaimana bertahan dan bersaing di tengah sulitnya mencari pekerjaan,” tutup politisi Partai NasDem tersebut.