Seniman Aceh Harus Mampu Menyimbangi di Era Digitalisasi, Peran Penting Adat Kebudayaan Aceh

BERITAACEH, Banda Aceh – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh mengajak pelaku seni ornamen Aceh harus mampu mengkalaborisasi dari manual ke memodernisasi. Polanya itu untuk mengubah karyanya menjadi seni kontemporer, dan menyempaikan pesan-pesan positif kepada Masyarakat.

Kepala Disbudpar Aceh, Almuniza Kamal, S.STP, M.SI, melalui Kepala Bidang (Kabid) Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah, S.SOS., M.M, mengatakan, pola pengambangan seno ornament di Aceh sangat penting untuk dikembangkan, apalagi saat mulai berkembang moderisasi diera digitalisasi untuk disebar luaskankan karya-karya seni secara, ornamen Aceh, seperti pola ukiran tradisional yang rumit dan indah, seni ornamen telah menghiasi berbagai bangunan, termasuk rumah adat, masjid, dan tempat ibadah lainnya.

“Seni kontemporer dapat menggabungkan unsur-unsur tradisional dengan teknologi modern, seperti video, gambar, dan suara. Ini memungkinkan seniman untuk menyampaikan pesan-pesan budaya melalui medium yang lebih kontemporer dan dapat diakses oleh audiens yang lebih luas,” katanya, Rabu, 18 Oktober 2023

Menurutnya, para seniman ornamen Aceh untuk melihat potensi yang besar dalam seni kontemporer, memodernisasi seni ornamen, mereka dapat menciptakan karya-karya yang lebih relevan dengan zaman sekarang dan dapat diterima oleh berbagai kalangan.

“Langkah ini juga sejalan dengan upaya mempromosikan budaya Aceh kepada dunia. Dengan seni konten porer, pesan-pesan budaya Aceh dapat lebih mudah disebarkan melalui platform digital dan media sosial. Ini akan membantu memperluas dan meningkatkan pemahaman tentang budaya Aceh di tingkat internasional,” ungkap Nurlaila.

Karya seniman ornamen Aceh menjadi agen perubahan dalam mengangkat budaya Aceh ke tingkat global. Melalui seni kontemporer, mereka dapat menciptakan karya yang menginspirasi dan mempromosikan budaya Aceh.

“Layaknya seni lukis yang awalnya menggunakan kuas dan cat, kami mendorong penggunaan teknologi digital dalam seni lukis untuk menciptakan karya yang lebih modern dan dinamis,” jelasnya.

Melalui langkah-langkah ini, Disbudpar Aceh berharap dapat menciptakan gelombang inovasi di dunia seni ornamen Aceh, dengan memodernisasi seni tradisional ini, mereka dapat mempertahankan warisan budaya mereka sambil mengikuti perkembangan zaman.

Seniman ornamen Aceh yang telah merespon ajakan ini menyatakan antusiasme mereka untuk menjajaki seni konten porer.

“Mereka melihat ini sebagai peluang untuk berkembang dan menciptakan karya-karya yang lebih relevan dengan masyarakat modern,” jelasnya.

Dalam dunia seni konten porer, seniman ornamen Aceh dapat menggunakan teknologi seperti animasi, video, dan media digital lainnya untuk mengekspresikan pesan-pesan budaya Aceh. Ini akan memberikan mereka fleksibilitas yang lebih besar dalam menciptakan karya-karya yang menarik dan informatif.

Selain itu, seniman ornamen Aceh juga diharapkan dapat berkolaborasi dengan seniman konten porer lainnya, baik di dalam maupun di luar Aceh. Ini akan membuka peluang untuk pertukaran ide dan inspirasi, serta memperluas cakupan karya-karya seni mereka.

Tampilkan di PKA ke 8

Nurlaila mengatakan, Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 merupakan platform yang paling ditunggu bagi seniman lokal di 23 kabupaten/kota di Aceh. Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 akan menjadi perayaan seni yang menggugah dan memadukan tradisi dengan kontemporer.

“Kami telah mengundang seniman-seniman terkemuka dari berbagai disiplin seni untuk berpartisipasi dalam acara ini, dan kami sangat bersemangat untuk melihat karya-karya mereka yang telah dimodernisasi,” kata Nurlaila.

Akan tetapi, lanjut Nurlaila, untuk seni kontemporer pada Pekan Kebudayaan Aceh ke 8 kemungkinan ruangannya tidak terlalu banyak. Pasalnya target di PKA itu lebih dominan mengangkat tradisi di Aceh. (ADV).