Advertorial

Sinergi Lintas Sektor Diperkuat untuk Cegah Peredaran Narkoba di Banda Aceh

IMG-20260815-WA0046
Ukuran Font
A A 100%

BANDA ACEH – Upaya mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Kota Banda Aceh dinilai membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, keluarga, hingga masyarakat perlu mengambil peran agar upaya pencegahan tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi menjadi gerakan yang berlangsung secara berkelanjutan.

Wakil Ketua II DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi Aswad, S.Pd., M.Pd., menyampaikan hal itu saat menghadiri Sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GNPN) bagi pelajar Kota Banda Aceh Tahun 2026. Kegiatan yang digelar Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) itu berlangsung di Hotel Diana, Banda Aceh, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Musriadi tidak hanya memberikan sambutan, tetapi juga menjadi salah satu pemateri bagi para pelajar. Ia menekankan pentingnya menempatkan generasi muda sebagai kelompok yang harus mendapat perlindungan dan edukasi secara serius dalam upaya pencegahan narkotika.

Menurut Musriadi, persoalan narkotika tidak dapat ditangani hanya melalui pendekatan penegakan hukum. Pencegahan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara bersamaan, terutama keluarga dan sekolah yang bersentuhan langsung dengan kehidupan anak dan remaja.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan ini, terutama Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Kesbangpol, para narasumber dari Polresta Banda Aceh, BNN Kota Banda Aceh, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh,” kata Musriadi.

Ia berharap sosialisasi P4GNPN tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan mendorong terbentuknya komitmen bersama untuk mempersempit ruang penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Banda Aceh.

“Kami berharap melalui sosialisasi P4GN ini dapat terbangun komitmen bersama untuk menjadikan Kota Banda Aceh sebagai kota yang bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika serta mampu melahirkan generasi muda yang bebas dari narkotika,” ujarnya.

Generasi Muda Menjadi Titik Pencegahan

Musriadi mengatakan perhatian terhadap anak dan remaja perlu ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam agenda pencegahan narkotika. Mereka, kata dia, merupakan calon penerus kepemimpinan daerah maupun bangsa sehingga perlindungan terhadap mereka menjadi investasi sosial jangka panjang.

“Yang harus kita selamatkan hari ini sebenarnya adalah adik-adik usia 10 sampai dengan 20 tahun. Bangsa ini, daerah ini, kota ini berada di tangan adik-adik sekalian,” ujarnya.

Menurut dia, edukasi mengenai bahaya narkotika perlu dilakukan sejak dini dan tidak cukup disampaikan sekali. Materi pencegahan harus dikemas melalui berbagai pendekatan yang membuat pelajar memahami risiko narkotika sekaligus memiliki keberanian untuk menolak ajakan menggunakan maupun mengedarkan barang terlarang tersebut.

“Nantinya, adik-adiklah yang akan melanjutkan kepemimpinan dan menjaga negeri ini. Karena itu, kita berharap angka narkoba dapat terus terkikis melalui berbagai kegiatan yang kita lakukan ke depan,” kata Musriadi.

Ia juga menilai sekolah merupakan salah satu lingkungan penting yang perlu diperkuat dari ancaman penyalahgunaan narkotika. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan perilaku anak.

Karena itu, pendekatan edukatif perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pelajar perlu dibekali pengetahuan untuk mengenali bentuk-bentuk penyalahgunaan narkotika, memahami dampaknya, serta mengetahui bagaimana mengambil sikap ketika menghadapi lingkungan yang berisiko.

Kurikulum Narkoba dan Peran Keluarga

Musriadi turut mengapresiasi langkah Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Banda Aceh yang tengah menyusun kurikulum tentang narkoba untuk dijadikan materi muatan lokal. Ia menilai pendidikan mengenai bahaya narkotika akan memiliki dampak lebih luas apabila dilakukan secara sistematis melalui lembaga pendidikan.

Menurut dia, materi tersebut dapat diperkenalkan secara bertahap sesuai tingkat pendidikan, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Dengan demikian, pesan pencegahan tidak hanya bergantung pada kegiatan sosialisasi yang bersifat temporer.

“Tanggung jawab kita sangat luar biasa. Abang-abang dan saudara-saudara kita di BNN, mari bahu-membahu melakukan berbagai kegiatan inovasi. Substansinya adalah bagaimana kita menjaga generasi kita,” katanya.

Musriadi juga mengingatkan bahwa keluarga mempunyai posisi strategis dalam pencegahan. Pengawasan, komunikasi, dan perhatian orang tua terhadap perkembangan anak menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari upaya memutus potensi penyalahgunaan narkotika.

“Karena itu, hari ini kita harus mampu mem-back up upaya tersebut, setidaknya dengan menjaga keluarga kita masing-masing,” tegasnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan narkotika tidak hanya berada di ruang publik. Lingkungan terdekat anak—keluarga dan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun daya tahan terhadap pengaruh penyalahgunaan narkotika.

Diikuti 120 Guru dan Siswa

Sosialisasi P4GNPN yang digelar Kesbangpol Banda Aceh merupakan bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai bahaya penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika.

Kegiatan yang berlangsung selama satu hari tersebut diikuti 120 peserta yang terdiri atas guru dan siswa SMP di Kota Banda Aceh. Narasumber berasal dari sejumlah instansi yang berkaitan dengan pencegahan dan penanganan persoalan narkotika, antara lain Polresta Banda Aceh, BNN Kota Banda Aceh, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh.

Mewakili Wali Kota Banda Aceh, Staf Ahli Bidang Keistimewaan, Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Kota Banda Aceh, Ridwan, S.Ag., M.Pd., mengatakan pemerintah kota mengapresiasi kegiatan tersebut.

Menurut Ridwan, upaya melindungi generasi muda dari penyalahgunaan narkotika merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, kata dia, perlu berjalan bersama masyarakat untuk menjaga lingkungan sosial agar tetap mendukung tumbuh kembang generasi muda.

“Harapan besar masyarakat Kota Banda Aceh ini harus kita pelihara bersama. Kehidupan bermasyarakat, kehidupan beragama, dan kehidupan berbudaya harus terus kita jaga dan perkuat,” ujar Ridwan.

Ia mengatakan penguatan berbagai aspek kehidupan tersebut diharapkan dapat mendukung pembangunan Banda Aceh sebagai kota yang maju dan bermartabat.

“Dengan demikian, ke depan Banda Aceh dapat menjadi kota yang maju dan bermartabat, serta tetap kokoh dalam bingkai syariat Islam,” katanya. [adv]