“Tarian Sekawanan Enggang”

LELAKI PENARI. Menjelang sore, Zahrul saban hari mengayuh sepeda mini berkeranjang hitam di depannnya menuju tabuhan gendrang di pohon besar menyerupai payung.

Di bawah pohon waru itulah para lelaki paruh baya menabuh gendrang dan gemerincik sebagai latihan pementasan kampung ke kampung hinga kota ke kota untuk menghibur dengan harap beribalan cuan.

Zahrul, anak kecil yang masih duduk di kelas 5 madrasah ibtidayah biasa saja di kampungnya yang muridnya tak lebih dari 4 orang, tentu minat terhadap belajar telah terpengaruhi oleh keinginan memenuhi kebutuhan hidup di sawah dan ladangnya walau masih bergantung pada kebaikan langit.

Belum lagi pupuk yang mahal dan langka. Sedikit beda dengan tentara, hidup sebagai petani penuh pertempuran di sini. Dan renternir adalah tuan-tuannya.

Kadang tak hayal, pada musim tak bersahabat warga akan menjadi buruh, bahkan menegadah tangan di kota untuk sekedar membeli beras.

Di tanah yang sering kering dan masyarakat yang binggung untuk bercita-cita ini, Zahrul tidak melihat masa depan yang rimbun kecuali di bawah sebatang pohon bertabuh gendrang tadi. Penari!

Zahrul bersekolah karena orang tuanya termasuk mempunyai ladang yang luas sehingga untuk setahun sekali panen jagung atau padi terbilang berkecukupan untuk bertahan dari tahun ke tahun lagi.

Selain itu, dengan bersekolah, Zahrul diidamkan orangtuanya menjadi seorang tentara yang nanti tak perlu ke sawah seperti bang Mae tetangganya.

Setiap bulan, beras dan sembako lain memenuhi dapur mereka.

Enak betul hidup seperti kopral Mae, kata ayahnya.

Namun Zahrul hanyalah salah satu anak yang gampang terpesona oleh apa yang dilihatnya, termasuk pada tarian menepuk nepuk dada yang dilakonkan para lelaki paruh baya berbaju putih itu.

Gerak kaki dan tangan dikeprak ke dada seraya tubuh memutar dengan apiknya membuat Zahrul menganti cita-cita menjadi penari berbaju putih dengan kain ikat kepala seperti segenggam tali berambai di samping telinga sebelah kanan.

Sesekali penari akan melompat mengepak seperti burung enggang putih di tambak pinggir desa. Karena kemiripan itu juga, penari itu disebut “enggang”, yang melombat, berjalan, terbang, melandas di air dengan sangat anggun.

Zahrul masih dalam pesona yang
Semakin candu disentuh tabuhan gendrang dan gemerincik yang ditampar tampar. Enak betul jadi penari, hayalnya.

Pentas kampung ke kampung kota ke kota sambil menari dengan riang gembira dan bawa pulang banyak uang tanpa perlu ke sawah.

Kalau beruntung dia akan terkenal seperti Apa Asan yang sudah diboyong keluar negeri oleh apa raban yang konon beritanya dulu pernah satu pentas dengan Michael Jakson.

Zahrul memperhatikan tarian itu dengan seksama sambil tangan dan kakinya bergerak gerak enggan untuk menari.

Alunan geprakan semakin menghinopis tubuh Zahrul untuk menari hingga tanpa sadar Zahrul kecil menari-nari mengikuti sekawanan enggang yang tak ingin ke sawah [Kontributor Rahmad Hidayat, Banda Aceh]