Pidie Jaya | Aceh kembali diuji oleh bencana hidrometeorologi. Curah hujan tinggi yang berlangsung lama, ditambah kerentanan lingkungan, menyebabkan banjir melanda sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Pidie Jaya.
Bencana ini tidak hanya merendam rumah dan fasilitas umum, tetapi juga berdampak langsung pada dunia pendidikan. Sekolah terpaksa diliburkan, proses belajar mengajar terganggu, dan yang paling terasa: rasa aman anak-anak ikut runtuh. Ketika air mulai surut, jejak trauma sering kali masih tertinggal dalam ingatan mereka memengaruhi emosi, konsentrasi, serta semangat untuk kembali belajar.
Karena itu, upaya trauma healing atau pemulihan trauma bagi siswa terdampak banjir di Aceh merupakan langkah yang krusial dan mendesak.
Bencana alam bukan hanya merusak infrastruktur fisik sekolah, tetapi juga mengguncang sense of security (rasa aman) yang menjadi fondasi utama bagi anak untuk dapat belajar secara optimal. Tanpa rasa aman, ruang kelas kehilangan maknanya sebagai tempat tumbuh dan berkembang.
Pelaksanaan trauma healing memiliki urgensi penting untuk membangun kembali kesehatan mental dan semangat belajar siswa. Kegiatan ini membantu anak-anak perlahan mengurangi beban memori buruk dari bencana yang mereka alami.
Urgensi ini bukan tanpa dasar, sebab trauma berdampak langsung pada kondisi psikologis sekaligus kemampuan belajar peserta didik.
Salah satu manfaat utama trauma healing adalah membantu mengembalikan fungsi kognitif melalui stabilitas emosi. Anak yang mengalami trauma sering berada dalam kondisi fight-or-flight (siaga ancaman). Secara biologis, ketika otak emosional (amigdala) terlalu aktif akibat rasa takut dan kecemasan, maka otak bagian depan (prefrontal cortex) yang berfungsi untuk konsentrasi, pengambilan keputusan, dan proses belajar dapat menurun kinerjanya, bahkan seolah “lumpuh”. Dalam kondisi ini, materi pelajaran sesederhana apa pun akan sulit diserap.
Berdasarkan wawancara singkat yang saya lakukan dengan Ketua Divisi Ikatan Bimbingan dan Konseling Sekolah (IBKS), Tuti sukarni yang datang langsung dari Jakarta untuk melihat kondisi anak-anak terdampak bencana di Kabupaten Pidie Jaya, beliau menegaskan bahwa trauma healing bukan sekadar hiburan atau kegiatan pengisi waktu. Trauma healing adalah upaya untuk “menghidupkan kembali mesin belajar siswa”. Tanpa pemulihan kondisi emosional, proses belajar tidak akan berjalan optimal.
Selain itu, trauma healing juga berfungsi sebagai pendekatan psikoedukasi dan psikososial yang tepat bagi anak-anak terdampak bencana. Melalui pendekatan ini, siswa dibantu memahami bahwa perasaan takut, cemas, dan tidak nyaman yang mereka alami merupakan reaksi normal terhadap situasi yang tidak normal. Program trauma healing umumnya dirancang dalam aktivitas kelompok sehingga siswa merasa tidak sendirian.
Dukungan kolektif semacam ini dapat mempercepat resiliensi, yaitu kemampuan anak untuk bangkit kembali setelah menghadapi peristiwa yang menekan.
Kabupaten Pidie Jaya merupakan salah satu wilayah yang terdampak bencana hidrometeorologi dan menyambut baik sinergi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan organisasi profesi, yakni Divisi IBKS serta Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Kolaborasi ini menjadi bentuk kepedulian nyata dalam memberikan dukungan pemulihan trauma bagi guru dan siswa terdampak bencana di Kabupaten Pidie Jaya.
Kolaborasi pemerintah dan organisasi profesi seperti ini penting karena pemulihan pascabencana membutuhkan lebih dari sekadar respons darurat.
Dukungan psikososial yang tepat dapat menjadi jembatan agar anak kembali merasa aman, berani hadir di sekolah, dan siap mengikuti pembelajaran.
Meski demikian, pertanyaan besar yang perlu menjadi perhatian bersama adalah bagaimana memastikan bahwa pemulihan mental ini memberikan dampak jangka panjang, bukan sekadar kegiatan sesaat.
Ada beberapa tantangan dan catatan penting dalam pelaksanaan trauma healing bagi anak-anak terdampak bencana.
Pertama, keberlanjutan (sustainability). Trauma healing tidak dapat dilakukan hanya sekali atau bersifat one-off event. Guru-guru lokal perlu dibekali pelatihan dasar, seperti psychological first aid, agar proses pemulihan psikologis dapat terus berlanjut meskipun relawan atau tim pendamping telah selesai bertugas.
Kedua, identifikasi kebutuhan khusus. Tidak semua siswa mengalami tingkat trauma yang sama. Karena itu, perlu pemilahan antara siswa yang cukup ditangani melalui pendekatan umum misalnya bermain, kegiatan kelompok, dan penguatan rutinitas dengan siswa yang menunjukkan gejala stres traumatis berat dan memerlukan rujukan serta intervensi lebih lanjut oleh tenaga profesional (psikolog atau pihak berkompeten).
Ketiga, integrasi kurikulum yang fleksibel. Pada masa pemulihan pascabencana, sekolah sebaiknya tidak sepenuhnya berorientasi pada target akademik dan nilai.
Fokus utama perlu diarahkan pada kenyamanan siswa untuk kembali hadir, membangun kembali rasa aman, serta memulihkan kepercayaan diri dalam proses belajar.
Ketika kondisi emosional siswa mulai stabil, barulah penyesuaian pembelajaran dapat dilakukan bertahap sesuai kesiapan mereka.
Pada akhirnya, pemulihan pendidikan pascabencana tidak cukup hanya diukur dari bangunan sekolah yang kembali berdiri.
Pemulihan sejati terletak pada kesehatan mental dan ketahanan psikologis anak-anak sebagai subjek utama pendidikan.
Trauma healing bukan kegiatan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar agar proses pendidikan dapat kembali berjalan secara manusiawi, inklusif, dan bermakna.
Penulis
Aris Munandar, S.Pd
Analis Mutu Pendidikan (ASN Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya).
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Jurusan Manajemen Pendidikan Islam
