Banda Aceh — “Dengan modal bahasa Inggris yang pas-pasan, Alhamdulillah saya bisa keluar bandara. Begitu keluar, langsung disambut oleh ananda Hafizh.”
Kalimat sederhana itu meluncur pelan dari bibir Dessy Elfi. Tidak ada nada berlebihan. Tidak ada ungkapan yang dibuat-buat. Namun di balik kalimat itu tersimpan perjalanan panjang seorang ibu dari pelosok Aceh yang akhirnya menyaksikan sendiri mimpi besar anaknya menjelma menjadi kenyataan di negeri yang berjarak lebih dari 11 ribu kilometer dari kampung halaman.
Perjalanan menuju London bukan sekadar perjalanan lintas benua. Bagi Dessy, seorang bidan yang mengabdikan hidupnya melayani masyarakat di pedalaman Kabupaten Pidie, perjalanan itu adalah perjalanan menuju puncak dari ribuan doa yang selama bertahun-tahun ia titipkan dalam setiap sujudnya.
Di London, ia tidak sedang berlibur. Ia datang untuk menyaksikan putra sulungnya, Hafizh Muyassar, diwisuda dari salah satu kampus terbaik dunia, Imperial College London.
Sebuah pencapaian yang dahulu mungkin terdengar mustahil bagi seorang anak yang lahir dan tumbuh di Geumpang, sebuah kecamatan terpencil di ujung Kabupaten Pidie yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Barat.
Namun kisah ini membuktikan bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas geografis.
Anak Desa yang Jatuh Cinta pada Ilmu Pengetahuan
Hafizh Muyassar lahir 26 tahun silam di Gampong Bangkeh, Kecamatan Geumpang. Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara, putra pasangan Dessy Elfi dan Mufrizal.
Geumpang dikenal sebagai daerah pegunungan yang subur. Hamparan sawah menghasilkan beras pulen, sementara kebun-kebun masyarakat melahirkan durian yang terkenal hingga ke berbagai daerah di Aceh.
Di tengah suasana pedesaan yang akrab dengan alam bebas, Hafizh kecil justru menunjukkan kebiasaan yang berbeda.
Ketika anak-anak seusianya menghabiskan waktu bermain di sungai, kebun, atau lapangan, Hafizh lebih tertarik pada buku, huruf, dan angka.
Pada usia tiga tahun, ia telah mampu mengenali dan mengeja huruf alfabet. Setengah tahun kemudian, ia sudah lancar membaca. Di usia empat tahun, ia mulai menulis dengan baik.
Kemampuannya bahkan membuat pihak sekolah dasar sempat kebingungan. Usianya belum memenuhi syarat masuk SD, tetapi kemampuan akademiknya jauh melampaui anak-anak seusianya.
Akhirnya ia diterima bersekolah lebih awal.
Sejak saat itu, prestasi demi prestasi mulai mengiringi langkahnya.
Hafizh hampir selalu menjadi juara kelas dan berhasil meraih prestasi pada Olimpiade Sains Nasional tingkat kabupaten. Prestasi tersebut mengantarkannya memperoleh kesempatan masuk SMP unggulan tanpa tes.
Jalan Berliku Menuju Mimpi
Perjalanan pendidikan Hafizh tidak selalu berjalan mulus.
Ia sempat menempuh pendidikan di SMP Unggul Sigli, kemudian berpindah ke SMP Insafuddin Banda Aceh. Namun lingkungan pendidikan yang kurang sesuai dengan minat dan potensinya membuatnya kembali berpindah sekolah.
Akhirnya ia melanjutkan pendidikan di SMP YPPU Sigli.
Di sekolah inilah bakatnya di bidang matematika berkembang semakin pesat.
Ia berhasil menjuarai berbagai kompetisi, termasuk Lomba Berhitung Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala.
Kecintaannya pada angka dan logika terus tumbuh. Bagi Hafizh, matematika bukan sekadar pelajaran sekolah, melainkan bahasa universal yang mampu menjelaskan banyak hal tentang dunia.
Ketika lulus SMP, beberapa sekolah unggulan di Aceh membuka pintu untuknya.
Di antara berbagai pilihan, ia memilih melanjutkan pendidikan melalui jalur beasiswa di SMA Fatih Bilingual School, sekolah yang saat itu dikenal memiliki sistem pendidikan modern dan berorientasi internasional.
Di sana, bakat dan minatnya mendapatkan ruang tumbuh yang lebih luas.
Guru-gurunya melihat sesuatu yang istimewa dalam diri anak muda asal Geumpang tersebut.
Pilihan yang Mengubah Masa Depan
Selepas SMA, Hafizh dihadapkan pada persimpangan penting dalam hidupnya.
Seperti banyak orang tua Indonesia lainnya, sang ibu berharap putranya melanjutkan pendidikan ke sekolah kedinasan agar memiliki masa depan yang dianggap lebih pasti.
Hafizh mengikuti keinginan tersebut dan berhasil lolos pada sejumlah tahapan seleksi.
Namun pada saat yang hampir bersamaan, kabar lain datang.
Ia dinyatakan lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi pada Program Studi Matematika Fakultas MIPA Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pilihan sulit pun muncul.
Antara mengikuti jalur kedinasan atau mengejar cita-cita yang telah lama ia impikan.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, keluarga akhirnya memberikan restu.
Hafizh memilih ITB.
Keputusan itu menjadi salah satu titik balik terpenting dalam hidupnya.
Di kampus teknik paling bergengsi di Indonesia tersebut, ia menyelesaikan pendidikan sarjana hanya dalam waktu tiga setengah tahun dan lulus dengan predikat cumlaude.
Pandemi Covid-19 sempat mewarnai masa kuliahnya. Namun berbagai keterbatasan tidak menghentikan semangat belajar yang telah tertanam sejak kecil.
Dari Bandung ke London
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Hafizh bekerja sebagai data scientist di sejumlah perusahaan internasional.
Kariernya berkembang pesat.
Namun rasa haus terhadap ilmu pengetahuan membuatnya kembali mengambil keputusan besar.
Ia ingin melanjutkan studi ke luar negeri.
Melalui jalur beasiswa LPDP, Hafizh mendaftar ke sejumlah universitas ternama di Inggris.
Namanya diterima di beberapa kampus bergengsi, termasuk University of Birmingham.
Namun pilihan akhirnya jatuh kepada Imperial College London, salah satu universitas terbaik dunia yang dikenal sebagai pusat pendidikan dan riset sains, teknologi, serta kecerdasan buatan.
Dengan skor IELTS Band 8 dan rekam jejak akademik yang kuat, ia berhasil memperoleh beasiswa penuh.
Biaya pendidikan yang mencapai miliaran rupiah tidak menjadi hambatan karena negara hadir memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik bangsa untuk menuntut ilmu setinggi mungkin.
Bagi keluarga sederhana dari Geumpang, kesempatan itu adalah karunia yang luar biasa.
Air Mata di Royal Albert Hall
Puncak perjalanan panjang itu tiba pada 2 Juni 2026.
Di Royal Albert Hall, London, salah satu gedung paling prestisius di dunia, ribuan mahasiswa dari berbagai negara berkumpul dalam prosesi wisuda.
Ketika nama Hafizh Muyassar dipanggil, seorang pemuda dari Geumpang berjalan mantap menuju panggung.
Di antara deretan mahasiswa dari Eropa, Amerika, Asia, dan berbagai belahan dunia lainnya, ia berdiri sejajar sebagai bagian dari generasi intelektual global.
Ia tidak hanya lulus.
Ia kembali meraih predikat cumlaude.
Bagi Dessy Elfi yang duduk di antara para orang tua wisudawan, momen itu sulit digambarkan dengan kata-kata.
Air mata mengalir tanpa mampu dibendung.
Dalam benaknya berkelebat perjalanan panjang selama puluhan tahun: masa kecil Hafizh di desa, perjuangan pendidikan, berbagai kesulitan yang pernah dihadapi keluarga, hingga doa-doa panjang yang selalu ia panjatkan setiap malam.
Anak yang dahulu belajar membaca di sebuah desa terpencil kini berdiri di salah satu panggung akademik paling bergengsi di dunia.
“Mama yang Berterima Kasih, Nak”
Usai prosesi wisuda, Hafizh menghampiri ibunya.
Ia memeluk perempuan yang telah menjadi sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya.
Dengan suara bergetar, Hafizh menyampaikan rasa terima kasih atas seluruh pengorbanan dan doa yang telah mengiringi langkahnya.
Namun jawaban sang ibu justru membuat suasana semakin haru.
“Tidak, Nak. Mama yang berterima kasih. Abang telah berjuang mewujudkan impian Mama. Tidak banyak yang bisa Mama berikan selain doa yang tidak pernah putus kepada Allah agar selalu membersamai langkah kalian.”
Kalimat itu lahir dari hati seorang ibu yang tidak pernah menghitung pengorbanannya sebagai beban.
Seorang ibu yang percaya bahwa keberhasilan anak adalah kebahagiaan tertinggi dalam hidupnya.
Ketika Mimpi dari Pedalaman Menjangkau Dunia
Kisah Hafizh Muyassar bukan semata kisah tentang seorang mahasiswa yang lulus dari kampus ternama dunia.
Ini adalah kisah tentang kekuatan pendidikan, ketekunan, dan doa keluarga.
Ini adalah kisah tentang seorang anak desa yang berani bermimpi besar.
Tentang orang tua yang mungkin tidak memiliki kekayaan melimpah, tetapi memiliki keyakinan bahwa pendidikan adalah warisan paling berharga yang dapat diberikan kepada anak-anaknya.
Dari Geumpang hingga London, perjalanan Hafizh mengajarkan satu hal penting: tempat lahir tidak menentukan sejauh mana seseorang bisa melangkah.
Sebab mimpi tidak pernah dibatasi oleh jarak.
Dan terkadang, di balik setiap anak yang berhasil menaklukkan dunia, ada seorang ibu yang diam-diam membangun jalan itu melalui doa-doanya.
Hari itu, di Royal Albert Hall, bukan hanya Hafizh yang meraih gelar.
Seorang ibu dari Aceh juga memetik hasil dari perjuangan yang telah ia tanam selama puluhan tahun.
Karena sesungguhnya, keberhasilan seorang anak adalah wisuda bagi hati seorang ibu.
