BERITAACEH, Banda Aceh – Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke 8, ternyata mampu menampilkan berbagai karya kerajinan tangan Rakyat Aceh. Seperti usaha kerajinan negeri Samudra Pasai (Aceh Utara), produk lokal itu mampu manajupkan pasar belahan dunia, dengan karya yang dilakoninya secara manual.
Sebut saja usaha kerajinan tangan Gampong Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, terkenal sebagai sentral kerajinan tas Aceh berkualitas baik. Berbagai hasil produksi dari kerajinan tangan terampil kualitas diakui dunia.
Siapa sangka, usaha kerajinan Nurlaila (45), kerajinan Ulee Madon hasil karya Masayarakat dari rumah ke rumah yang dikerjakan secara manual, berbagai jenis kerajinan dengan motif khas Aceh seperti Pinto Aceh, Awan Meucanek, dan Pucok Reubong. Hasil karyanya berbagai corak dan motif, seperti tas, dompet, koper, hingga sajadah telah dipasarkan baik di tingkat lokal, nasional, hingga pasar internasional.
Di Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke 8, sosok pengraajin Nurlaila menampilkan keterampilan hasil karya tangan di Stand Badan Usaha Milik Desa (BUMdes). Jensi produk yang ditampilkan hasil karya tangan, usaha yang dilokani jumlah karya mencapai 25 orang. Usaha dilakukan dengan cara manual tanpa alat mesin yang canggih.
“Produk yang Saya pasarkan itu, semua dirancang secara manual. Tanpa alat yang canggih, jumlah karyawan saat ini 25 orang,” katanya, disela-sela PKA ke 8 di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Sabtu, 11 November 2023.
Dia menjelaskan, produk-produk yang dihasilkan semakin bervariasi. Pengrajinnya pun semakin bertambah.
“Aceh yang saat itu menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai dunia telah turut mendongkrak popularitas kerajinan dari Ulee Madon,” jelasnya.
Kualitasnya juga tak kalah dengan produk-produk premium lain hingga akhirnya mampu menjadi salah satu penopang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Hingga saat ini usahanya itu sudah sangat maju bahkan sudah mempekerjakan sekitar 25 orang pengrajin dari awalnya hanya bisa mempekerjakan tiga pengrajin.
Ia mengatakan hasil produksinya ada yang dikirim ke mancanegara di antaranya Spanyol, Kanada, Amerika Serikat, Malaysia.


Nurlaila mengatakan usaha produksi berbagai jenis kerajinan dengan motif khas Aceh seperti Pinto Aceh, Awan Meucanek, dan Pucok Reubong. Adapun harganya bervariasi mulai Rp 35 ribu hingga Rp 500 ribu.
Tas yang paling diminati adalah, tas Luna adalah tas bordir untuk tentengan perempuan. Terutama ibu-ibu muda untuk ke pesta. Bentuknya sederhana, dua tali mengeras dan melengkung ke atas. Penutupnya memakai resleting dipadu aksen bordir selebar telapak tangan dan kancing magnit di ujung. Tersedia dalam aneka motif dan warna.
“Bordirannya cukup memikat. Mungkin ini yang menjadi daya tarik dan mengundang pesona. Seperti Luna Maya. Sudah menjadi kebiasaan saya memberi nama tas dengan nama orang, termasuk nama anak saya,” tandasnya.
Jenis tas ini, kata dia, adalah salah satu produk andalannya. Malahan, jika permintaannya banyak, seperti menjelang Idulfitri atau ada pameran kerajinan, dia memproduksi sampai ratusan dalam sepekan. Umumnya permintaan datang dari toko-toko souvenir di Banda Aceh dan Lhokseumawe.
“Tentu kalau membelinya di tempat kami harganya lebih murah, cuma berkisar Rp.95.000 sebuah tas luna. Bukan hanya tas luna, di sini pembeli masih punya alternatif memilih jenis tas bordir lainnya. Ada tas bule, tas putri, tas eumpang tip, dan aneka dompet dengan aksen bordir yang menarik,” ujar Nurlaila.
Dia menambahkan, dirinya menekuni usaha kerajinan bordir tas tujuh tahun lalu dengan menyulap sebagian garasi rumahnya untuk tempat usaha.
“Tapi mereka tidak semua bekerja di sini, tempatnya kecil, jadi mereka lebih kerasan bekerja di rumah masing-masing. Sistemnya upahan. Saya membayar sesuai jumlah yang mereka buat,” kata
Nurlaila, seraya menambahkan omzetnya mencapai ratusan Juta pertahun.
Riwatyat PKA dari Masa ke Masa
PEKAN Kebudayaan Aceh (PKA) merupakan ajang perhelatan kebudayaan terbesar masyarakat Aceh untuk melestarikan nilai-nilai budaya, sejarah, dan adat istiadat Aceh yang telah diadakan sejak tahun 1958, 1972, 1988, 2004, 2009, 2013, 2018, 2023.
PKA I Tahun 1958
Satu tahun sebelum digelar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) untuk pertama kalinya pada 1957 terbentuk Lembaga Kebudayaan Aceh yang diketuai Mayor T Hamzah. Lembaga ini kemudian mempersiapkan pelaksanaan PKA I pada 1958.
Helatan yang digelar di Gedung Balai Teuku Umar Kutaraja pada 12-23 Agustus 1958 ini mengambil tema “Adat bak Poteumeuruhom, Hukom bak Syiah Kuala”. Nilai-nilai kebudayaan Aceh yang mengalami degradasi dari masa ke masa, digali dan diangkat kembali dalam pengelaran PKA pertama.
Satu hasil penting dari hajatan PKA I lahirnya “Piagam Blangpadang”. Isinya antara lain menghidupkan kembali adat istiadat dan kebudayaan Aceh dalam setiap gerak pembangunan Aceh dan masyarakatnya. Implementasi “Piagam Blangpadang” terus ditindaklanjuti hingga 14 tahun kemudian yang ditandai dengan penyelenggaraan PKA II.
PKA II Tahun 1972
PKA II berlangsung pada 20 Agustus- 2 September 1972. PKA II digelar sebagai upaya memelihara dan meningkatkan ketahanan nasional yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, bu-daya, militer, hankam, dan agama. Selain itu, PKA II juga membuka isolasi dan ketertinggalan daerah Aceh di segala bidang, terutama prasarana fisik, ekonomi, dan sosial budaya. Rangkaian acara PKA II diantaranya: pameran kebudayaan, pawai kebudayaan, seminar kebudayaan, pertunjukan adat, pementasan kesenian, perlombaan rakyat dan kunjungan wisata.
PKA III Tahun 1988
PKA-3 dilaksanakan pada tahun 1988, di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. Helatan periode ini menguatkan kembali nilai-nilai agama, tradisi, ideologi, ekonomi, pertahanan keamanan, dan sosial budaya masyarakat Aceh. Sederet topik terkait nilai-nilai tersebut di-diskusikan dalam seminar budaya dengan tema “Wajah Rakyat Aceh dalam Lintasan Sejarah”, “Hari Depan Kebudayaan Aceh”, “Identitas Kesenian Aceh di Tengah Pengembangan Budaya Modern” dan “Peranan Sastra Aceh dalam Sastra Indonesia”, dan lainnya.
PKA IV Tahun 2004
PKA IV dilaksanakan pada 19 – 28 Agustus 2004. Hajatan periode ini juga menandakan penetapan Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, sebagai venue utama pelaksanaan PKA. Sejumlah anjungan Kabupaten/Kota dibangun di Taman Sulthanan Safiatuddin. Rangkaian acara PKA IV antara lain: atraksi budaya, pasar seni, pameran buku, pawai budaya, dan kenduri massal. Helatan tahun ini berlangsung meriah dan cukup menarik antusiasme masyarakat Aceh untuk menyaksikannya.
PKA V Tahun 2009
Pelaksanaan PKA V menjadi titik kebangkitan kembali masyarakat Aceh setelah dilanda gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. Terlebih Aceh sudah menandatangani perjanjian damai RI dan GAM pada 2005.
PKA V digelar pada 2 – 11 Agustus 2009 di Taman Sulthanah Safiatuddin. Mengangkat tema “Satukan Langkah, Bangun Aceh dengan Tamaddun”. Kegiatannya antara lain parade budaya, gebyar seni, seminar budaya, aneka lomba permainan rakyat, dan expo.
Perhelatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta dan apresiasi masyarakat dalam mengaktualisasikan nilai-nilai budaya Aceh yang islami, melestarikan keragaman budaya dalam memperkokoh kedamaian yang abadi di Aceh, meningkatkan peran serta masyarakat sekaligus mempromosikan adat dan produk budaya maupun pariwisata Aceh.
PKA VI Tahun 2013
PKA VI diselenggarakan pada 20-29 September 2013 di Taman Sulthanah Syafiatuddin. Mengangkat tema “Aceh Satu Bersama”, perhelatan kali ini ingin membentuk kepribadian masyarakat Aceh yang lebih berbudaya, juga untuk menumbuhkan pemahaman, pengamatan, dan pelestarian nilai budaya daerah yang lebih luhur dan beradab untuk mengangkat harkat dan martabat manusia yang dijiwai oleh nilai-nilai agama.
Rangkaian kegiatan antara lain; pawai budaya, pameran, anugerah budaya, gebyar seni, temu budaya, lomba permainan rakyat, Aceh satu dalam sejarah, dan atraksi budaya.
PKA VII Tahun 2018
PKA-VII digelar pada 5-15 Agustus 2018, di Banda Aceh, dengan tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat”, karena kebudayaan Aceh sangat identik dengan nilai-nilai syariat.
Religi telah menjadi fokus kebudayaan Aceh sejak Islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui daerah Aceh. PKA-VII diisi dengan berbagai kegiatan antaranya pawai budaya, pameran dan eksibisi, lomba atraksi budaya, festival seni dan budaya, seminar kebudayaan dan kemaritiman, serta anugerah budaya.
PKA VIII Tahun 2023
PKA VIII akan dilaksanakan pada tanggal 04 – 12 November 2023, lokasi pelaksanaannya di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh. Mengangkat tema “Jalur Rempah” dengan tagline “Rempahkan Bumi Pulihkan Dunia”.
Dengan berbagai rangkaian kegiatan antara lain: pawai budaya, pameran sejarah jalur rempah, festival busana, festival kuliner, pertunjukan dan lomba seni budaya, pertunjukan dan lomba adat budaya, aneka lomba permainan rakyat, seminar internasional, dan business matching. (ADV)




