Advertorial

Al Qur’an Karya Ulama Aceh Yang Ditulis Tangan Pada Abad ke 17, Ditampilkan di Rumoh Manuskrip Aceh Momen PKA ke 8

IMG20231105122508
Ukuran Font
A A 100%

BERITAACEH, Banda Aceh – Al Qur’an kuno karya Ulama Aceh yang ditulis tangan pada abad ke 17, ditampilkan di Rumoh Manuskrip Aceh pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke 8. Mushaf Al-Quran Kuno ukuran 23 X 33 Cm, ditulis tahun 1696 Masehi, kertas Venice Eropa, ukuran Teks 11 X 21 Cm, 15 baris perhalan halaman, sedangkan sampulnya berasal dari kulit hewan.

Mushaf Al-Qur’an kuno ini merupakan warisan karya tulisan tangan atau manuskrip yang sangat indah dan lengkap. Pada tulisan Al Qur’an itu terlihat lukisan motif Aceh.

Pada Iluminasi disetiap bahagian tersebut memiliki corak yang berbeda. Menunjukkan karakteristik bentuk dan warna khas ke Acehan, yaitu memiliki mahkota, Tameh Puntong dan Taloe Meuputa. Sedangkan warna yang ditonjolkan mendominasi hitam, merah dan kuning, sebagai warna lambang Kerajaan Aceh Darussalam.

“Menurut peneliti Dunia, Mushaf Al-Qur’an Aceh, memiliki gaya khas tersendiri yang cukup indah, dimana ketika di identifikasikan dengan jelas pola dasar, motif hiasan, dan pewarnaannya,” kata Tarmizi Hamid, Tokoh Kebudayaan Aceh, di Rumoh Manuskrip Aceh, di Banda Aceh pada, Senin, 6 November 2023.

Iluminasi khas ini terdapat di bagian awal, tengah dan akhir Al-Qur’an. Iluminasi di dua halaman simetris di awal Al-Qur’an berisi surah Al Fatihah dan awal Surah Al Baqarah.

“Iluminasi khas ini terdapat di bagian awal, tengah dan akhir Al-Qur’an. Iluminasi dua halaman simetris di awal Al-Qur’an berisi surah Al Fatihah dan awal Surah Al Baqarah,” jelas Tarmizi.

Tradisi pemberian iluminasi di bagian ini merupakan bagian dari tradisi penting penyalinan Al-Qur’an di Dunia Islam khususnya Aceh. Hasil dari identifikasi awal beberapa koleksi Mushaf Al-Qur’an Kuno milik pribadi, telah menguraikan dalam setiap baris teks terdiri dari 15 baris.

“Kecuali dihalaman yang dipenuhi iluminasi dan pada surah Yusuf yang ditutup dengan bentuk kerucut segi tiga ke bawah berturut-turut dua kali,” ungkapnya.

Sesuatu yang sangat jarang ditemui di dunia pernaskahan ciri khas tradisi Mushaf Al-Qur’an Aceh, di segi teknologi kertas sebagai alas medianya sebuah Mushaf Al Qur’an, Aceh sangat terdepan pada eranya menggunakan kertas impor dari Eropa.

“Cap air bulan sabit bersusun tiga yang berasal dari Vinice (Italia) dicetak pada tahun 1696 Masehi, sungguh luar biasa,” Jelas Tarmizi.

Aceh diakui oleh pakar keilmuan islam di dunia, semenjak abad ke 13 proses awal penulisan Mushaf Al-Qur’an dimulai dari Negeri Pasee, tradisi itu menjadi puncak islamisasi ke seluruh kerajaan-kerajaan kecil di Aceh.

“Pada tradisi penyalinan Mushaf Al-Qur’an Aceh ini dapat ditandai di Mushaf dimana ciri status yang terhias dengan berbagai macam ragam hias dan motif-motif ukiran yang sangat indah iluminasi ini bertanda bahwa mushaf tersebut adalah order pesanan dari Istana,” paparnya.

Sedangkan mushaf Al-Qur’an yang tidak ada ragam hias, dan juga ukuran yang berbeda juga, ini disebarkan ke masyarakat Islam dan Zawiyah (Dayah). Aceh telah membuktikan diri sebagai bangsa masa-masa kejayaannya pada era Kerajaan Aceh, bidang penulisan di Asia Tenggara.

“Banyak dijumpai bukti otentik naskah kuno atau manuskrisi, salah satu Mushaf Al Qur’an dan batu Nisan yang dituliskan dengan tangan oleh cendikiawan masa gemilang tersebut,” paparnya lagi.

Aceh, dalam histori terkenal sebagai sebuah sentral kebudayaan dan pemilik peradaban islam terkemuka dan melahirkan ulama-ulama, dimana karyanya telah menghasilkan beragam karya dalam budaya tulis menulis.

Riwayat PKA dari Masa ke Masa

PEKAN Kebudayaan Aceh (PKA) merupakan ajang perhelatan kebudayaan terbesar masyarakat Aceh untuk melestarikan nilai-nilai budaya, sejarah, dan adat istiadat Aceh yang telah diadakan sejak tahun 1958, 1972, 1988, 2004, 2009, 2013, 2018, 2023.

PKA I Tahun 1958

Satu tahun sebelum digelar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) untuk pertama kalinya pada 1957 terbentuk Lembaga Kebudayaan Aceh yang diketuai Mayor T Hamzah. Lembaga ini kemudian mempersiapkan pelaksanaan PKA I pada 1958.

Helatan yang digelar di Gedung Balai Teuku Umar Kutaraja pada 12-23 Agustus 1958 ini mengambil tema “Adat bak Poteumeuruhom, Hukom bak Syiah Kuala”. Nilai-nilai kebudayaan Aceh yang mengalami degradasi dari masa ke masa, digali dan diangkat kembali dalam penggelaran PKA pertama.

Satu hasil penting dari hajatan PKA I lahirnya “Piagam Blangpadang”. Isinya antara lain menghidupkan kembali adat istiadat dan kebudayaan Aceh dalam setiap gerak pembangunan Aceh dan masyarakatnya. Implementasi “Piagam Blangpadang” terus ditindaklanjuti hingga 14 tahun kemudian yang ditandai dengan penyelenggaraan PKA II.

PKA II Tahun 1972

PKA II berlangsung pada 20 Agustus- 2 September 1972. PKA II digelar sebagai upaya memelihara dan meningkatkan ketahanan nasional yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, bu-daya, militer, hankam, dan agama. Selain itu, PKA II juga membuka isolasi dan ketertinggalan daerah Aceh di segala bidang, terutama prasarana fisik, ekonomi, dan sosial budaya. Rangkaian acara PKA II diantaranya: pameran kebudayaan, pawai kebudayaan, seminar kebudayaan, pertunjukan adat, pementasan kesenian, perlombaan rakyat dan kunjungan wisata.

PKA III Tahun 1988

PKA-3 dilaksanakan pada tahun 1988, di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. Helatan periode ini menguatkan kembali nilai-nilai agama, tradisi, ideologi, ekonomi, pertahanan keamanan, dan sosial budaya masyarakat Aceh. Sederet topik terkait nilai-nilai tersebut di-diskusikan dalam seminar budaya dengan tema “Wajah Rakyat Aceh dalam Lintasan Sejarah”, “Hari Depan Kebudayaan Aceh”, “Identitas Kesenian Aceh di Tengah Pengembangan Budaya Modern” dan “Peranan Sastra Aceh dalam Sastra Indonesia”, dan lainnya.

PKA IV Tahun 2004

PKA IV dilaksanakan pada 19 – 28 Agustus 2004. Hajatan periode ini juga menandakan penetapan Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, sebagai venue utama pelaksanaan PKA. Sejumlah anjungan Kabupaten/Kota dibangun di Taman Sulthanan Safiatuddin. Rangkaian acara PKA IV antara lain: atraksi budaya, pasar seni, pameran buku, pawai budaya, dan kenduri massal. Helatan tahun ini berlangsung meriah dan cukup menarik antusiasme masyarakat Aceh untuk menyaksikannya.

PKA V Tahun 2009

Pelaksanaan PKA V menjadi titik kebangkitan kembali masyarakat Aceh setelah dilanda gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. Terlebih Aceh sudah menandatangani perjanjian damai RI dan GAM pada 2005.

PKA V digelar pada 2 – 11 Agustus 2009 di Taman Sulthanah Safiatuddin. Mengangkat tema “Satukan Langkah, Bangun Aceh dengan Tamaddun”. Kegiatannya antara lain parade budaya, gebyar seni, seminar budaya, aneka lomba permainan rakyat, dan expo.

Perhelatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta dan apresiasi masyarakat dalam mengaktualisasikan nilai-nilai budaya Aceh yang islami, melestarikan keragaman budaya dalam memperkokoh kedamaian yang abadi di Aceh, meningkatkan peran serta masyarakat sekaligus mempromosikan adat dan produk budaya maupun pariwisata Aceh.

PKA VI Tahun 2013

PKA VI diselenggarakan pada 20-29 September 2013 di Taman Sulthanah Syafiatuddin. Mengangkat tema “Aceh Satu Bersama”, perhelatan kali ini ingin membentuk kepribadian masyarakat Aceh yang lebih berbudaya, juga untuk menumbuhkan pemahaman, pengamatan, dan pelestarian nilai budaya daerah yang lebih luhur dan beradab untuk mengangkat harkat dan martabat manusia yang dijiwai oleh nilai-nilai agama.

Rangkaian kegiatan antara lain; pawai budaya, pameran, anugerah budaya, gebyar seni, temu budaya, lomba permainan rakyat, Aceh satu dalam sejarah, dan atraksi budaya.

PKA VII Tahun 2018

PKA-VII digelar pada 5-15 Agustus 2018, di Banda Aceh, dengan tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat”, karena kebudayaan Aceh sangat identik dengan nilai-nilai syariat.

Religi telah menjadi fokus kebudayaan Aceh sejak Islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui daerah Aceh. PKA-VII diisi dengan berbagai kegiatan antaranya pawai budaya, pameran dan eksibisi, lomba atraksi budaya, festival seni dan budaya, seminar kebudayaan dan kemaritiman, serta anugerah budaya.

PKA VIII Tahun 2023

PKA VIII akan dilaksanakan pada tanggal 04 – 12 November 2023, lokasi pelaksanaannya di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh. Mengangkat tema “Jalur Rempah” dengan tagline “Rempahkan Bumi Pulihkan Dunia”.

Dengan berbagai rangkaian kegiatan antara lain: pawai budaya, pameran sejarah jalur rempah, festival busana, festival kuliner, pertunjukan dan lomba seni budaya, pertunjukan dan lomba adat budaya, aneka lomba permainan rakyat, seminar internasional, dan business matching. (ADV)