Daerah

Cerita Pengantin Baru Boh Kaca Berturut-Turut Tiga Malam Di Negeri Breuh Sigupai

IMG20231107105253
Ukuran Font
A A 100%

BERITAACEH, Banda Aceh – Acara pesta pernikahan merupakan sebuah moment penting dan berharga bagi pasangan pengantin baru. Moment bahagia paling ditunggu-tunggu calon pengantin baru, setelah ikral Ijab dan Kabul, untuk menempuh hidup baru.

Calon penggantin mulai hitung jari terhitung penentuan hari pernikahan, pemilihan baju pengantin, konsep acara, serta berbagai persiapan menjelang prosesi pernikahan.

Tak terkecuali, di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) atau lebih dikenal dengan sebutan Negeri Breuh Sigupai. Salah satu tradisi itu adalah menjelang pelaksaan pernikahan yang masih berlaku hingga saat ini adalah menghias kuku, tangan, dan kaki calon pengantin wanita. Tradisi ini di kenal dengan “malam Boh Gaca”.

“Malam Goh Gaca (kegiatan menghias kuku, tangan dan kaki calon pengantin dengan menggunakan Inai) biasanya berlangsung selama 2-3 malam berturut,” kata Asiah Official Stand Boh Gaca Abdya di Mesium Aceh, Selasa, 7 November 2023.

Malam Boh Gaca disebut juga sebagai Malam Berinai, di mana tangan dan kaki mempelai wanita diberi gambar ukiran menggunakan henna atau inai. Bagian kuku juga diwarnai dengan sari daun pacar.

“Motif ukiran yang dilukiskan pun bukan sembarangan. Ada gambar seperti pintu rumah khas Aceh, sulur tumbuhan, dan beberapa bentuk yang kental nuansa Islami,” paparnya.

Ceritanya, tradisi ini digelar di kediaman dara baro (sebutan bagi mempelai wanita Aceh) sebelum akad nikah. Orang-orang Aceh zaman dahulu menggelar Malam Boh Gaca 3-7 hari jelang acara pernikahan.

“Sebagian daerah di Aceh yang masih kental dengan adat, biasanya inai yang digunakan adalah daun pacar yang digiling halus secara tradisional menggunakan batu ditambah dengan beberapa ritual,” jelasnya.

Inai yang berasal dari daun pacar dihaluskan ini sebelum digunakan terlebih dahulu di “Peusijuk” oleh salah satu dari perempuan yang dituakan dan mengerti tentang adat di kampung.

Malam Boh Gaca dihadiri oleh kerabat dekat dara baro, terutama saudara-saudara tua. Tradisi ini sekaligus dijadikan momen meminta dan memberi doa restu agar kelak pernikahan dara baro berlangsung lancar.

“Pada mulanya, Malam Boh Gaca juga digunakan sebagai bentuk undangan atau mengumumkan kabar bahagia pada keluarga besar bahwa akan diselenggarakan pesta pernikahan. Keluarga dari ayah dan ibu dara baro berkumpul untuk mempererat tali silaturahmi,” ungkapnya.

Selain itu, saudara tua yang hadir di Malam Boh Gaca juga memberikan nasihat tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga kepada dara baro. “Mereka yang sudah lebih dulu membina keluarga membagikan sedikit nasihat dan pengalamannya sebagai bekal untuk mempelai,” ceritanya.

Meski kegiatan menghiasai kuku dan telapak tangan serta kaki ini hanya prosesi adat semata dan tidak diwajibkan dalam agama, tapi masyarakat menyakini bahwa setiap proses yang dijalani dalam adat boh gaca ini memiliki makna dan pengaruh terhadap kehidupan rumah tangga si calon pengantin.

“Menurut para tetua, daun gaca atau Inai ini merupakan lambang seorang istri dalam rumah tangga, yakni sebagai pelipur lara dan hiasan rumah tangga. Oleh karena itu, tradisi nih gaca ini tidak boleh dianggap sepele oleh calon pengantin,” urainya.

Larangan Pengantin Mempelai Wanita

Jika mengikuti aturan aslinya, Malam Boh Gaca berlangsung 3-7 hari jelang akad nikah. Dara baro dilarang keluar rumah atau bertemu dengan linto baro (sebutan untuk mempelai pria Aceh) selama beberapa hari tersebut.

“Malam Boh Gaca juga dimaksudkan sebagai masa pingitan bagi dara baro. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang gak diinginkan demi keamanan dan keselamatan calon pengantin,” jelasanya.

Boh Gaca Tradisi Hiasan Pengantin Wanita di Aceh

Ketua tim dewan juri perlombaan adat budaya Aceh Boh Gaca (memakai inai) umumnya persiapan acara perkawinan.

“Ada yang melakukan sebelum atau sesudah nikah tergantung jarak waktu antara nikah dengan acara walimah,” terang Nur Asmah.

Boh gaca sebagai seni, keindahan. Bahwa orang Aceh sangat terikat dengan keindahan. Biasa ada diukir menurut budaya daerah masing-masing,

“Jadi motif yang ada di daerah itu yang dituangkan kedalam ukirannya”, ujarnya.

Ditanya apa perbedaaan boh inai dulu dengan menggiling dengan batu dengan sekarang, ia katakan prinsipnya inai yang asli, berarti tetap ada proses penggilingan.

“Bahkan ada mulai petik secara beramai-ramai, kemudian giling satu orang, kemudian ada Petunjuk. Itu peusijuk tergantung daerah tidak semua daerah ada peusijuk”, ujar Nur Asmah Hamzah dibenarkan Irma anggota dewan juri.

Boh Gaca Asimilasi Budaya India

Irma menambahkan, boh gaca tradisi Aceh yang memang kalau ditanya kapan, itu kalau zaman dahulu, kan ada asimilasi budaya. Asalnya dari India, budaya Aceh juga sudah terasimilasi dengan budaya India.

“Nah untuk motifnya, kita berusaha untuk motif-motif yang ada di Aceh. Biasanya motif bunga-bunga, daun-daun”, kata Irma.

Kemudian apa maknanya kita melakukan lomba boh gaca ini, terang Irma lagi, karena boh gaca ini sudah semakin hari itu senakin ada pergeseran nilai-nilainya.

“Misalnya kan, kalau kita biasanya boh gaca, kemudian menggiling inai bersama-sama dengan keluarga, disitulah kita saling memberi nasehat kepada pengantin, jadi itu tergantung daerah”, urainya.

Misalnya tadi kita lihat ada daerah Aceh Tenggara, Irma mencontohkan, sambil menyampaikan syair-syair jangan lupa orang tua, nasehat-nasehat, setelah menikah itu nantinya akan dibawa oleh suami.

“Kewajiban orang tua itu sudah putus, disitulah mereka bersama-sama berkumpul memberi nasehat, mengingatkan.”, katanya.

Riwatyat PKA dari Masa ke Masa

PEKAN Kebudayaan Aceh (PKA) merupakan ajang perhelatan kebudayaan terbesar masyarakat Aceh untuk melestarikan nilai-nilai budaya, sejarah, dan adat istiadat Aceh yang telah diadakan sejak tahun 1958, 1972, 1988, 2004, 2009, 2013, 2018, 2023.

PKA I Tahun 1958

Satu tahun sebelum digelar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) untuk pertama kalinya pada 1957 terbentuk Lembaga Kebudayaan Aceh yang diketuai Mayor T Hamzah. Lembaga ini kemudian mempersiapkan pelaksanaan PKA I pada 1958.

Helatan yang digelar di Gedung Balai Teuku Umar Kutaraja pada 12-23 Agustus 1958 ini mengambil tema “Adat bak Poteumeuruhom, Hukom bak Syiah Kuala”. Nilai-nilai kebudayaan Aceh yang mengalami degradasi dari masa ke masa, digali dan diangkat kembali dalam pengelaran PKA pertama.

Satu hasil penting dari hajatan PKA I lahirnya “Piagam Blangpadang”. Isinya antara lain menghidupkan kembali adat istiadat dan kebudayaan Aceh dalam setiap gerak pembangunan Aceh dan masyarakatnya. Implementasi “Piagam Blangpadang” terus ditindaklanjuti hingga 14 tahun kemudian yang ditandai dengan penyelenggaraan PKA II.

PKA II Tahun 1972

PKA II berlangsung pada 20 Agustus- 2 September 1972. PKA II digelar sebagai upaya memelihara dan meningkatkan ketahanan nasional yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, bu-daya, militer, hankam, dan agama. Selain itu, PKA II juga membuka isolasi dan ketertinggalan daerah Aceh di segala bidang, terutama prasarana fisik, ekonomi, dan sosial budaya. Rangkaian acara PKA II diantaranya: pameran kebudayaan, pawai kebudayaan, seminar kebudayaan, pertunjukan adat, pementasan kesenian, perlombaan rakyat dan kunjungan wisata.

PKA III Tahun 1988

PKA-3 dilaksanakan pada tahun 1988, di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. Helatan periode ini menguatkan kembali nilai-nilai agama, tradisi, ideologi, ekonomi, pertahanan keamanan, dan sosial budaya masyarakat Aceh. Sederet topik terkait nilai-nilai tersebut di-diskusikan dalam seminar budaya dengan tema “Wajah Rakyat Aceh dalam Lintasan Sejarah”, “Hari Depan Kebudayaan Aceh”, “Identitas Kesenian Aceh di Tengah Pengembangan Budaya Modern” dan “Peranan Sastra Aceh dalam Sastra Indonesia”, dan lainnya.

PKA IV Tahun 2004

PKA IV dilaksanakan pada 19 – 28 Agustus 2004. Hajatan periode ini juga menandakan penetapan Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, sebagai venue utama pelaksanaan PKA. Sejumlah anjungan Kabupaten/Kota dibangun di Taman Sulthanan Safiatuddin. Rangkaian acara PKA IV antara lain: atraksi budaya, pasar seni, pameran buku, pawai budaya, dan kenduri massal. Helatan tahun ini berlangsung meriah dan cukup menarik antusiasme masyarakat Aceh untuk menyaksikannya.

PKA V Tahun 2009

 Pelaksanaan PKA V menjadi titik kebangkitan kembali masyarakat Aceh setelah dilanda gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. Terlebih Aceh sudah menandatangani perjanjian damai RI dan GAM pada 2005.

PKA V digelar pada 2 – 11 Agustus 2009 di Taman Sulthanah Safiatuddin. Mengangkat tema “Satukan Langkah, Bangun Aceh dengan Tamaddun”. Kegiatannya antara lain parade budaya, gebyar seni, seminar budaya, aneka lomba permainan rakyat, dan expo.

Perhelatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta dan apresiasi masyarakat dalam mengaktualisasikan nilai-nilai budaya Aceh yang islami, melestarikan keragaman budaya dalam memperkokoh kedamaian yang abadi di Aceh, meningkatkan peran serta masyarakat sekaligus mempromosikan adat dan produk budaya maupun pariwisata Aceh.

PKA VI Tahun 2013

PKA VI diselenggarakan pada 20-29 September 2013 di Taman Sulthanah Syafiatuddin. Mengangkat tema “Aceh Satu Bersama”, perhelatan kali ini ingin membentuk kepribadian masyarakat Aceh yang lebih berbudaya, juga untuk menumbuhkan pemahaman, pengamatan, dan pelestarian nilai budaya daerah yang lebih luhur dan beradab untuk mengangkat harkat dan martabat manusia yang dijiwai oleh nilai-nilai agama.

Rangkaian kegiatan antara lain; pawai budaya, pameran, anugerah budaya, gebyar seni, temu budaya, lomba permainan rakyat, Aceh satu dalam sejarah, dan atraksi budaya.

PKA VII Tahun 2018

PKA-VII digelar pada 5-15 Agustus 2018, di Banda Aceh, dengan tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat”, karena kebudayaan Aceh sangat identik dengan nilai-nilai syariat.

Religi telah menjadi fokus kebudayaan Aceh sejak Islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui daerah Aceh. PKA-VII diisi dengan berbagai kegiatan antaranya pawai budaya, pameran dan eksibisi, lomba atraksi budaya, festival seni dan budaya, seminar kebudayaan dan kemaritiman, serta anugerah budaya.

PKA VIII Tahun 2023

PKA VIII akan dilaksanakan pada tanggal 04 – 12 November 2023, lokasi pelaksanaannya di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh. Mengangkat tema “Jalur Rempah” dengan tagline “Rempahkan Bumi Pulihkan Dunia”.

Dengan berbagai rangkaian kegiatan antara lain: pawai budaya, pameran sejarah jalur rempah, festival busana, festival kuliner, pertunjukan dan lomba seni budaya, pertunjukan dan lomba adat budaya, aneka lomba permainan rakyat, seminar internasional, dan business matching. (ADV)