BERITAACEH.co, Banda Aceh – Dinas Kesehatan Aceh (Dinkes) terus melakukan upaya memperbaikikan gizi sasaranyan untuk remaja putri, target menurunkan angka stunting di Aceh. Hal ini menjadi perhatian Pemerintah target penurunan stunting skala Nasional, di Indonesia sudah ditetapkan sebesar 14 persen pada tahun 2024. Saat ini kasus stunting masih di angka 24 persen.
“Memperbaiki gizi remaja putri menjadi kunci mengatasi stunting,”, Kapala Seksi Kesehatan Kelurga (Kesga) dan Gizi Dinas Kesehatan Aceh, dr. Dara Juliana, M.Kes, Rabu, (2/11/2022).
Dinkes Aceh berkomitmen untuk meningkatkan status gizi remaja putri melalui pendidikan gizi seimbang dan pemberian suplemen tablet tambah darah (TTD). Juga mendemonstrasikan pendekatan terintegrasi yang melibatkan kegiatan di sekolah dan di luar sekolah demi memastikan serapan TTD serta meningkatkan pengetahuan remaja tentang gizi yang baik.
“Penerapan memperbaiki gizi remaja lewat pendampingan dan penerapan praktik terbaik lewat kearifan lokal demi mendukung upaya percepatan penurunan stunting di Aceh,” ungkapnya.
Program ini dilaksanakan melalui pendekatan lintas sektoral dan kolaboratif demi memperkuat komitmen pemerintah terhadap gizi dan kesehatan remaja putri. Untuk mencegah efek malnutrisi yang tidak dapat disembuhkan, pemilihan waktu sangatlah penting.
“Setelah waktu krusial di masa kanak-kanak, masa remaja memberi kesempatan kedua untuk meningkatkan nutrisi, pertumbuhan dan perkembangan,” paparnya.
Gizi yang baik pada masa remaja ini dapat mendorong pertumbuhan fisik dan mental yang optimal; memberikan remaja kekuatan dan fokus untuk belajar, bekerja, menangkal penyakit, dan berpartisipasi penuh di masyarakat.
Masalah Kesehatan Remaja Permasalahan seputar gizi dan kesehatan pada remaja tidak dapat dianggap remeh, karena dampaknya berpengaruh hingga jangka panjang. Pertumbuhan pada masa remaja menuntut kebutuhan nutrisi yang tinggi agar tercapai potensi pertumbuhan secara maksimal karena nutrisi dan pertumbuhan merupakan hubungan integral. Khusus pada remaja putri, perhatian harus lebih ditekankan terhadap persiapan mereka sebelum menikah.
Persiapan ini penting karena remaja putri kelak akan menjadi calon ibu yang melahirkan bayi. Kesehatan bayi selama dalam kandungan sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu sejak remaja.
“Jika ingin melahirkan bayi sehat dan kelak menjadi generasi penerus bangsa yang membanggakan, sejak remaja calon ibu harus membiasakan mengonsumsi makanan bergizi untuk mencegah anemia, masalah gizi yang paling sering dijumpai pada remaja,” paparnya.
Masalah lainnya yang kerap dijumpai kaum remaja adalah obesitas. Untuk itu perlu bagi remaja untuk aktif melakukan aktivitas fisik yang berguna untuk membakar kelebihan kalori. Membatasi diri mengonsumsi pangan manis, asin, berlemak, juga sangat berperan mencegah obesitas. Dengan menjaga kesehatan sejak remaja, kelak saat menjadi ibu akan melahirkan bayi sehat dan berkualitas.
“Gambaran bangsa di masa depan dapat terlihat dari kondisi remajanya saat ini,” pungkaynya.
Sementara Pemerintah Indonesiai menargetkan penurunan stunting di Indonesia sudah ditetapkan sebesar 14 persen pada tahun 2024. Saat ini kasus stunting masih di angka 24 persen.
Dirjen Kesehatan Masyarakat dr. Maria Endang Sumiwi, MPH mengatakan stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada Balita karena kurangnya asupan gizi atau asupan gizi yang tidak adekuat. Penyebab lainya juga karena ada infeksi berulang atau karena kurangnya stimulasi asupan gizi.
“Kuncinya adalah mengelola implementasi di lapangan sehingga upaya kita aksi bergizi ini adalah upaya kita untuk memperbaiki atau membuat gerakan implementasi di lapangan. Sehingga untuk mencapai 14% dibutuhkan dukungan dan kerja sama semua pihak yang bentuknya itu adalah bentuk gerakan,” ujar Dirjen Endang pada Konferensi Pers Gerakan Nasional Aksi Bergizi, Senin (24/10) di Jakarta.
Dikatakan Dirjen Endang, dari data stunting kita pada saat lahir itu bayi kita sudah 23 persen dalam kondisi stunted panjang badan di bawah 48 persen. Sisanya 77 persen atau hampir 80 persen itu sesudah lahir, pada pasca kelahiran. Shingga kita harus membuat intervensi itu dua yaitu intervensi sebelum kelahiran dan intervensi sesudah kelahiran.
“Aksi bergizi ini adalah salah satu intervensi sebelum kelahiran ada di dalam Perpres nomor 72 tahun 2021, yang menjadi indikator penting yaitu remaja putri menerima tablet tambah darah atau mengonsumsi tablet tambah darah dengan target 90 persen,” ucap Dirjen Endang.
Perlunya intervensi kepada remaja putri karena sebelum kelahiran bayi, harus diperbaiki kondisi gizinya, bahkan sejak remaja. Karena nanti pada saat remaja perilaku untuk asupan gizi yang baik akan terbawa sampai dengan nanti menjadi dewasa lalu memasuki masa kehamilan.
Salah satu gerakan aksi bergizi adalah pemberian tablet tambah darah pada remaja putri. Menurut Riskesdas 2018 anemia pada remaja itu masih sangat tinggi di atas 20 persen. Secara rinci, anemia pada anak usia 5 sampai 14 tahun sebesar 26,8 persen, usia 15 sampai dengan 24 tahun mencapai 32 persen.
Untuk kepatuhan remaja putri mengonsumsi tablet tambah darah saat ini masih rendah. Remaja putri yang memperoleh tablet tambah darah dalam 12 bulan terakhir mencapai 76,2 persen, tetapi hanya 1,4 persen remaja putri yang mengkonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran.
“Ini adalah hal yang penting untuk meningkatkan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri sekaligus juga memperbaiki perilaku mengonsumsi gizi seimbang,” katanya.
“Inilah yang akan kita gerakan di dalam gerakan nasional aksi bergizi supaya jadi gerakan bersama dalam mengonsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri,” tambah Dirjen Endang. (ADV/Pariwara)





