Headline

Empat tahun di Makkah, Teungku Chik Pante Kulu telah menjadi Ulama Besar dan Mendapat Gelar Syekh

FB_IMG_1692711936743
Ukuran Font
A A 100%

BERITAACEH, Banda Aceh | Teungku (Tgk) Chik Pante Kulu sosok cendekiawan dan pahlawan kesultanan Aceh Darussalam dan juga penulis Hikayat Prang Sabi ini terletak di kawasan tanah datar bersebelahan dengan persawahan Desa Lam Leuot, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, Aceh .

Di antara makam- makam lain di sana, makam Teungku Chik Pante Kulu menonjol karena kain merah yang membentang di atasnya. Beton berlapis keramik putih yang telah berubah warna menjadi cokelat karena lumut mengelilingi anak tangga yang terbuat dari tanah.

Hanya ada satu hal yang menunjukkan bahwa itu adalah makam ulama besar: tulisan nama dalam huruf Arab di kepala makam, meskipun tulisannya tidak jelas karena sudah pudar.

Area makam tampak sepi ketika Acehkini mengunjunginya pada Minggu sore, dua hari menjelang Ramadhan, pertengahan April 2021. Kami melepas tali dari dedaunan kering yang mengunci pintu pagar besi.

“Hanya pada hari-hari tertentu saja yang ada peziarah,” kata seorang pria yang sedang menggembalakan ternak di dekat makam.

Sepelemparan batu dari makam, ada Dayah Makam Teungku Chik Pante Kulu. Ada ruang belajar kayu dan bangunan beton tempat orang berwudhu. Namun, lantai ruang belajar berdebu dan ada kotoran kambing. Menandai kegiatan belajar mengajar di sana sepertinya sudah lama terhenti.

Kondisi Makam Teungku Chik Pante Kulu sangat berbeda jika dibandingkan dengan jalan di tengah kota Banda Aceh yang mengambil nama ulama besar ini. Juga tidak seperti cerita-cerita yang ditulisnya yang hingga lebih dari seabad kemudian masih dilantunkan untuk membangkitkan semangat masyarakat Aceh.

Siapakah Teungku Chik Pante Kulu?
Teungku Chik Pante Kulu dengan nama lengkap Teungku Chik Muhammad Pante Kulu lahir pada tahun 1251 Hijriah atau 1836 M di Desa Pante Kulu, Kecamatan Titeue, Kabupaten Pidie, Aceh. Teungku Chik Pante Kulu lahir dari keluarga ulama yang memiliki ikatan erat dengan kelompok ulama Tiro.

Ali Hasjmy dalam buku Apa Sebab Aceh Rakyat Aggup Berperang Puhan Tahun Melaagasi Agresi Belanda (1977) menulis bahwa Teungku Chik Pante Kulu kecil pernah belajar Al-Qur’an dan ilmu agama di Jawi (Melayu dengan aksara Arab) dan kemudian melanjutkan studinya di Dayah Tiro dimana ia dibesarkan Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin Dayah Cut.

Beberapa tahun belajar di Dayah Tiro, Teungku Chik Pante Kulu mendapat gelar Teungku di Rangkang atau asisten guru. Ia sudah mahir berbahasa Arab dan telah menyelesaikan sejumlah buku. Atas izin Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin Dayah Cut, ia melanjutkan studi di Makkah sambil menunaikan ibadah haji.

Empat tahun di Makkah, Teungku Chik Pante Kulu telah menjadi ulama besar dan mendapat gelar Syekh atau Teungku Chik. Ia masih berada di Makkah ketika Belanda menyatakan perang terhadap Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1873 M.

Ketika mengetahui bahwa Aceh mulai diserang oleh penjajah Belanda, Teungku Chik Pante Kulu berniat kembali untuk mempertahankan tanah airnya. Tekadnya semakin kuat ketika mendengar bahwa temannya Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman sudah berada di medan perang dan menjabat Panglima Kesultanan Aceh Darussalam.

Menyusun Tales of Prang Sabi
Teungku Chik Pante Kulu kembali ke Aceh dengan kapal pada tahun 1881 M. Dalam perjalanan antara Jeddah (sekarang Arab Saudi) dan Penang (sekarang Malaysia), ia menyusun Hikayat Prang Sabi untuk membangkitkan semangat jihad melawan Belanda.

Menurut Ali Hasjmy, langkah Teungku Chik Pante Kulu dilatarbelakangi oleh kesadarannya bahwa pengaruh puisi-puisi Hassan bin Tsabit sangat besar dalam menyulut semangat jihad di kalangan umat Islam pada masa Nabi.

Hikayat Prang Sabi berisi empat cerita, yaitu Kisah Ainul Mardhiah, Tentara Gajah, Sa’id Salmy, dan Muhammad Amin (kisah anak yang mati hidup kembali).

Dari Penang, Teungku Chik Pante Kulu berlayar ke Aceh. Gurunya di Dayah Tiro, Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin Dayah Cut, kemudian mengirimnya ke Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman yang berada di medan pertempuran di Meureu, Indrapuri, Aceh Besar.

Dalam upacara kehormatan di Kuta Aneuk Galong, Teungku Chik Pante Kulu menyerahkan naskah Hikayat Prang Sabi kepada Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.

Ismail Jakub dalam buku Teungku Tjhik di Tiro Hidup dan Perjuangannanya (1960) menulis, kedatangan Teungku Chik Pante Kulu membuat tentara Aceh di Meureu senang. Mereka geli mendengar pembacaan cerita dengan suara yang merdu.

Dalam syair pertamanya, Teungku Chik Pante Kulu memuji sahabatnya, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.

Amma Ba’du teuma dudo, keu Tjhik di Tiro beunadai Nabi, ulama laen tan tawakai, hana sagaga tem prang sabi. (Adapun nanti dari itu, maka Teungku Chik di Tiro akan menggantikan Nabi, para ulama lainnya tidak percaya kepada Tuhan, bahkan tidak sedikit yang ingin berperang).

Setelah Hikayat Prang Sabi dinyanyikan, menurut Ismail Jakub, masyarakat Aceh semakin tertarik untuk bergabung dengan angkatan perang.

Kisah tersebut mendapat posisi yang sangat baik di jiwa masyarakat Aceh. Ketika Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman pergi ke desa-desa untuk menjelaskan perang melawan Belanda dengan pidato.

Teungku Chik Pante Kulu kemudian melanjutkannya dengan membaca Hikayat Prang Sabi. Dalam waktu singkat, tim melawan Belanda semakin besar.

Dalam perang di jalan Allah, Teungku Chik Pante Kulu menjadi syahid di Lam Leuot dan dimakamkan di sana. acehkini belum menemukan literatur yang menyebutkan tahun kematiannya.

Ketika pecah perang lagi di Aceh antara Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia, Hikayat Prang Sabi dengan lirik yang digubah ulang kembali bergema sebagai sumber semangat juang.

Hingga masa damai sekarang, Prang Sabi masih terdengar di Aceh dalam bentuk lagu.

Saat Prang Sabi masih dinyanyikan, kini Teungku Chik Pante Kulu berada di peristirahatan terakhirnya yang tenang di Lam Leuot.

Nyang meuanggia sajahtra syahid di prang, Tuhan peulandayang beudiadari, hoka shiwa sirawa syahid di prang yang seunang, rijang peutamong syuruga yang diurapi. (Para syahid yang berbahagia dan sejahtera di medan perang, Allah akan memberikan pahala kepada yang berbudi luhur, para syuhada di medan perang sangat bahagia, segera ditempatkan di surga yang tinggi).