Headline

FKG USK Perkuat One Health, Dorong Kurikulum Pendidikan Kesehatan Lintas Profesi

Screenshot_20260825-153033
Ukuran Font
A A 100%

BANDA ACEH — Tantangan kesehatan masyarakat semakin sulit dipisahkan dari persoalan lingkungan, hewan, perubahan iklim, dan pola kehidupan manusia. Karena itu, pendidikan tenaga kesehatan dituntut tidak hanya menghasilkan tenaga profesional yang menguasai bidangnya, tetapi juga mampu bekerja bersama lintas disiplin.

Perspektif tersebut menjadi perhatian Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala (FKG USK) melalui kegiatan Guest Lecture “Integrating One Health into Health Profession Education – Towards Collaborative Curriculum in Indonesia” yang digelar Departemen Oral Biology FKG USK di Banda Aceh.

Kegiatan ini menghadirkan Dr. Nur Indah Binti Ahmad dari Malaysia One Health University Network (MyOHUN) dan Dewi Harfina dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai narasumber. Forum tersebut menjadi ruang akademik untuk memperluas pemahaman sivitas akademika mengenai konsep One Health, pendekatan yang menempatkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sebagai bagian dari satu ekosistem yang saling berkaitan.

Dekan FKG USK mengatakan pendekatan tersebut semakin penting karena persoalan kesehatan saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Penyakit zoonotik, resistensi antimikroba, perubahan iklim, degradasi lingkungan, hingga berbagai persoalan kesehatan masyarakat memiliki keterkaitan yang membutuhkan respons bersama.

«“One Health bukan hanya sebuah konsep, tetapi cara berpikir yang perlu mulai diintegrasikan ke dalam pendidikan tenaga kesehatan. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan untuk melihat persoalan kesehatan secara lebih luas, bekerja secara kolaboratif, dan menghasilkan solusi yang berdampak bagi masyarakat,” ujar Dekan FKG USK.»

Dari Interdisipliner ke Collaborative Learning

Dalam kesempatan sebelum membuka kegiatan, Wakil Rektor USK Bidang Akademik menekankan perlunya perubahan paradigma pendidikan kesehatan. Menurut dia, pembelajaran tidak cukup hanya mempertemukan berbagai disiplin dalam satu forum, tetapi perlu diarahkan pada collaborative learning.

Model tersebut memungkinkan mahasiswa dari berbagai bidang mulai kedokteran, kedokteran gigi, kedokteran hewan, kesehatan masyarakat, kehutanan, pertanian, kelautan hingga teknik untuk sejak dini dilatih memahami persoalan dan mencari solusi secara bersama.

Pergeseran ini dinilai penting karena persoalan kesehatan di lapangan kerap berada di luar batas satu profesi. Penyelesaian masalah kesehatan masyarakat, misalnya, dapat berkaitan dengan kondisi lingkungan, perilaku manusia, kesehatan hewan, tata ruang, pangan, hingga kebijakan pemerintah.

Karena itu, semangat “Integrating One Health into Health Profession Education – Towards Collaborative Curriculum in Indonesia” tidak berhenti pada pengenalan konsep, tetapi diarahkan untuk membangun pola pendidikan yang mampu melahirkan kerja sama nyata.

Wakil Rektor juga mengingatkan agar implementasi One Health tidak berhenti pada seminar, diskusi akademik, atau nota kesepahaman. Kolaborasi antarkeilmuan diharapkan menghasilkan keluaran yang lebih konkret, seperti kurikulum bersama, penelitian lintas disiplin, pengabdian kepada masyarakat, policy brief, inovasi, hingga rekomendasi kebijakan.

Menyiapkan Tenaga Kesehatan Masa Depan

Bagi FKG USK, penguatan pendekatan One Health juga menjadi bagian dari transformasi pendidikan kedokteran gigi. Lulusan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi klinis, tetapi juga mempunyai kemampuan memahami persoalan kesehatan dalam konteks yang lebih luas.

Perspektif tersebut sekaligus memperkuat agenda internasionalisasi pendidikan di USK melalui perluasan jejaring akademik, pertukaran pengetahuan, serta kerja sama dengan institusi dan jejaring internasional.

Wakil Rektor Bidang Akademik mengajak seluruh peserta menjadikan kegiatan tersebut sebagai titik awal terbentuknya jejaring kolaborasi yang lebih luas, termasuk dengan mitra internasional.

Mahasiswa, kata dia, merupakan bagian penting dari proses tersebut. Mereka yang saat ini duduk di ruang kuliah kelak akan menjadi tenaga profesional yang berhadapan langsung dengan kompleksitas persoalan kesehatan masyarakat.

Kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, memahami perspektif profesi lain, serta menghasilkan solusi bersama menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan.

Melalui semangat “One Health, One Future”, FKG USK menempatkan pendidikan sebagai salah satu fondasi untuk membangun sistem kesehatan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas akademik mahasiswa, tetapi juga mendorong penelitian dan pengabdian yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pada akhirnya, keberhasilan pendekatan One Health akan diukur bukan dari seberapa banyak forum yang digelar, melainkan dari sejauh mana kolaborasi lintas disiplin mampu melahirkan solusi nyata bagi kesehatan manusia sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

FKG USK menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan pendekatan One Health dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menyiapkan lulusan kedokteran gigi yang memiliki perspektif global, mampu bekerja lintas profesi, dan responsif terhadap tantangan kesehatan masa depan.