Aceh Tamiang | Tiga bulan pasca bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, sebagian masyarakat masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam proses pemulihan.
Kondisi ini semakin terasa dengan datangnya bulan Ramadan, di mana masyarakat tetap menjalankan ibadah di tengah fasilitas yang belum sepenuhnya pulih.
Situasi tersebut juga memunculkan tantangan psikologis, terutama bagi anak-anak dan remaja.
Merespons kondisi tersebut, sejumlah komunitas dan organisasi dari berbagai daerah berkolaborasi menggelar kegiatan pendampingan psikososial bagi anak dan remaja di tiga kabupaten, yakni Aceh Tengah, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur. Kegiatan ini berlangsung pada 5–8 Maret 2026.
Program pendampingan dilakukan melalui berbagai kegiatan berbasis terapi seni dan terapi menulis. Selain itu, peserta juga mengikuti beragam aktivitas edukatif dan rekreatif seperti kelas lingkungan yang mengajarkan pembuatan ecobrick dan ecoart, kelas literasi membaca nyaring, serta kelas bahasa Mandarin dan bahasa Inggris.
Koordinator Lapangan sekaligus Pembina Yayasan Bintang Kecil, Maria Ulfa, mengatakan bahwa pendampingan psikososial memiliki peran yang sama pentingnya dengan bantuan logistik dalam masa pemulihan pascabencana.
“Kegiatan psikososial membantu mempercepat pemulihan kondisi mental, terutama bagi anak-anak, melalui media bermain yang menyenangkan,” ujarnya.
Menurutnya, terapi menulis dan seni juga dapat membantu anak menyalurkan emosi yang mereka rasakan setelah mengalami peristiwa bencana.
“Melalui gambar dan tulisan, anak-anak dapat mengekspresikan perasaan mereka sehingga proses pemulihan emosional dapat berlangsung lebih cepat,” tambahnya.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Bintang Kecil di Banda Aceh dan melibatkan berbagai komunitas, di antaranya TBM Lhee Club Pidie, Komunitas Hebat Medan, Komunitas Perkasa Alam, Nibras House Banda Aceh, Alfatih Swim, Hananan Art, serta Dapue Nowni Banda Aceh.
Selain itu, sejumlah komunitas dan institusi dari Jakarta juga turut mendukung kegiatan ini, yaitu Institut Sains dan Teknologi Nasional, Peri Bumi, GPPT, Buku Berkaki, serta Universitas Al Azhar Indonesia.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, kegiatan dilaksanakan di Desa Landuh, Kecamatan Rantau. Sebanyak 121 orang menerima manfaat dari kegiatan ini, terdiri atas 109 anak dan remaja, satu anak berkebutuhan khusus, serta 11 orang dewasa yang mendapatkan layanan konseling.
Sementara itu, di Kabupaten Aceh Timur kegiatan berlangsung di Desa Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih.
Sebanyak 88 orang terlibat, termasuk 84 anak dan remaja, dua anak berkebutuhan khusus, serta empat orang dewasa.
Adapun di Kabupaten Aceh Tengah, kegiatan digelar di Desa Kala Segi, Kecamatan Bintang, dengan total 62 penerima manfaat yang terdiri dari 58 anak dan empat orang dewasa.
Maria Ulfa menambahkan, kegiatan ini mengusung tema “Bergerak di Lingkar Kendali” sebagai pesan bahwa meskipun bencana tidak dapat dihindari, masyarakat tetap dapat melakukan berbagai upaya untuk bangkit dan memperbaiki keadaan.
“Melalui tema ini kami ingin mengingatkan bahwa selalu ada hal yang bisa kita lakukan untuk membantu proses pemulihan,” pungkasnya.



















