TAPAKTUAN — Rumah sederhana di Desa Krueng Batu, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, menjadi saksi perjuangan seorang ibu yang harus membesarkan tiga anak seorang diri. Setiap musim hujan, kecemasan selalu datang lebih dulu. Air yang meluap kerap menggenangi rumahnya, sementara kondisi ekonomi yang serba terbatas membuat harapan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak terasa semakin jauh.
Di rumah itulah Meilida (42), janda almarhum Dusamat, mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang meninggal dunia pada 2023, menjalani kehidupan bersama ketiga anaknya. Tanpa sosok suami sebagai tulang punggung keluarga, ia berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah berbagai keterbatasan.
Kondisi keluarga tersebut menarik perhatian Kapolres Aceh Selatan, AKBP T. Ricki Fadlianshah. Pada Senin (3/8/2026), ia datang langsung mengunjungi kediaman Meilida untuk melihat dari dekat kehidupan keluarga yang selama ini hidup dalam kondisi prasejahtera.
Kunjungan itu bukan sekadar agenda seremonial. Kapolres menyempatkan diri berbincang dengan Meilida, melihat kondisi rumah yang kerap terdampak banjir, serta menyaksikan langsung situasi yang dihadapi ketiga anaknya.
Anak sulung, Raja Maisa (18), mulai membantu ibunya menghadapi kerasnya kehidupan. Sementara M. Razianda (5) dan Nur Asma Fitri (3) masih membutuhkan perhatian penuh. Kondisi Nur Asma Fitri bahkan menjadi perhatian khusus karena diketahui mengalami kurang gizi sehingga memerlukan penanganan dan pemenuhan asupan yang lebih baik.
Melihat kondisi tersebut, AKBP T. Ricki Fadlianshah mengaku tersentuh. Menurutnya, kehadiran Polri tidak hanya diwujudkan melalui tugas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga melalui aksi nyata membantu masyarakat yang menghadapi persoalan sosial dan kemanusiaan.
Sebagai langkah awal, Kapolres menyerahkan bantuan paket sembako untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Namun, bantuan itu tidak berhenti pada kebutuhan sesaat.
Ia memastikan Polres Aceh Selatan akan mengupayakan rehabilitasi rumah Meilida agar keluarga tersebut dapat tinggal di hunian yang lebih layak, aman, dan tidak lagi rentan terdampak banjir ketika musim penghujan tiba.
Komitmen itu juga dibarengi perhatian terhadap masa depan keluarga. Selain mendorong pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak, khususnya Nur Asma Fitri, Kapolres berinisiatif membantu Meilida memperoleh modal usaha mikro agar memiliki sumber penghasilan yang lebih stabil.
“Kita juga berinisiatif membantu modal usaha UMKM kepada Meilida agar memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan. Semoga bantuan ini menjadi langkah awal bagi keluarga untuk membangun usaha mandiri, meningkatkan pendapatan, dan keluar dari tekanan ekonomi yang selama ini dihadapi,” ujar AKBP T. Ricki Fadlianshah.
Baginya, bantuan sosial yang diberikan bukan sekadar bentuk empati, melainkan upaya mendorong kemandirian ekonomi keluarga sehingga tidak terus bergantung pada bantuan.
Komitmen rehabilitasi rumah, perhatian terhadap kesehatan anak, hingga dukungan modal usaha menjadi gambaran pendekatan yang lebih menyeluruh dalam membantu masyarakat. Tidak hanya menyelesaikan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membuka peluang bagi keluarga penerima untuk bangkit dan memperbaiki kualitas hidupnya.
Kepedulian tersebut sekaligus memperlihatkan wajah humanis Polri yang hadir lebih dekat dengan masyarakat. Di balik tugas menjaga keamanan dan menegakkan hukum, terdapat ruang pengabdian yang diwujudkan melalui kepedulian terhadap warga yang sedang menghadapi kesulitan hidup.
Bagi Meilida dan ketiga anaknya, kunjungan hari itu membawa lebih dari sekadar bantuan sembako. Ada harapan baru untuk memiliki rumah yang lebih layak, anak-anak yang tumbuh lebih sehat, dan kesempatan membangun usaha kecil yang kelak dapat menjadi penopang kehidupan keluarga. Harapan-harapan sederhana itulah yang kini mulai menyala di rumah kecil di Desa Krueng Batu.












