BANDA ACEH – Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Musriadi Aswad, menyampaikan tausyiah Ramadhan di Masjid Al Ikhlas Gampong Ilie, Sabtu (21/2/2026), setalah Shalat Insya. Dalam ceramahnya, ia mengajak umat Islam memahami puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pembentukan karakter menuju derajat takwa.
“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhani yang melatih kesadaran bahwa setiap langkah hidup berada dalam pengawasan Allah SWT,” ujarnya di hadapan jamaah.
Dalam pemaparannya, Musriadi menguraikan empat fondasi utama yang menjadi ciri insan bertakwa. Pertama, kesadaran akan kebesaran Allah SWT yang melahirkan rasa takut dalam arti spiritual. Rasa takut ini, jelasnya, bukan sekadar ketakutan emosional, melainkan kesadaran mendalam bahwa seluruh kehidupan berada dalam kuasa-Nya.
Ia menilai, puasa melatih manusia untuk memperkuat tauhid dan menempatkan Allah sebagai pusat orientasi hidup.
Kedua, komitmen menjalankan syariat secara konsisten. Orang bertakwa, kata Musriadi, tidak hanya memahami ajaran agama secara tekstual, tetapi juga menerapkannya dalam tindakan nyata. Puasa menjadi latihan disiplin untuk taat terhadap perintah dan menjauhi larangan Allah SWT, bahkan dalam kondisi sunyi tanpa pengawasan manusia.
Ketiga, kemampuan untuk bersikap ridha terhadap ketentuan Allah. Ia menekankan bahwa salah satu ujian terbesar manusia adalah menerima keterbatasan. Melalui puasa, umat Islam dilatih menahan keinginan dan belajar mensyukuri rezeki yang ada, sekecil apa pun itu.
Keempat, orientasi hidup yang berfokus pada akhirat. Menurutnya, puasa mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sementara kehidupan akhirat adalah tujuan akhir yang kekal. Kesadaran ini seharusnya membentuk prioritas hidup yang lebih bijaksana dan berimbang.
Musriadi berharap momentum Ramadhan dimanfaatkan sebagai ruang evaluasi diri, baik dalam aspek ibadah personal maupun hubungan sosial. Ia mengajak jamaah menjadikan bulan suci sebagai titik balik untuk memperbaiki akhlak, memperkuat kepedulian sosial, dan membangun harmoni di tengah masyarakat.
“Ramadhan harus menghadirkan perubahan yang nyata. Bukan hanya perubahan pola makan, tetapi perubahan cara berpikir, bersikap, dan memaknai hidup,” tuturnya.
Kegiatan tausyiah tersebut turut dihadiri tokoh masyarakat, aparatur gampong, serta jamaah yang mengikuti rangkaian ceramah dengan antusias hingga selesai. [adv].
















