BERTANI BAWANG. Produk dari bertani tentu bukan sekedar retrorika terkait bagaimana harus menanam, begini, begitu. Kalau itu yang terjadi, para akademisi maupun biokrat tak lebih sebagai cheerleader yang berbusa-busa meneriakan petani harus begini, petani harus begitu diruang ber AC tanpa pernah menjadi pelaku dalam pertanian.
Dan parahnya mereka yang sebagsa semacam itu akan bertepuk tangan dalam seminar-seminar dan ruang kelas, sedangkan petani sedang berjibaku dangan rasa khawatir berada di lahan membaca keadaan alam atas komoditasnya serta resah dompetnya yang harus terisi sedangkan panen belum tiba.
Memajukan pertanian tentu tidak bisa dengan sekedar teori. Semua yang ingin memajukan pertanian harus terjun ke lahan dan menanam lansung produknya hingga setiap halnya dapat ditulis dan kembangkan. Karena berbicara pertanian tanpa produk adalah omong kosong.
Menyoal pertanian, tidak bisa satu resep untuk semua lahan dan tempat. Setiap lahan akan perlu perlakuan berbeda-beda meski di tanam komoditas yang sama.
Bulan 10 lalu saya tertarik pada bawang, saya membaca banyak hal tentang bawang merah. Setiap petani bawang di gampong saya serap ilmunya. Kemudian bersama Nazaruddin sebagai mentor dalam bertani memesan 200 kg bibit bawang dari Brebes dengan harga 17 ribu/kg, ikut ongkir sampai ke Gampong Saney, Lhoong, Aceh Besar dengan harga 27 ribu/kgnya.
Kami menyiapkan lahan dua ribu meter untuk membajak dan membuat bedengan. Dalam waktu 1 minggu. Penanam kami mulai tepat di tanggal 1 bulan 10. Untuk bajak dan bedengan kami menghabiskan dana sekitar 1,500 ribu.
Bawang adalah komonditas yang perlu penanganan serius karena sangat mudah terserang hama ulat, trip, layu pucuk, maupun virus busuk pada buah, meskipun panennya terbilang cepat hanya 70 (HST) hari setelah tanam.
Pemupukan dasar saya hanya menggunakan NPK Subsidi 50 kg dan urea 10 kg untuk ditebar di atas bedengan sebelum ditutup mulsa yang sudah dilubangi dengan jarak 20×15 cm. Untuk 100 kg bibit dibutuhkan 1 gulung lebih mulsa yang ukuran 500 meter dengan harga 600 ribu.
Penanam dilakukan setelah penutupan mulsa dilakukan selama 2 hari. Bibit bawang dipotong di atasnya kira-kira sekitar seperempat di bagian atas untuk memutus masa dormansi (tidur) dan mempercepat pertumbuhan pucuk.
Untuk penanaman ada 4 orang ibu-ibu warga sekitar yang kami upah dengan 100 ribu perhari. Untuk 100 kg bibit dengan 4 orang penanam hanya dibutuhkan 1 hari penanaman.
Masa tumbuh biasanya 5 sampai 7 HST. Bisa lebih bila bibit masih sedikit muda. Rata-rata, bawang untuk bibit akan digantung selama 2 atau 3 bulan baru siap untuk ditanam.
Jenis Varietas Tajuk yang saya tanam, memiliki buah yang tidak terlalu besar, namun mampu beranak hingga 13 buah persatu bibit yang ditanam. Menurut yang saya baca, Varietas Tajuk, merupakan bibit asal Thailand yang mempunyainhasil bagus ketika ditanam di Nganjuk, Brebes.
Lahan kami di Gampong Saney, merupakan lahan yang kiri kanan hanya berjarak 100 meter dari laut yang mempunyai tanah berkarang atau coral laut yang ikut di hempas tsunami pada 26!Desember 2004 silam. Gampong yang pemukimannya habis di ratakan stunami kini jadi tempat berkebun warga.
Dan komoritas bawang yang pertama kali ditanam oleh Nazaruddin yang kini telah menjadi Keuchik Gampong Saney, rupanya memiliki hasil yang bagus meski dilahan yang bercampur batu karang. Kondisi ini pernah mengudang kagum dari PJ Bupati Aceh Besar Iswanto saat berkujung ke sini. Hingga sampai saat ini ada 10 petani serius menanam bawang merah di gampong tersebut.
Untuk penyemprotan setelah tumbuh, saya menggunakan banyak obat. Tentu karena untuk pencegahan jamur karena bawang merah rentan terkenan jamur apalagi musim penghujan. Untuk obat jamur dan penyakit busuk daun saya serahkan pada antracol, Makozep, serta kalsium. Untuk pupuk daun, ada Gandasil D dan setiap penyomprotan selalu saya campurkan pupuk mutiara 16-16-16 untuk merangsang pertumbuhan.
Penyomprotan saya lakukan 3 hari sekali atau 1 hari sekali kalau intensitas hujan lebat. Obat dan pupuk tadi saya aplikasikan sampai bawang merah berumur 35 hari. Setelah itu, pupuk saya ganti ke unsur yang mengadung K dan P untuk fokus ke pembesaran umbi buah. Untuk itu ada: Gandasil B perdua sendok makan setiap 16 liter air. Serta boron untuk merangsang pembesaran. Selain itu untuk fungisida tetap sama hanya saja, kalau sebelumnya 1 sedok makan, diumur ini sudah 2 sedok makan pertangki.
Bawang tumbuh dengan baik meski ada beberapa tempat yang terserang penyakit layu daun hingga buahnya membusuk. Namun setelah yang terserang dicabut dan penyomprotan intens selam sehari sekali dengan fungisida antracol dan makozep, penyakit beransur sembuh hingga bawang mencapai umur 60 hari.
Umur tersebut, bawang merah dianggap selamat dari bahaya karena tinggal menunggu masa rebah daun dan panen. sehingga saya melakukan kesalahan dengan tidak lagi melakukan penyemporotan fungisida untuk pencegahan jamur dan kalium untuk mebuat buah lebih tahan saat pasca panen.
Akhirnya bawang saya tidak layak simpan, harus segera dijual ke pasar. Karena jika di simpan lama untuk dijual saat harga bagus atau untuk benih, nantinya bawang akan kosong dan rentan busuk pada akar.
Saat setelah panen di umur 70 hari, buah di sortir saat pemitongan dari yang busuk agar tidak menyebar saat dikarungkan dengan layak jual. Ongkos potong boleh ibu-ibu sekitar dengan upah 2 ribu rupiah/kg gramnya. Dari 100 kg bibit, saya mencapai target hasil 800 kg. Meski belum termasuk hasil yang super, karena bawang merah biasanya bisa mencampai 1 banding 12 per bibit. Yang artinya 100 kg bibit bisa mencapai hasil 1 ton 200 kg.
Meskipun begitu, hasil itu cukup mengembirakan untu pemula seperti saya. Dari 800 kg yang terserang penyakit dan dibagikan ke warga-warga sekitar mencapai 200 kg.
Dari sekian sisa, ada 587 kg buah besar yang dibeli dengan harga 29.000/ kg: dan dipotong 5 kg untuk susut oleh agen pembeli. Jadi total kilo yang di bayar 582 kg x 29.000 = 16.878.000. Ditambah buah kecil 40 kg hasil seleksi dari buah besar yang juga di beli 18.000/kg, maka menghasilkan 720.000.
Total dari penjualan bawang merah: 17.598.000. Potong bibit 2.700. Ribu, potong olah lahan dan upah pekerja serta pupuk 5,700,000. Dan pembelian mesin pompa air 1.500 ribu. Maka total pengeluaran 9,900 ribu. Dikurang hasil:17.598.000, maka keuntungan bersih penaman bawang: 7.698.000 dalam jangka waktu 2 bulan setengah.
Bertani tentu bukan saja harus cukup pengetahuan, dan sarana. Teknologi yang ada sekarang tentu mepermudah pertukaran informasi dan mencari guru dalam proses bertani. Dan tentunya menjadi petani adalah pekerjaan yang tidak boleh dipandang sebagai rendahan, karena tidak adanya pilihan lain.
Oleh karena itu, untuk menjadikan petanian sebagai profesi yang diminati, setiap lelah dan modal yang dikeluarkan petani haruslah hasil petani harus beli dengan sesuai. Agar pendapatan petani menjadi semangat agar profesi ini tidak mati. Tidak perlu mahal, yang penting dibeli dengan wajar.
Kesejahteraan petani tentu ditentukan oleh seberapa besar luasan lahan yang diolah. Maka harusnya bertani adalah pekerjaan yang sama dengan profesi dokter, atau profesi lain yang butuh skill dalam bekerja dengan sematan milenial kah atau bukan, seorang petani dikenal dari lahan yang tanam, bukan retrorikanya.
Hingga akhirnya, pertanian adalah jantung dari peradaban kota. Dan sebuah kegiatan purba yang hampir punah ditinggal pelakunya tanpa produk yang dihasilkan disebut dengan PERTANIAN.
