Daerah

Seni Kontemporer Kini Mulai Masuk ke Desa, Disbudpar Aceh: Tak Lepas Dari Nilai Syariat Islam

images (1)
Ukuran Font
A A 100%

BERITAACEH, Banda Aceh – Seiring perkembangan zaman era digitalisasi, seni kontemporer kini mulai masuk dese-ke desa. Masyarat dapat mengakses karyanya berbagai konten di akun media sesosial, seperti Facebebook, TikTok, dan Isntagram, pola desaingnya pun sangat mudah hanya menggunakan Hendphon seluler memamfaatkan aplikasi yang telah disediakan.

Seni Kontemporer banyak muncul dilakangan Masyarakat Aceh, seni kontemporer yang banyak berbentuk lukisan, fotografi dan video. Karyanya itu juga dipabliskan ke Media Sosial, keilmu sains yang dicetuskan mampu mempertahan meningkatkan daya Tarik, sesuai pengetahuan memanfaatkan teknologi, seni visual.

“Transformasi digital telah membuka berbagai kesempatan baru bagi generasi muda, baik di bidang pendidikan, bisnis, maupun hiburan,” Kata Rifki, Ketua Ikatan Pemuda Aceh Utara, 19 November 2023.

Salah satu di antaranya adalah peluang untuk menjadi konten kreator yang dapat memberikan kontribusi positif dalam menginspirasi dan mengedukasi masyarakat, khususnya pada platform-platform digital seperti YouTube, Instagram, dan blog pribadi.

“Generasi muda harus memanfaatkan peluang yang ada di era digital ini. Mereka harus mengambil peran aktif dalam menciptakan konten-konten positif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan nilai-nilai edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar Rifki Sag.

Ia juga menekankan pentingnya konten yang mengusung nilai-nilai lokal dan budaya, seperti karya-karya kaligrafi kontemporer yang menggabungkan keindahan seni tradisional dengan sentuhan modern.

Selain itu, konten-konten dalam bidang desain grafis juga dapat menjadi sarana untuk mempromosikan kekayaan seni dan budaya lokal, serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya daerah.

Selain itu, ia juga mendorong generasi muda untuk menjadi vlogger atau pembuat konten video yang dapat mengangkat isu-isu sosial, pendidikan, dan lingkungan dengan cara yang kreatif dan edukatif.

“Dengan demikian, mereka dapat turut berperan dalam menyebarkan informasi positif, membangun kesadaran masyarakat, dan memperjuangkan nilai-nilai kebaikan dalam Masyarakat,” jelasnya

Melalui vlogging, masyarakat dapat berbicara tentang berbagai isu yang penting, seperti lingkungan, perdamaian, pendidikan, dan masih banyak lagi.

“Generasi muda memiliki peran penting dalam menyuarakan isu-isu ini dan membantu membentuk pemikiran positif dalam masyarakat,” ungkapnya.

Sementara kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal, S.STP, M.SI, melalui Kepala Bidang (Kabid) Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah, S.SOS., M.M mengatakan, seni kontenporer Aceh, dengan berbagai elemen seni seperti tari, musik, dan sastra, senantiasa dipertahankan dalam kerangka syariat Islam.

“Para senim

Kepala Bidang Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh, Nurlaila Hamjah, S.SOS., M.M.

an dan penampil seni kontemporer Aceh menjunjung tinggi prinsip-prinsip agama dalam setiap karyanya, memastikan bahwa pesan-pesan moral dan etika Islam tetap utuh,” ujarnya.

Dalam upaya memperkuat hubungan antara seni dan syariat, Nurlaila menuturkan, berbagai komunitas seniman dan penggiat seni di Aceh mengadakan berbagai kegiatan dan pertunjukan yang mempromosikan pesan-pesan agama.

“Mereka juga menggandeng ulama-ulama lokal untuk memberikan panduan dan pengetahuan tentang syariat Islam kepada para seniman muda (milenial), baik dalam bentuk busana maupun syair yang bernuansa Islami,” tuturnya

Seni kontemporer Aceh juga memiliki dampak positif dalam mendidik generasi muda. Para guru dan pendidik di Aceh menggunakan seni sebagai sarana untuk mengajarkan nilai-nilai agama dan budaya kepada anak-anak, menjadikannya alat edukasi yang efektif.

“Meskipun dalam seni kontemporer ini mengikuti zaman modern dan bebas dengan penuh keunikan, namun di Aceh tetap menjunjung tinggi syariat Islam khususnya pada seni kontemporer jenis tarian,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, seni kontemporer Aceh telah menunjukkan bahwa seni dan syariat Islam bisa beriringan. Dengan mempertahankan nilai-nilai agama dalam karya seninya, Aceh memelihara identitas budaya dan agama yang kuat, sambil tetap menginspirasi dan mendidik generasi muda serta menarik para wisatawan ke wilayah ini.

“Karya-karya mereka telah menyampaikan pesan moral dan budaya Aceh kepada khalayak global, menjadikan seni konten porer sebagai alat yang kuat dalam pelestarian dan penyebaran budaya Aceh. Prestasi ini juga menjadi bukti bahwa budaya Aceh tetap relevan dan berkembang dalam era modern.

Secara keseluruhan, kehadiran seniman konten porer Aceh di ajang internasional adalah bukti kuat bahwa seni kontemporer Aceh memiliki daya tarik global dan dapat menjadi jendela yang memungkinkan dunia melihat kekayaan budaya Aceh.

Mereka telah membuktikan bahwa budaya Aceh memiliki tempat yang istimewa di panggung seni dunia dan akan terus menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan bagi masyarakat Aceh dan dunia.

Tampilkan di PKA ke 8

Nurlaila mengatakan, Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 merupakan platform yang paling ditunggu bagi seniman lokal di 23 kabupaten/kota di Aceh. Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 akan menjadi perayaan seni yang menggugah dan memadukan tradisi dengan kontemporer.

“Kami telah mengundang seniman-seniman terkemuka dari berbagai disiplin seni untuk berpartisipasi dalam acara ini, dan kami sangat bersemangat untuk melihat karya-karya mereka yang telah dimodernisasi,” kata Nurlaila.

Akan tetapi, lanjut Nurlaila, untuk seni kontemporer pada Pekan Kebudayaan Aceh ke 8 kemungkinan ruangannya tidak terlalu banyak. Pasalnya target di PKA itu lebih dominan mengangkat tradisi di Aceh. (ADV).