Advertorial

SMAN 1 Matangkuli Luncurkan “Aplikasi Cerdas” untuk Cegah Putus Sekolah

8
Ukuran Font
A A 100%

MATANGKULI | SMA Negeri 1 Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, meluncurkan sebuah inovasi digital bernama “Aplikasi Cerdas” atau Cegah Anak Rentan dari Ancaman Putus Sekolah. Aplikasi ini hadir sebagai upaya konkret sekolah dalam mencegah angka putus sekolah yang masih menjadi tantangan serius di wilayah tersebut.

Kepala SMAN 1 Matangkuli, Khairuddin, S.Pd., M.Pd., selaku penggagas program, menyampaikan bahwa aplikasi ini dirancang untuk menjadi sistem deteksi dini dan pendampingan bagi siswa yang berisiko putus sekolah.

“Teknologi harus menjadi jembatan, bukan penghalang dalam pendidikan. Melalui Aplikasi Cerdas, guru, wali kelas, dan konselor bisa bekerja sama secara real-time dalam mengidentifikasi dan menangani kendala yang dihadapi siswa,” ujar Khairuddin saat ditemui, Jumat (10/10/2025).

Aplikasi ini memungkinkan pemantauan kehadiran siswa, pencatatan faktor risiko seperti masalah ekonomi, kondisi keluarga, atau rendahnya motivasi belajar, hingga memberikan rekomendasi intervensi yang tepat dan cepat.

Kolaboratif dan Tanpa Biaya Sekolah

Menariknya, program ini dijalankan secara swadaya oleh komunitas sekolah, didukung komite dan masyarakat melalui donasi. Tidak ada anggaran resmi sekolah yang digunakan, menjadikannya contoh penerapan teknologi berbasis kepedulian sosial.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pencegahan putus sekolah bukan hanya soal data atau statistik, tapi tentang menjaga harapan dan masa depan setiap anak,” tambah Khairuddin.

Mengubah Paradigma Pendidikan

Melalui pendekatan ini, SMAN 1 Matangkuli mendorong terbentuknya lingkungan belajar yang lebih inklusif, adaptif, dan manusiawi. Aplikasi ini bukan hanya alat bantu, tetapi bagian dari gerakan moral untuk melibatkan semua pemangku kepentingan guru, orang tua, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan pendidikan anak-anak.

Khairuddin berharap, keberhasilan sekolahnya dalam menjalankan program ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain di Aceh maupun daerah lain di Indonesia.

“Tujuan kami sederhana, agar tidak ada lagi anak yang kehilangan haknya untuk belajar. Kami berharap inovasi ini bisa diadopsi dan dikembangkan lebih luas,” ujarnya optimistis. (adv)