BERITAACEH, Redolong | Ratusan nisan kuno yang berada di Aceh Utara dan Bener Meriah terdampak proyek bendungan Krueng Keureuto, Warga minta pelaksana proyek menghentikan pembongkaran nisan, sementara arkeolog merekomendasikan inventarisir dan jaminan keamanan.
Wakil Ketua Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh, Toto Haryanto, belum dapat menyimpulkan tipologi ratusan nisan yang terkena dampak pembangunan Waduk Krueng Keureuto, Aceh Utara dan Bener Meriah. Namun, dari dugaan awal ratusan nisan tersebut memiliki kaitan dengan peradaban Islam Samudera Pasai.
“Kita belum dapat menyimpulkan, sebab harus ada penelitian lain dengan metode khusus,” ujar Toto kepada HabaAceh.id, Sabtu (19/8/2023).
Toto merupakan Ketua Tim Survey Arkeolog yang langsung turun ke lokasi setelah adanya kabar terkait temuan makam kuno yang terkena imbas Proyek Strategis Nasional (PSN) Waduk Krueng Keureuto. Ratusan makam tersebut berada di wilayah Paya Bakong, Aceh Utara, dan Kampung Simpur, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah.
Dari hasil amatan sementara, Tim Arkeolog dari BPK Wilayah I Aceh menduga nisan tersebut merupakan hasil kebudayaan abad ke-13.
Para arkeolog yang terjun ke lokasi juga turut mengeluarkan beberapa rekomendasi dan saran terkait temuan ratusan nisan tersebut. Salah satunya agar instansi terkait menginventarisir dan mendaftarkannya sebagai Objek Dugaan Cagar Budaya (OCDB) kompleks pemakaman itu.
Tim juga merekomendasikan agar Dinas Pendidikan Bener Meriah berkoordinasi dengan Disbudpar Aceh untuk memberikan rekomendasi penetapan ratusan nisan kuno tersebut sebagai Cagar Budaya. Lebih lanjut, Tim Arkeolog BPK Wilayah I Aceh juga meminta PT Brantas Abipraya menghentikan sementara pemindahan ODCB makam di areal kerjanya.
Pihak pelaksana proyek juga diminta untuk memberikan perlindungan sementara terhadap ODCB nisan yang telah dipindahkan agar aman dari ancaman kerusakan atau bahkan hilang. Sementara itu, Azam salah satu warga Aceh Tengah menduga ratusan nisan kuno tersebut merupakan penanda makam para leluhur Gayo.
Selain itu, dia menyebut terdapat makam Pang Kilet atau Murahim di lokasi yang ikut terkena dampak pembongkaran tersebut. “Menurut ahli waris dan keyakinan kami sebagai orang Gayo, makam kuno di Paya Bakong itu adalah makam Pang Kilet atau bernama Murahim,” kata Azam usai menggelar aksi di Kantor DPRK Bener Meriah, Jumat (18/8/2023) kemarin.
Azam mengatakan Pang Kilet merupakan orang alim yang dikeramatkan oleh warga Gayo. Berdasarkan pembacaan mod tipologi, menurutnya nisan-nisan yang ada di lokasi merupakan produk kebudayaan Pasai antara abad 13 hingga 15 Masehi.
“Kita berharap persoalan ini tuntas, komitmen mereka tidak memindahkan makam-makam kuno itu agar tidak menghilangkan bukti sejarah leluhur orang Gayo,” tegas Azam.




