BERITAACEH.co, Lhokseumawe – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe menggelar diskusi Hasil Kajian Numismatik Teluk Samawi dengan tema Menggali Makna Intangible Koin Teluk Samawi di Hall Lido Graha, Kota Lhokseumawe, Selasa (26/7/2022).
Diskusi menghadirkan pembicara Dr Saifuddin Dzuhri Lc, MA, peneliti sejarah dan juga Dosen di Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Lhokseumawe, Filolog Hermansyah MTh, M Hum serta Yudi Andika, SS, Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.
Yudi Andika SS memaparkan bahwa pada masa Kesultanan Aceh mata uang sangat beragam dan mata uang terbanyak dicetak pada masa Sultan Iskandar Muda dengan lima jenis. Sedangkan Koin Teluk Samawi lahir akibat konflik Kerajaan Aceh Darussalam.
Berdasarkan hipotesis terdahulu bahwa koin Teluk Samawi sama dalam bentuknya dengan mata uang Meukek dan Trumon di kawasan selatan Aceh. “Kini kita dapati bahwa koin Teluk Samawi ini dihargai 900.000 rupiah di platform digital marketing,” sebut Yudi.
Ia menilai mamfaat penting dari kajian Koin Teluk Samawi yaitu membangun kembali peradaban di Bandar Teluk Samawi (Kota Lhokseumawe), selaras dengan pandangan Dr Saifuddin Dzuhri yang menyampaikan bahwa kajian koin Teluk Samawi dapat memberi penjelasan tentang identitas Lhokseumawe pada masa dikeluarkan koin Teluk Samawi.
Lebih lanjut juga dapat menjadi kontribusi bagi pemahaman sejarah Aceh, khususnya pada masa Sultan Jauhar Alam Syah.
Zul Afrizal Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, mengatakan, saat ini sedang dibangun Tugu Koin Teluk Samawi di halaman Museum Kota Lhokseumawe, itu sebagai representatif keadaan ekonomi Lhokseumawe sebelum era petrodolar hadir, yaitu di masa kesultanan dulu.
Tugu tersebut juga sebagai upaya memugar hati dan pikiran masyarakat bahwa Lhokseumawe pernah jaya secara ekonomi dari dulu.
“Sehingga, perhatian kita tidak hanya bertumpu pada kejayaan era petrodolar.Tugu Koin Teluk Samawi juga dilengkapi dengan kapal Cakradonya di bagian atas sebagai pertanda bahwa perdagangan yang telah berjalan dahulu tidak hanya antarmasyarakat setempat, tapi juga merambah hingga ke suluruh Asia,” kata Kabid Kebudayaan yang akrab disapa Joel Pase.
Teluk Samawi, selain sebagai jalur perdagangan juga sebagai pelabuhan singgahan untuk berbagai perbaikan, menyuplai perbekalan, dan memasok batu bara atau air.
Berdasarkan kajian Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) bahwa kepentingan Teluk Samawi di jalur pelayaran dunia sebenarnya telah diketahui sejak ratusan tahun sebelum kedatangan Von Schmidt (Kapten Laut Belanda).
Sedikitnya, sejak abad ke-7 Hijriah (ke-13 Masehi), sebuah kerajaan Islam telah memantapkan keberadaannya di pesisir teluk ini.
Von Schmidt menyatakan bahwa Teluk Samawi memiliki lokasi yang bagus, di mana dalam waktu yang sama ratusan kapal besar dapat menemukan tempat berlabuh yang bagus, dan kapal-kapal kecil dalam jumlah yang banyak dapat bersandar di dekat pantai.
Bahkan, dalam kondisi angin timur laut yang bertiup terus-menerus, rumpun-rumpun bambu dan pantai dapat bertahan di sepanjang laguna yang tidak hanya cocok untuk kapal-kapal kecil, tapi juga untuk kapal yang dapat dilayari. (ADV)




