Advertorial

Zulkasmi Minta Data Anak Yatim di Banda Aceh Diperkuat, Tegaskan Tak Boleh Ada yang Terlewat

10
Ukuran Font
A A 100%

Banda Aceh – Anggota DPRK Banda Aceh dari Partai Demokrat, Zulkasmi, meminta seluruh camat di Kota Banda Aceh untuk menginstruksikan para keuchik di gampong masing-masing melakukan pendataan menyeluruh terhadap anak yatim. Ia menegaskan, kelompok anak yatim merupakan prioritas utama yang tidak boleh ada satu pun terlewat dari pendataan.

Menurutnya, keuchik sebagai pemimpin gampong memiliki peran paling dekat dengan masyarakat sehingga paling memahami kondisi warga, termasuk keberadaan anak yatim baik yang menetap maupun yang tinggal sementara di wilayah tersebut.

“Anak yatim itu adalah prioritas yang harus kita utamakan. Walaupun tidak memiliki KK atau hanya tinggal sementara, tetap harus didata. Karena mereka memiliki hak yang harus kita penuhi,” ujar Zulkasmi kepada media ini di Banda Aceh, Sabtu (14/3/2026).

Ia menekankan bahwa persoalan administrasi tidak boleh menjadi penghalang dalam memastikan hak-hak anak yatim terpenuhi. Pendataan yang akurat, menurutnya, menjadi kunci utama agar berbagai bentuk bantuan sosial maupun program kesejahteraan dapat tepat sasaran.

Zulkasmi juga mengingatkan agar proses pendataan dilakukan secara serius, menyeluruh, dan tidak saling menunggu antarperangkat gampong maupun kecamatan.

“Jangan ada alasan menunda. Ini soal tanggung jawab moral dan sosial kita. Data harus benar-benar lengkap agar tidak ada anak yatim yang terabaikan,” tegasnya.

Ia menambahkan, langkah tersebut juga sejalan dengan perhatian Pemerintah Kota Banda Aceh yang selama ini menempatkan perlindungan terhadap anak yatim sebagai salah satu prioritas kebijakan sosial.

“Ini juga sejalan dengan harapan Ibu Wali Kota Banda Aceh agar perhatian terhadap anak yatim benar-benar menjadi tanggung jawab bersama, dari tingkat kota hingga gampong,” ujarnya.

Lebih jauh, Zulkasmi menilai kepedulian terhadap anak yatim bukan hanya kewajiban pemerintah, tetapi juga bagian dari nilai keagamaan dan kemanusiaan yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh, terlebih di bulan suci Ramadan.

Ia mengajak seluruh aparatur gampong untuk menjadikan momentum ini sebagai bentuk pengabdian yang tulus, bukan sekadar tugas administratif.

“Ini bukan hanya pekerjaan administratif, tapi juga ibadah dan amanah. Jika dijalankan dengan ikhlas, insyaAllah menjadi amal kebaikan bagi kita semua,” katanya.

Melalui pendataan yang lebih terstruktur dan menyeluruh, ia berharap seluruh anak yatim di Banda Aceh dapat terdata dengan baik sehingga memperoleh hak-haknya secara adil, baik dalam bentuk santunan, akses pendidikan, maupun perlindungan sosial yang berkelanjutan.

“Tujuannya jelas, tidak boleh ada anak yatim yang tercecer dari perhatian kita,” pungkasnya. [adv]