News

Aceh Tamiang Menjadi Contoh Kolaborasikan Pada Tahap Rekontruksi

IMG-20260801-WA0024
Ukuran Font
A A 100%

Plt. Kepala SMPN 2 Karang Baru, Dedek Yusra, S.Pd., saat melakukan pertemuan dengan siswa-siswi, di Ruang Kelas.

Aceh Tamiang – Memasuki tahap Rekontruksi Kabupaten Aceh Tamiang, mulai terlihat pemulihan nyata. Daerah yang menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan banjir terparah memperoleh alokasi Rp192 miliar dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk merevitalisasi sekolah-sekolah yang terdampak.

Langkah cepat yang diambil Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Fahmi, M.H., kemudian direalisasi oleh Dinas Pendidikan setempat dengan percepatan pembangunan fasilitas belajar.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tamiang, Syamsul Rizal, S.Ag., M.AP., Sabtu (1/8/2026), menegaskan bahwa revitalisasi sekolah memperbaiki bangunan yang rusak, juga mengembalikan ruang belajar yang aman, sehat, dan nyaman agar anak-anak kembali bersemangat menuntut ilmu.

Kita juga menggalang semangat Gotong Royong Menjadi Kekuatan Rekonstruksi. Salah satu contoh di SMP Negeri 2 Karang Baru, katanya.

Siswa-Siswi SMPN 2 Karang Baru, sedang belajar diruang kelas baru paska direhap, setelah terjadi bencana banjir.

Sekolah tersebut tidak hanya mengandalkan kontraktor, tetapi juga melibatkan masyarakat sekitar dalam kepanitiaan maupun pekerjaan pembangunan, tambahnya.

Sebanyak 23 ruang kelas direhabilitasi melalui semangat gotong royong yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah.

Plt. Kepala SMPN 2 Karang Baru, Dedek Yusra, S.Pd., mengatakan progres pekerjaan hingga Sabtu (1/8/2026) telah mencapai lebih dari 89 persen dan kini memasuki tahap penyelesaian akhir.

“Kehadiran program revitalisasi ini menjadi penyelamat bagi kami. Karena melibatkan warga sekitar, ada rasa memiliki yang tinggi. Mereka bekerja dengan hati karena ini untuk tempat belajar anak-anak mereka sendiri,” ujarnya.

Tak hanya mengandalkan partisipasi masyarakat, pihak sekolah juga menunjukkan kemampuan manajemen anggaran yang patut diapresiasi.

Saat harga material bangunan seperti semen, pasir, kerikil, dan keramik mengalami kenaikan, sekolah telah lebih dulu membeli sebagian besar kebutuhan material sehingga anggaran tetap terkendali.

“Harga material memang sempat naik di pasaran. Beruntung sebagian besar kebutuhan material sudah kami belanjakan lebih awal sebelum harga melonjak. Hanya sekitar 200 zak semen yang kami beli dengan harga penyesuaian Rp80 ribu per zak,” jelasnya.

Strategi sederhana tersebut menjadi contoh bahwa pengelolaan anggaran yang cermat mampu menghindarkan proyek dari pembengkakan biaya tanpa mengurangi kualitas pekerjaan.

Rekonstruksi yang dimulai hari ini bukan semata-mata tentang membangun kembali bangunan yang roboh akibat bencana. Lebih jauh, proses ini menjadi momentum membangun tata kelola pemerintahan yang semakin terbuka, akuntabel, dan melibatkan masyarakat.

Lapangan olah raja SMPN 2 Karang Baru, usai direhap, paska bencana banjir.

Sementara Satgas lebih difokuskan pada percepatan koordinasi, mengurai hambatan birokrasi, serta memastikan seluruh program berjalan tepat sasaran di lapangan, kata Kepala Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal ZA

“Satgas berfokus mempercepat koordinasi, mengurai hambatan birokrasi, serta mengawasi pelaksanaan di lapangan. Model ini mempercepat eksekusi program karena kementerian dapat langsung bekerja,” ujar Safrizal.

Menurut Safrizal, keberhasilan pemulihan Aceh tidak hanya diukur dari panjangnya jalan yang dibangun atau jumlah sekolah yang direhabilitasi, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat dapat mengawasi setiap proses pembangunan secara transparan.

Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat, Aceh kini memasuki babak baru pemulihan—sebuah proses yang tidak hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi juga menguatkan kepercayaan publik, semangat gotong royong, dan harapan menuju masa depan yang lebih tangguh.[]