Ekonomi

Bank Aceh Terima Apresiasi ILO, Penguatan UMKM Aceh Jadi Fokus Kemitraan

IMG-20261015-WA0008
Ukuran Font
A A 100%

JAKARTA — Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak cukup hanya dengan menyediakan akses pembiayaan. Kemampuan mengelola keuangan, mengembangkan produk, memanfaatkan teknologi digital, dan menembus pasar juga menentukan keberlanjutan usaha. Upaya tersebut menjadi bagian dari kemitraan Bank Aceh dengan Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO).

Atas kontribusinya dalam Proyek Promise II Impact periode 2023–2026, Bank Aceh menerima apresiasi dari ILO. Penghargaan tersebut diserahkan Project Manager Promise II Impact ILO, Djauhari Sitorus, kepada Direktur Utama Bank Aceh, Fadhil Ilyas, dalam acara penutupan Promise II Impact Fase II sekaligus peluncuran Promise Impact Fase III di Pullman Jakarta Indonesia Thamrin CBD, Jakarta, 13 Oktober 2026.

Apresiasi tersebut berkaitan dengan kontribusi Bank Aceh dalam mendukung inklusi keuangan, peningkatan kapasitas usaha, dan pengembangan UMKM yang lebih inklusif serta berkelanjutan.

Bagi Aceh, penguatan UMKM memiliki arti penting karena sektor ini menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha, menciptakan sumber pendapatan, dan membuka lapangan kerja. Namun, akses terhadap layanan keuangan formal perlu disertai kemampuan mengelola usaha agar pembiayaan dapat dimanfaatkan secara produktif.

Melalui kolaborasi dengan ILO yang didukung Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi atau Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO), Bank Aceh turut mendukung pengembangan ekosistem usaha nilam di Aceh.

Nilam merupakan salah satu komoditas yang berpotensi dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah. Pengembangan ekosistem usahanya tidak hanya menyangkut produksi, tetapi juga kapasitas pelaku usaha dalam mengelola keuangan, memperkuat jaringan bisnis, dan memperluas akses pasar.

Dalam kemitraan tersebut, Bank Aceh memberikan dukungan melalui pelatihan keuangan dan literasi keuangan bagi pelaku UMKM. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan keuangan, pencatatan dan pelaporan sederhana, pemasaran, penyusunan strategi produk, serta penguatan jejaring bisnis.

Pendampingan tersebut diarahkan untuk membantu pelaku usaha memahami kondisi keuangan bisnis, memperbaiki tata kelola, dan menyusun langkah pengembangan usaha secara lebih terarah.

Peningkatan kapasitas menjadi penting agar UMKM tidak hanya bertahan dalam persaingan, tetapi juga memiliki peluang memperluas skala usaha. Pencatatan keuangan yang tertib, misalnya, dapat membantu pelaku usaha memantau arus kas dan menghitung kebutuhan modal. Sementara itu, strategi pemasaran dan pengembangan produk dapat mendukung upaya menjangkau konsumen yang lebih luas.

Direktur Utama Bank Aceh, Fadhil Ilyas, mengatakan penguatan UMKM membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara perbankan, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Bagi Bank Aceh, mendukung UMKM bukan hanya tentang membuka akses pembiayaan, tetapi juga membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas, memperkuat pengelolaan bisnis, dan mengembangkan potensi ekonomi lokal. Kami berharap upaya ini dapat membuka lebih banyak peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh,” ujar Fadhil.

Menurut Bank Aceh, dukungan terhadap UMKM tidak semata-mata diwujudkan melalui layanan keuangan. Pengembangan kapasitas dan pendampingan usaha juga diperlukan agar pelaku UMKM dapat meningkatkan efisiensi, memperluas akses pasar, dan mengembangkan peluang kerja.

Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan perbankan sebagai bagian dari ekosistem pengembangan ekonomi daerah. Melalui kerja sama dengan lembaga internasional dan pemangku kepentingan lainnya, pengembangan UMKM diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha dan memperkuat potensi ekonomi lokal.

Meski demikian, keberlanjutan program menjadi faktor penting untuk menentukan manfaat yang dirasakan pelaku usaha. Pelatihan dan pendampingan perlu diikuti penerapan pengetahuan dalam kegiatan bisnis sehari-hari, sedangkan pengembangan akses pembiayaan harus mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan usaha.

Bagi pengembangan usaha nilam di Aceh, kesinambungan dukungan juga diperlukan agar potensi komoditas tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat yang terlibat dalam rantai usahanya.

Apresiasi dari ILO menjadi bagian dari perjalanan kemitraan Bank Aceh dalam mendukung pengembangan UMKM. Ke depan, keberhasilan upaya tersebut akan bergantung pada kesinambungan pendampingan, kemampuan pelaku usaha menerapkan pengetahuan yang diperoleh, serta terbukanya akses terhadap pembiayaan dan pasar.

Bank Aceh berharap kolaborasi pengembangan UMKM dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak pelaku usaha di Aceh yang mampu meningkatkan kapasitas, memperkuat daya saing, dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.