Headline

Mapesa Temukan Makam Ulama Besar Pengarang Sarah Qurratul ‘Ain di Kawasan Kerajaan Lam Muri

IMG-20240430-WA0057
Ukuran Font
A A 100%

BERITAACEH, Aceh Besar | Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) menemukan makam ulama makam ulama besar Syaikh Zainuddin pengarang Sarah Qurratul ‘Ain, di kawasan kerajaan Lam Muri, Lamreh, Aceh Besar.

Asy-Syaikh Zainuddin Ahmad bin Al-Qadhi Muhammad Al-Ghazaliy bin Asy-Syaikh Al-Imam Zainuddin Al-Makhdum Al-Kabir Al-Ma’bariy Asy-Syafi’iy Al-Asy’ariy Al-Fannaniy Al-Malibariy Al-Hindiy adalah ulama besar di Aceh di pertengahan kedua abad ke-20 silam, berhasil menguasai isi sebuah karya fiqh pengarang Qurratul ‘Ain dalam ilmu fiqh dan syarahnya, Fathul Mu’in yang terkenal berjudul I’anat Ath-Thalibin, dan juga Tuhfatul Mujahidin, satu karya monumental di bidang sejarah. Murid dekat dari Ibnu Hajar Al-Haitamiy, salah satu poros Syafi’iyyah, ini telah dilahirkan di Chombal pada 938 H/1532 M. 

“Kakeknya juga bergelar dan terkenal dengan Syaikh Zainuddin, seorang ulama yang terkemuka dan banyak melahirkan karya-karya dalam bidang tasauf,” kata Ketua Mapesa Mizuan, Senin, (30/04/2024).

Maka karenanya Zainuddin pengarang Fathul Mu’in disebut dengan Zainuddin Yang Kedua (Ats-Tsaniy), cucu dari Zainuddin Yang Pertama. 

Syaikh Zainuddin ini sangat terkenal di dunia Islam, terutama di Aceh dan Asia Tenggara, sebelum abad ke-16 M. Pada satu nisan tinggalan sejarah di Lamreh juga ditemukan nama Syaikh Zainuddin.

“Batu nisan itu telah rusak, tapi dari beberapa potongan kalimat inskripsi yang masih nampak jelas, dapat diperkirakan ia hidup di abad ke-15,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, diantara makam yang ditemukan, ada tokoh-tokoh ulama dari India, yang berkaitan itu dengan tokoh-tokoh ulama yang dikuburkan di Lamreh ini memiliki suatu keterkaitan. 

“Suatu yang mutlak perlu diperhatikan, kemudian adalah kenyataan bahwa Situs Lamreh tidak saja bercerita tentang masa lalu kita yang menghuni Aceh sekarang ini, tapi juga tentang masa lalu penduduk di bagian dunia yang lain,” ungkapnya.

Sayangnya kondisi makam tersebut mengalami rusak berat tidak ada perhatian dari pemerintah. Perlu di Keta Lamreh adalah warisan budaya dunia, warisan umat manusia dan Islam, tidak utuh lagi.