Headline

Tumpahan CPO di Gunung Paro dan Gunung Kulu Kembali Makan Korban, KPA Lhoong Desak Pemerintah Bertindak Sebelum Terjadi Tragedi

IMG-20260727-WA0044
Ukuran Font
A A 100%

ACEH BESAR — Ruas jalan pegunungan Gunung Paro dan Gunung Kulu di Kabupaten Aceh Besar kembali memakan korban. Ceceran minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil atau CPO) yang diduga berasal dari truk tangki pengangkut membuat badan jalan licin dan membahayakan pengguna jalan. Sejumlah pengendara sepeda motor dilaporkan kehilangan kendali hingga terjatuh saat melintasi jalur tersebut, Senin, (27/7).

Insiden yang kembali terjadi itu memperlihatkan bahwa persoalan tumpahan CPO di kawasan pegunungan tersebut belum juga memperoleh penanganan yang memadai. Padahal, jalur Gunung Paro dan Gunung Kulu merupakan salah satu akses transportasi penting yang menghubungkan berbagai wilayah di Aceh Besar dan setiap hari dilalui kendaraan pribadi, angkutan umum, serta truk logistik.

Ketua Koalisi Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Lhoong, Taufiqurrahman (38), mengatakan dirinya sempat menolong seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh setelah tergelincir di salah satu turunan tajam kawasan Gunung Paro. Menurutnya, kecelakaan akibat jalan licin bukan lagi peristiwa yang bersifat insidental, melainkan persoalan berulang yang terus mengancam keselamatan masyarakat.

“Tumpahan minyak CPO ini sudah terlalu sering terjadi. Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah terjadi tabrakan beruntun atau ada kendaraan yang masuk ke jurang,” kata Taufiqurrahman.

Ia menilai kebocoran atau ceceran minyak dari armada pengangkut CPO seolah menjadi persoalan yang terus berulang tanpa pengawasan yang efektif. Hingga kini, menurutnya, belum terlihat langkah pencegahan yang mampu memastikan setiap kendaraan pengangkut CPO memenuhi standar keselamatan sebelum melintasi jalur pegunungan yang memiliki tanjakan dan turunan curam.

Menurut Taufiqurrahman, keluhan masyarakat mengenai kondisi jalan yang licin akibat tumpahan CPO telah berkali-kali disampaikan, baik melalui media sosial maupun pemberitaan media massa. Namun, kondisi tersebut masih terus terjadi sehingga pengguna jalan tetap menghadapi risiko kecelakaan setiap kali melintas.

“Kondisi ini tidak boleh dianggap hal biasa. Setiap pengendara yang melintas mempertaruhkan keselamatannya karena jalan licin akibat minyak yang tumpah,” ujarnya.

Sebagai langkah jangka panjang, Taufiqurrahman mendorong pemerintah mengevaluasi sistem distribusi CPO. Salah satu alternatif yang dinilai layak dipertimbangkan adalah mengalihkan sebagian pengangkutan melalui jalur laut guna mengurangi risiko kecelakaan di jalan raya, khususnya pada lintasan pegunungan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Apabila distribusi tetap dilakukan melalui jalur darat, ia meminta Dinas Perhubungan bersama instansi terkait membangun pos pemeriksaan (check point) di jalur yang dilalui armada pengangkut CPO. Pos tersebut diharapkan berfungsi memeriksa kelayakan kendaraan, memastikan tidak terjadi kebocoran pada tangki, serta melakukan pengawasan sebelum kendaraan memasuki kawasan pegunungan.

“Harus ada pos pemeriksaan kelayakan armada. Kendaraan yang tidak memenuhi standar jangan diizinkan melintas. Jika terjadi tumpahan, petugas juga bisa segera melakukan penanganan darurat, misalnya menaburkan pasir agar jalan tidak membahayakan pengguna jalan lainnya,” katanya.

Selain pengawasan terhadap armada, ia juga menilai perlu adanya prosedur tanggap darurat yang jelas agar setiap tumpahan minyak dapat segera dibersihkan sebelum memicu kecelakaan berikutnya.

Taufiqurrahman berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Dinas Perhubungan, aparat penegak hukum, serta perusahaan pengangkut CPO tidak lagi menunggu jatuhnya korban dengan tingkat keparahan yang lebih besar sebelum mengambil tindakan konkret.

“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai nyawa pengguna jalan dikorbankan hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa dicegah melalui pengawasan dan penegakan aturan,” ujarnya.

Bagi warga yang setiap hari melintasi Gunung Paro dan Gunung Kulu, tumpahan CPO bukan lagi sekadar persoalan kebersihan jalan atau gangguan lalu lintas. Ceceran minyak yang berulang telah berubah menjadi ancaman nyata terhadap keselamatan publik. Tanpa langkah pencegahan yang tegas, kecelakaan demi kecelakaan dikhawatirkan akan terus terjadi, bahkan berpotensi berubah menjadi tragedi yang merenggut lebih banyak korban.